Olimpiade Tokyo: Pesan Candra dan Owi, peraih emas Olimpiade, untuk pebulutangkis Indonesia - 'Tenang di lapangan, jangan menyerah sampai poin terakhir'

Sumber gambar, EPA
- Penulis, Mohamad Susilo
- Peranan, BBC News Indonesia
Cabang bulutangkis adalah tambang medali emas bagi kontigen Indonesia. Sejak pertama kali dipertandingkan pada Olimpiade 1992 di Barcelona hingga Olimpiade 2016 di Rio, medali emas selalu diraih.
Tradisi ini sempat putus ketika para pemain Indonesia gagal menyumbangkan emas di Olimpiade 2012 di London.
Tak mudah memang, karena persaingan yang begitu ketat dan bagi atlet, emas Olimpiade adalah segala-galanya. Emas adalah konfirmasi prestasi puncak.
Namun tentu saja bukan sesuatu yang mustahil untuk diraih.
Candra Wijaya adalah salah satu peraih medali emas. Ia bersama Tony Gunawan meraih emas Olimpiade 2000 di Sydney setelah di babak final ganda putra mengalahkan pasangan andal Korea Selatan, Lee Dong Soo/Yoo Yong Sung dengan rubber set, 15-10, 9-15, dan 15-7.
Candra mengatakan bermain tenang bisa sangat membantu performa di lapangan.
"Konsentrasi satu demi satu di lapangan, jangan bermain terburu-buru atau bermain tegang, sehingga bisa lebih rileks dan tenang," kata Candra dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo.
Baca juga:
Pengalaman membuktikan, dengan bermain tenang, tekanan lawan biasa diatasi. Dengan bermain tenang dan sabar, ketertinggalan poin bisa dikejar.

Sumber gambar, Candra Wijaya/Instagram
Candra menjelaskan kondisi fisik dan mental menjadi sangat penting karena rata-rata pemain elite dunia yang tampil di Olimpiade memiliki kemampuan teknik yang setara.
"Jadi yang utama adalah menjaga kondisi fisik agar tetap bagus, konsentrasi yang prima, dan juga menjaga kondisi nonteknis agar bisa terkontrol dengan baik," kata Candra.
Modal seperti ini mengantarkan Candra meraih medali emas Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Kejuaraan Asia, dan Asian Games.
Ia ikut pula mengantarkan tim Indonesia tiga kali menjuarai Piala Thomas, yaitu pada 1998, 2000, dan 2002.
Candra juga pernah menjuarai All England, turnamen bulutangkis tertua dan paling bergengsi di dunia.
Selain itu, Candra juga mengatakan tampil di Olimpiade adalah momen spesial.
"Rasanya tentu senang sekali ya bisa mewakili Indonesia di ajang Olimpiade ... sangat-sangat disyukuri, rasanya beda dengan saat di All England, meski All England juga adalah turnamen bergengsi," ujar Candra, yang kini aktif membina atlet-atlet muda.
'Jangan gampang menyerah, selalu optimistis'
Yang juga menyabet medali emas Olimpiade adalah Tontowi Ahmad.
Bersama Liliyana Natsir, Owi -- demikian Tontowi biasa disapa -- meraih emas ganda campuran Olimpiade 2016 di Rio, Brasil. Di partai puncak, Tontowi/Liliyana berhasil menyudahi perlawanan pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dua set langsung, 21-14 dan 21-12.

