Badminton Olimpiade: Hendra/Ahsan gagal raih medali perunggu di Tokyo

Hendra/Ahsan

Sumber gambar, Antara

Keterangan gambar, Hendra/Ahsan memastikan diri lolos ke semifinal setelah menyingkirkan pasangan tuan rumah, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, dalam laga tiga gim 21-14, 16-21, 21-9.
    • Penulis, Mohamad Susilo
    • Peranan, BBC News Indonesia

Pasangan ganda putra Indonesia, Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan, gagal meraih medali perunggu Olimpiade Tokyo setelah takluk dalam pertarungan tiga set melawan pasangan Malaysia, Aaron Chia/Wooi Yik Soh, di Musashino Forest Sports Plaza, Sabtu (31/7) WIB.

Hendra/Ahsan unggul pada set pertama dengan skor 21-17. Namun, mereka harus mengakui keunggulan ganda Malaysia pada set kedua dan set ketiga, 17-21 dan 14-21.

Baca juga:

Sebelumnya, pasangan Hendra/Ahsan yang dijuluki 'The Daddies' diyakini mampu melangkah jauh.

"Hendra/Ahsan ini sangat tenang di lapangan, tidak emosional ... mengontrol diri supaya permainan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang terjadi di lapangan. Itu sangat penting," kata peraih medali emas ganda putra Olimpiade 2000 di Sydney, Candra Wijaya, dalam wawancara dengan Mohamad Susilo.

Candra mengatakan faktor usia dan pengalaman membuat The Daddies -- demikian julukan untuk Hendra/Ahsan -- punya keunggulan dibanding pemain-pemain elite dunia saat ini.

Ia juga melihat Hendra/Ahsan sangat disiplin dan profesional, sesuatu yang harus ditiru oleh para pemain muda.

line

Pemain Indonesia yang berlaga pada semifinal bulutangkis Olimpiade 2020 di Tokyo:

  • Ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu, menghadapi Lee Sohee/Shin Seungchan (Korsel), Sabtu 31 Juli

Pemain Indonesia yang berlaga pada perempat final bulutangkis Olimpiade 2020 di Tokyo:

  • Tunggal putra Anthony Ginting, menghadapi Anders Antonsen (Denmark), Sabtu 31 Juli

Yang tersingkir:

  • Ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktvianti, dikalahkan oleh Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong (China), 17-21, 15-21
  • Tunggal putri Greogoria Mariska Tunjung, dikalahkan oleh Ratchanok Intanon (Thailand), 12-21, 19-21
  • Tunggal putra Jonatan Christie, dikalahkan oleh Shi Yuqi (China), 11-21, 9-21
  • Ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, dikalahkan oleh Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), 14-21, 17-21
line

Bermain tenang dan efektif menjadi kunci keberhasilan Hendra/Ahsan melewati babak perempat final.

"Hari ini kami menekan terlebih dulu, polanya bisa dapat serangan dulu," ujar Ahsan setelah menyingkirkan pasangan tuan rumah, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, dalam laga tiga gim 21-14, 16-21, 21-9, hari Kamis (29/07)., kepada tim media Komite Olimpiade Indonesia.

Hendra/Ahsan

Sumber gambar, Antara

Keterangan gambar, Hendra/Ahsan sama-sama sudah tiga kali terjun di Olimpiade. Hendra menyabet emas Olimpiade 2008 bersama Markis Kido.

"Tadi di gim kedua kami banyak mati sendiri, bolanya banyak tanggung juga. Jadi mereka lebih enak menekan kami. Selain itu, kami juga terlalu terburu-buru, bola tanggung malah out-out bolanya. Di gim ketiga kami coba lebih tenang dan main satu-satu dan tidak kencang terus jadi bikin mereka tidak enak," kata Hendra.

Pasangan veteran ini mengungkapkan pola permainan Kamura/Sonoda tidak berubah dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya.

"Pola permainan mereka kurang lebih sama dengan pola bola panjang-panjang. Jadi kami memang sudah antisipasi dan menerapkan pola yang sama juga ketika kami bisa menang dari mereka," ungkap Hendra.

Peraih medali emas Olimpiade cabang olah raga Bulu Tangkis

Susi Susanti (kanan) dan Alan Budikusuma (kiri) di podium kampiun Olimpiade 1992.
Susi Susanti (kanan) dan Alan Budikusuma (kiri) di podium kampiun Olimpiade 1992. Getty Images

Pemain tunggal putra Alan Budikusuma menyumbangkan medali emas Olimpiade untuk Indonesia untuk pertama kalinya setelah mengalahkan rekan setimnya, Ardy B. Wiranata pada 1992 silam di Barcelona, Spanyol.

