Rasisme dalam sepak bola: Empat orang ditahan, dan pernyataan Marcus Rashford 'saya tidak akan minta maaf karena jati diri saya'

Jadon Sancho dan Marcus Rashford

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Jadon Sancho dan Marcus Rashford serta Bukayo Saka menghadapi pelecehan rasial setelah gagal penalti.
Waktu membaca: 7 menit

Empat orang ditahan setelah para pemain timnas Inggris menjadi sasaran pelecehan rasial setelah kekalahan dalam Final Piala Eropa 2020 melawan Italia.

Marcus Rashford, Bukayo Saka dan Jadon Sancho menjadi sasaran setelah gagal mencetak gol dalam adu penalti.

Pejabat kepolisian Inggris Mark Roberts mengatakan pelecehan itu "sangat keji".

"Bila kami ketahui Anda berada di balik kejahatan ini, kami akan melacak anda dan Anda akan menghadapi konsekuensi serius tindakan memalukan ini," katanya.

Unit kebijakan sepak bola Inggris mengatakan tim mereka tengah menyelidiki "sejumlah laporan signifikan terkait pelecehan rasial."

Mark Roberts, yang memimpin peraturan terkait sepak bola dalam kepolisian, mengatakan pelecehan rasial itu "sangat mengejutkan dan memprihatinkan semua pihak di seluruh negara."

"Tim Inggris kita merupakan panutan dalam turnamen sepak bola ini dan bersikap secara profesional. Saya merasa muak dengan orang-orang yang merasa pelecehan ini dapat dibenarkan."

Ia mengatakan penyelidikan akan dilanjutkan untuk mencari mereka yang bertanggung jawab dan kepolisian bekerja sama dengan pihak sosial media termasuk, Facebook, Instagram danTwitter.

Marcus Rashford mural

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, "You make us proud" - the graffiti has been covered up with supportive messages from the public

Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka gagal mencetak gol dalam adu penalti yang berakhir dengan kekalahan Inggris.

Selain pelecehan rasial di media sosial, sebuah mural Rashford dirusak oleh vandal dengan kata-kata makian, serta nama "Saka".

Bagian dari mural yang dirusak itu, di sebuah tembok di kampung halaman Rashford di Manchester selatan, kini ditutupi dengan pesan-pesan dukungan.

Rashford mengatakan ia "hampir menitikkan air mata" ketika membaca pesan-pesan tersebut.

Ia menerbitkan sebuah pernyataan publik, mengatakan bahwa ia "tidak akan pernah meminta maaf karena jati diri saya".

Sementara Saka maupun Sancho belum berkomentar secara publik mengenai pelecehan ini, namun rekan-rekan satu tim, kawan-kawan, dan komunitas mereka telah menyuarakan dukungan.

Marcus Rashford

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Marcus Rashford adalah satu dari tiga pemain Inggris yang gagal mencetak gol dalam adu penalti di babak final Euro 2020

Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, mengatakan bahwa pelecehan rasis yang dilontarkan setelah kekalahan di Euro "tidak bisa dimaafkan". PM Inggris, Boris Johnson, dan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga telah mengecamnya.

Kepolisian Metropolitan London sedang menyelidiki pelecehan ini dan mengatakan "ini tidak akan ditoleransi", sementara UK Football Policing Unit (UKFPU) juga telah memulai investigasi.

"Saya merasa telah mengecewakan semua orang," tulis Rashford dalam pernyataan publiknya.

Pemain berusia 23 tahun itu menambahkan: "Saya dapat menerima kritik atas kinerja saya seharian penuh, penalti saya tidak cukup baik, harusnya bisa gol tetapi saya tidak akan pernah meminta maaf karena jati diri saya dan tempat asal saya.

"Saya tidak pernah merasakan momen yang lebih membanggakan dari ketika mengenakan tiga singa itu (lambang timnas Inggris) di dada saya dan menyaksikan keluarga saya menyemangati saya di antara puluhan ribu penonton.

"Saya Marcus Rashford, laki-laki 23 tahun dari Withington dan Wythenshawe, South Manchester. Kalau saya tak punya apa-apa, setidaknya saya punya itu. Untuk semua pesan baik, terima kasih. Saya akan kembali lebih kuat. Kita akan kembali lebih kuat."

Pada 2020, Rashford mendapat penghargaan dari Ratu Inggris untuk jasanya kepada anak-anak dari keluarga rentan saat pandemi setelah menggalang dana £20 juta () untuk menyediakan makanan bagi anak-anak yang terancam tidak bisa makan.