Sumber gambar, Getty Images
Tontowi mengatakan semua atlet pasti sudah menyiapkan diri semaksimal mungkin sebelum terjun di Olimpiade.
"Persiapan sudah bagus, ya sudah tinggal usaha di lapangan. Yang pasti, jangan mudah menyerah [di lapangan]. Dalam kondisi apa pun, jangan menyerah. Sebelum lawan meraih poin 21, pertandingan belum berakhir," kata Tontonwi.
"Apa pun yang terjadi, fokus meraih satu demi satu poin. Jangan langsung mengincar medali emas, yang penting setiap babak dilewati, dijalani, jangan gampang menyerah dan harus selalu optimistis," kata Tontowi.
Ia mengatakan setiap pemain punya kelebihan masing-masing, yang membuat persaingan meraih emas di Olimpiade menjadi sangat ketat. Itu sebabnya, setiap pemain yang lolos ke Olimpiade punya kans untuk menyabet medali.
"Makanya, lagi-lagi, semuanya kembali ke atlet, bagiaman mereka mengontrol diri mereka sendiri di lapangan. Di lapangan kan mungkin pemain mereka tertekan, ada tekanan dari lawan, juga tekanan dari diri sendiri. Dalam situasi inilah, pemain harus bisa mengatasi keadaan," kata Tontowi.
"Jadi, ya penentunya [sebenarnya] adalah diri sendiri," katanya.
Tontowi dan Liliyana melakukan persiapan khusus sebelum terjun di Olimpiade Rio. Dari sisi fisik, keduanya meningkatkan volume latihan dari dua-tiga kali, menjadi tiga-empat kali sehari.

Sumber gambar, NOC Indonesia
Mereka secara khusus juga memberi perhatian pada aspek mental.
"Kami berkonsultasi dengan psikolog untuk membangun motivasi dan untuk mengetahui lebih jauh pasangan kita [agar makin kompak]," ungkap Tontowi.
"Bisa dikatakan persiapan kami memang luar biasa," katanya.
Persiapan yang membuahkan hasil, ditandai dengan diraihnya medali emas Olimpiade Rio.
Selain emas Olimpiade, Tontowi meraih emas Kejuaraan Dunia (dua kali), Kejuaraan Asia (satu kali), dan SEA Games (dua kali), plus menjuarai All Eangland pada 2012, 2013, dan 2014.
Kontingen Indonesia menerjunkan 11 pemain di Olimpiade 2020 di Tokyo.
Mereka adalah Anthony Ginting (tunggal putra), Jonatan Christie (tunggal putra), Gregoria Mariska Tunjung (tunggal putri), Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (ganda putra), Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan (ganda putra), Greysia Polii/Apriyani Rahayu (ganda putri), dan Melati Daeva Oktavianti/Praveen Jordan (ganda campuran).
Di pundak mereka tradisi emas Indonesia ditumpukan.
Baca juga:

Sumber gambar, Tontowi Ahmad/Instagram
Juru bicara Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) Broto Happy mengatakan, melihat modal pemain, yang berpeluang meraih emas ada di ganda putra.
"Di Olimpiade Tokyo, dua pasangan Indonesia, Kevin/Gideon dan Hendra/Ahsan menduduki peringkat satu dan peringkat dunia. Artinya mereka memang pemain-pemain ini adalah pasangan terbaik di dunia saat ini," kata Broto.
Medali juga diharapkan disumbangkan oleh pasangan ganda campuran Praveen/Melati, yang pada 2020 sukses menjuarai All England.
Dari deretan pemain yang dikirim ke Tokyo, Hendra pernah meraih emas di Olimpiade 2008 di Beijing saat berpasangan dengan Markis Kido.
Tradisi emas Indonesia diawali oleh Susy Susanti dan Alan Budikusuma yang meraih emas tunggal putra dan tunggal putri Olimpiade 1992 di Barcelona.
Empat tahun kemudian, di Atlanta, medali emas disumbangkan oleh pasangan ganda putra Rexy Mainaky/Ricky Subagja.
Pada Olimpiade 2000 di Sydney, emas disumbangkan oleh ganda putra Candra Wijaya/Tony Gunawan.
Pemain tunggal putra Taufik Hidayat meraih emas di Olimpiade 2004 di Athena. Tradisi emas terputus di Olimpiade 2012 di London.
Pada Olimpiade 2016 di Rio, medali emas diraih oleh pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.