Sementara pemain tunggal putri Susi Susanti mengalahkan delegasi Korea Selatan Bang Soo-hyun lewat tiga gim dengan skor 5-11, 11-5, 11-3 pada ajang yang sama.

Jed Jacobsohn /Allsport via Getty Images

Pemain ganda putra Rexy Mainaky dan Ricky Subagja merayakan kemenangan setelah membabat habis lawannya, pasangan dari Malaysian Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock (Malaysia), dengan skor 5-15, 15-13, 15-12 pada Olimpiade 1996 di Atlanta, Amerika Serikat.

Candra Wijaya (kiri) dan Tony Gunawan (kanan).
Candra Wijaya (kiri) dan Tony Gunawan (kanan). AP/ELAINE THOMPSON

Pemain ganda putra Candra Wijaya dan Tony Gunawan menaiki podium kampiun Olimpiade di Sydney, Australia setelah menaklukkan pemain Korea Selatan Lee Dong-soo/Yoo Yong-sung melalui pertandingan tiga set dengan skor 15-10, 9-15, dan 15-7. Keduanya menjadi satu-satunya penyumbang medali emas untuk Indonesia pada gelaran olah raga bergengsi dunia pada tahun tersebut.

Taufik sesaat setelah mencetak skor penentu di gim kedua pertandingan final Olimpiade pada 2004 silam.
Taufik sesaat setelah mencetak skor penentu di gim kedua pertandingan final Olimpiade pada 2004 silam. GOH CHAI HIN/AFP via Getty Images

Atlet Taufik Hidayat mengalahkan pemain tunggal putra asal Korea Selatan Shon Seung-Mo dalam dua gim, 15-8 dan 15-7 pada Olimpiade 2004 di Athena, Yunani.

Dean Mouhtaropoulos/Getty Images

Sempat kalah di gim pertama, pasangan ganda putra Hendra Setiawan dan Markis Kido akhirnya melawan balik dengan skor 12-21, 21-11, dan 21-16. Keduanya menyumbangkan medali emas untuk Indonesia setelah mengalahkan pasangan China Cai Yun dan Fu Haifeng pada Olimpiade 2008 di Beijing, China.

Dean Mouhtaropoulos/Getty Images

Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad and Liliyana Natsir merayakan kemenangannya pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, yang jatuh bersamaan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia. Keduanya menyumbangkan medali emas untuk tim Merah Putih setelah membabat habis lawannya asal Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Di babak semifinal hari Jumat (31/01), Hendra/Ahsan akan menghadapi pasangan Taiwan, Lee Yang/Wang Chi-Lin, yang menundukkan pasangan kuat tuan rumah dan juara All England 2020 dan 2021, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe dua gim langsung, 21-16, 21-19.

Mengomentari laga di semifinal, Hendra mengatakan, "Untuk besok [hari Jumat] harus lebih siap lagi, lebih berani karena lawan juga makin berat. Kami harus in dari awal, tidak boleh kalah start. Kami siap bertemu siapa pun."

Kevin/Marcus

Sumber gambar, Antara

Keterangan gambar, Kevin/Marcus, unggulan pertama ganda putra, kalah dari pemain Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik, di babak perempat final.

Pelatih ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi, mengatakan di ajang sekelas Olimpiade, faktor yang jauh lebih menentukan kemenangan adalah faktor pengalaman dan mental, yang membuat pemain bisa lebih tenang dan bisa keluar dari tekanan lawan.

"Hendra dan Ahsan sudah tiga kali tampil di Olimpiade, jadi mereka bisa mengatasi [tekanan di lapangan]. Saya yakin mereka bisa mengatasi tekanan mental, mengatur semangat, ambisi, keinginan ... harapannya Hendra/Ahsan bisa mengatasi persoalan mental," kata Herry dalam video yang dirilis Komite Olimpiade Indonesia.

Herry mengatakan Hendra/Ahsan harus bisa bermain variatif, menggabungkan permainan cepat dan pelan.

"Harus ada irama, diubah-ubah, ada cepat dan pelan. Kalau cepat terus tidak bisa, karena dari sisi usia, Hendra/Ahsan sulit mengimbangi pemain-pemain muda yang mengandalkan speed [kecepatan] dan power [kekuatan]," kata Herry.

Hendra adalah peraih emas ganda putra Olimpiade 2008 di Beijing bersama Markis Kido.

Pemain berusia 36 tahun ini juga tercatat raih emas di Kejuaraan Dunia 2007, 2013, 2015, dan 2019.

