All England: Tak seperti Jepang atau China, pemain bulu tangkis Indonesia dinilai 'terlalu mudah menyerah'

Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Para pemain Jepang, seperti Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara, dianggap punya mental baja dan tak mudah menyerah.
    • Penulis, Mohamad Susilo dan Dwiki Marta
    • Peranan, BBC News Indonesia

Pasangan ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, secara dramatis menang di babak final ganda putri turnamen Indonesia Masters 2020, dengan mengalahkan pasangan Denmark, Maiken Fruergaard/Sara Thygesen, 18-21, 21-11 dan 23-21.

Greysia/Apriyani dua kali tertinggal di fase terakhir set ketiga, set penentuan.

Duo ini mengejar saat posisi tertinggal 19-20 dan 20-21. Lawan hanya butuh satu poin saja untuk bisa juara.

Dua kali pula, match point bisa disusul. Tak heran jika kemenangan ini disambut gembira penonton yang memadati Istora Jakarta. Stadion seakan pecah.

Tidak sering pemain Indonesia menang seperti ini.

Usai pertandingan, Greysia dan Apri mengatakan di saat-saat akhir set ketiga mereka memang tak mau menyerah.

"Pokoknya bagaimana caranya bolanya tidak mati. Itu saja," kata Greysia menjawab pertanyaan BBC News Indonesia.

Padahal, kata Greysia, fisiknya dan fisik Apri sudah sangat payah dan otak juga tak bisa diajak berpikir.

Bahkan, instruksi pelatih dari pinggir lapangan tak bisa dicerna dengan sempurna.

"Kami cuma bilang iya iya saja," kata Greysia.

Kegigihan mereka berakhir manis. Pasangan Denmark membuat kesalahan dan Greysia/Apri menutup set ketiga dengan 23-21.

Kisah Greysia dan Apri sangat mirip dengan penuturan ganda putri Denmark, Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl, yang menjuarai ganda putri All England tahun 2018.

Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dalam perjalanan menuju juara di All England 2018, pasangan Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl mengalami gangguan fisik. Tapi masalah ini mereka sembunyikan.

Dalam perjalanan menuju juara, salah satunya mengalami cidera dan menahan rasa sakit di lapangan.

Namun, demi meraih kemenangan, rasa sakit itu mereka sembunyikan. Padahal sakitnya luar biasa.

Persoalannya, kata Pedersen/Juhl, jika lawan tahu satu dari mereka kesakitan, maka lawan berada di atas angin dan tentu akan memberian tekanan yang lebih besar.

Rasa sakit bisa ditahan dan akhirnya mereka juara.

Untuk urusan kengototan, banyak yang mengatakan para pemain Indonesia perlu menengok fighting spirit (daya juang) pemain China atau Jepang.

Yoppy Rosimin, direktur Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Djarum di Kudus, Jawa Tengah, mengatakan "faktor lingkungan membuat pemain-pemain Jepang punya mental baja".

"Seseorang yang punya bakat istimewa di Indonesia, ia belum tentu jadi [pemain hebat]. Tapi kalau seseorang dengan bakat istimewa di Jepang, ia pasti jadi. Karena apa? Karena lingkungan membentuk dia seperti itu. Secara fighting spirit, Jepang lebih tangguh," kata Yoppy.

"Kita lebih punya seni. Tapi belum tentu stabil. Kadang bagus, kadang nggak," katanya.

Mantan pemain tunggal putri yang sekarang menjabat sebagai ketua bidang pembinaan dan prestasi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Susy Susanti, punya pendapat senada.

"[Para pemain Jepang] mereka di lapangan pantang menyerah. Luar biasa sekali ... sampai poin-poin terakhir mereka tak pernah menyerah," kata Susy.

"Begitu juga dengan para pemain China. Dengan kultur kerja keras, para pemain China tidak gampang menyerah," katanya.

Anthony Ginting

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Anthony Ginting mengatakan persoalan daya juang dialami oleh semua pemain.

Peraih medali emas tunggal putri Olimpiade 1992 di Barcelona ini mengatakan anak-anak muda di Indonesia "kurang tangguh".

"Kalau dibilang karena terpengaruh kultur, mungkin bukan itu penyebabnya. Kita kan punya istilah 'Merdeka atau Mati'. Kalau diterapkan di lapangan [menjadi] 'Menang atau Mati'. Tapi kadang, [muncul sikap] ya sudahlah, cepat menyerah. Mungkin sekarang ini semua mudah, jadi terbawa ke lapangan," kata Susy memberi analisis.

Pemain ganda putra Indonesia, Muhammad Rian Ardianto, mengakui, selain punya disiplin yang tinggi para pemain Jepang memang tidak gampang menyerah.

"Mereka disiplin dan tidak gampang menyerah. Mereka kejar terus ke mana arah bola. Meskipun jauh, bola itu tetap merek kejar," kata Rian yang berpasangan dengan Fajar Alfian ini.

"Saya setuju kalau para pemain harus tangguh [mentalnya]. Fighting spirit itu nomor satu. Meski kita tertinggal jauh, dengan fighting spirit, tak ada yang tak mungkin," kata Rian.

"Kalau kita tertinggal, apalagi fisik sudah capek, tak boleh ada pikiran untuk menyerah. Kita harus tetap berusaha semaksimal mungkin," katanya.

Pelatih bulu tangkis Ellen Angelinawaty -- yang pernah menjuarai Indonesia Open pada 2001 -- mengatakan dari sisi sumder daya manusia, para pemain Jepang memang terkenal ulet.

"Secara karakter mereka ulet, tidak mau kalah, padahal dari segi postur mereka tidak begitu tinggi. Tapi ketahanan, kemauan, dan ulet luar biasa di lapangan," kata Ellen.

Susy Susanti

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Mantan pemain tunggal putri Susy Susanti mengatakan mental pantang menyerah bisa dibentuk melalui latihan.

Bagaimana mengatasi masalah gampang menyerah ini?

Susy Susanti mengatakan mental pantang menyerah bisa dibentuk melalui latihan.

"Juga melalui masukan dan nasihat untuk memotivasi para pemain agar kuat bertahan, punya tekat kuat untuk menang," katanya seraya menambahkan gelar juara bukan hal yang gampang didapat.

Untuk juara jelas perlu kerja keras, kata Susy.

Pemain tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, mengatakan lemahnya fighting spirit bukan masalah pemain Indonesia saja.

"Setiap pemain dunia mengalaminya. Dalam keadaan seperti itu, pemain harus benar-benar fokus, dari mulai awal hingga akhir pertandingan," kata Ginting.

Masalah kurang ngotot sudah menjadi pemikiran klub-klub badminton.

PB Djarum misalnya memiliki sesi khusus yang ditujukan untuk membiasakan para pemain dalam posisi kritis, dengan harapan saat berada dalam situasinya yang sesungguhnya, mereka bisa melewatinya.

"Kami ada latihan tiga poin tiga poin, seperti format deuce. Dengan menggunakan format seperti ini, [harapannya] akan ada pressure (tekanan) bagi pemain karena mainnya pendek dan semua harus fokus," kata Yoppy Rosimin, direktur PB Djarum.