Bersama Ahsan, ia juga menjuarai All England 2014 dan 2019.

Saat ini, Hendra/Ahsan adalah ganda putra peringkat dua dunia.

Peringkat satu dunia Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon gagal maju ke semifinal setelah dipaksa mengakui keunggulan pasangan Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik, 14-21, 17-21.

Bagi Aaron Chia/Soh Wooi Yik ini adalah kemenangan pertama dalam delapan kali pertemuan.

Marcus menjelaskan, ia dan Kevin sebenarnya sudah menjalani persiapan dengan baik, namun tekanan di Olimpiade cukup memengaruhi penampilan mereka.

Candra dan Tontowi

Sumber gambar, Candra Wijaya/Instagram

Keterangan gambar, Candra dan Tontowi, dua pemain bulutangkis Indonesia yang sama-sama meraih medali emas di Olimpiade.

"Faktor tekanan ke kami banyak, diharapkan menang atau membawa pulang medali. Tapi, sebenarnya semua pemain yang tampil di Olimpiade ini kan [kemampuannya] seimbang dan kita semua tidak ada yang tahu seperti apa," kata Marcus dalam rilis yang dikeluarkan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

"Permainan kami memang di bawah tekanan, kami juga sangat ingin menang. Sementara lawan bermain nothing to lose [bermain lepas] dan permainan mereka memang lebih baik dari kami," kata Marcus.

Tekanan yang sangat besar ini diakui oleh pelatih Herry IP.

"Tekanannya besar dan saya bisa memahami. Mereka ini kan unggulan pertama dan [ada tuntutan] harus menang. Dan mereka tak bisa lepas dari tekanan ini. Dan itu tak hanya Kevin/Marcus, [pemain tunggal Jepang] Kento Momota juga mengalaminya," kata Herry.

"Di ajang sebesar Olimpiade, kita tak lagi mempersoalkan faktor teknik. Siapa yang lebih siap secara mental, siapa yang berani keluar dari tekanan, dialah yang menang. Saya berharap Kevin/Marcus belajar banyak dari pengalaman yang sangat berharga ini. Kevin/Marcus kan baru kali ini tampil di Olimpiade," katanya.

Baca juga:

Peraih emas ganda putra Olimpiade 2000 di Sydney, Candra Wijaya, mengatakan persiapan atau antisipasi faktor nonteknis sangat penting.

"Bermain lepas membuat pasangan Malaysia yang menjadi lawan Kevin/Marcus menjadi lebih ungguh [dan akhirnya menang] ... saya bisa merasakan [situasi yang dihadapi Kevin/Marcus]. Memang sulit keluar dari tekanan atau situasi sulit," kata Candra.

Situasi sulit ini, kata Candra, bisa diatasi dengan kesiapan dan jam terbang.

Herry IP

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Herry IP mengakui Kevin/Marcus kesulitan keluar dari tekanan di lapangan.

Dalam konteks ini, bisa dipahami jika Hendra/Ahsan bisa lebih ungul di sisi mental ataupun faktor nonteknis.

"Dengan begitu bisa lebih tenang di lapangan, bermain taktis, hati-hati, menempatkan bola dengan akurat, dan sangat minimal melakukan kesalahan sendiri. Intinya kontrol The Daddies lebih bagus," kata Candra.

Candra mengatakan bermain tenang bisa sangat membantu performa di lapangan.

"Konsentrasi satu demi satu di lapangan, jangan bermain terburu-buru atau bermain tegang, sehingga bisa lebih rileks dan tenang," kata Candra, peraih emas Olimpiade bersama Tony Gunawan.

Cabang bulutangkis adalah tambang medali emas bagi kontigen Indonesia. Sejak pertama kali dipertandingkan pada Olimpiade 1992 di Barcelona hingga Olimpiade 2016 di Rio, medali emas selalu diraih.

Tradisi ini sempat putus ketika para pemain Indonesia gagal menyumbangkan emas di Olimpiade 2012 di London.

Di Olimpiade Tokyo 2020, kontingen Indonesia menerjunkan 11 pemain.

Mereka adalah Anthony Ginting (tunggal putra), Jonatan Christie (tunggal putra), Gregoria Mariska Tunjung (tunggal putri), Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (ganda putra), Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan (ganda putra), Greysia Polii/Apriyani Rahayu (ganda putri), dan Melati Daeva Oktavianti/Praveen Jordan (ganda campuran).

Pemain yang terhenti langkahnya antara lain adalah Kevin/Marcus, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, dan Gregoria Mariska Tunjung.