Bukayo Saka

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Bukayo Saka adalah satu di antara beberapa pemain yang menjadi sasaran hinaan rasialis di dunia maya.

Dalam pernyataan di situs web resminya, Arsenal, klub tempat Saka bermain, menulis: "Pesan kami kepada Bukayo adalah: tetap merasa bangga, kami sangat bangga kepada Anda dan kami tidak sabar menyambut Anda ketika Anda pulang ke Arsenal tak lama lagi."

Sementara itu para penggemar mengirimkan ribuan komentar dukungan kepada para pemain di profil media sosial mereka.

"Tetap semangat bro. Kami mencintaimu," tulis seorang penggemar di laman Instagram Sancho, sementara penggemar lain berkata: "Jangan khawatir, kamu telah membuat kami bangga."

Tingkat pelecehan di media sosial

Asosiasi Pesepakbola Profesional Inggris (PFA) mengatakan bahwa data yang dibagikan dengan saluran televisi Channel 3 news setelah laga final Euro 2020 menyoroti bahwa lebih dari 850.000 twit dianalisis selama keseluruhan turnamen dan menunjukkan:

  • 1.913 twit bernada melecehkan, khususnya menyasar Jadon Sancho, Bukayo Saka, Marcus Rashford, dan Raheem Sterling
  • 167 kiriman dianggap sebagai pelecehan yang "berisiko tinggi"
Para pesepak bola berlutut

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Para pemain Inggris dan Italia serempak berlutut di babak final Euro 2020.

PFA mengatakan bahwa, meskipun sejumlah twit ini telah dihapus, akun-akun yang mengirimkannya belum dihapus secara permanen oleh Twitter.

"Analisis awal kami mengindikasikan bahwa volume pelecehan yang ditandai seputar final Euro 2020, ditujukan terutama pada Jadon Sancho, Bukayo Saka, Marcus Rashford, dan Raheem Sterling, lebih tinggi daripada pelecehan selama keseluruhan turnamen," PFA menambahkan.

Twitter mengatakan mereka telah menghapus lebih dari 1000 kiriman selama 24 jam terakhir dan menunda sejumlah akun karena melanggar aturannya.

Facebook mengatakan mereka baru-baru ini mengumumkan penindakan yang lebih tegas terhadap pelecehan di platform Instagram, termasuk menghapus secara permanen akun-akun yang berulang kali mengirimkan pesan langsung (direct message, DM) bernada melecehkan.

'Anda bukan penggemar Inggris dan kami tidak menginginkan Anda'

Kini muncul percakapan baik di komunitas olahraga maupun masyarakat yang lebih luas di Inggris mengenai rasisme dan cara menghentikannya.

Kapten timnas Inggris Harry Kane mengatakan kepada mereka di balik pelecehan rasial terhadap Rashford, Sancho, dan Saka: "Anda bukan penggemar Inggris dan kami tidak menginginkan Anda."

Sang striker Tottenham menambahkan di Twitter: "Mereka berhak mendapatkan dukungan, bukan makian kotor dan rasis yang mereka terima sejak semalam.

"Tiga pemuda yang brilian sepanjang musim panas memberanikan diri untuk maju dan melakukan tendangan penalti saat taruhannya besar

"Kalau Anda melecehkan siapapun di media sosial Anda bukan penggemar Inggris dan kami tidak menginginkan Anda."

Tyrone Mings

Sumber gambar, PA Media

Keterangan gambar, Tyrone Mings

Pemain belakang Tyrone Mings juga menggunakan Twitter untuk berbicara tentang rasa bangganya pada timnas Inggris karena berhasil mencapai final, namun menambahkan: "Bangun tidur hari ini dan melihat saudara-saudara saya dilecehkan secara rasial karena cukup berani untuk menempatkan diri mereka dalam posisi untuk menolong negeri ini, adalah sesuatu yang memuakkan, tetapi tidak mengejutkan saya."

Ia kemudian mengkritik Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel, yang ia tuding berpura-pura merasa jijik terhadap pelacehan rasial, setelah menyebut aksi beberapa pemain berlutut saat lagu kebangsaan dimainkan sekadar "politik gestur".

Aksi berlutut telah menjadi simbol yang mencolok di olahraga dan selama protes anti-rasialisme dalam beberapa tahun terakhir, dan beberapa pemain Inggris melakukannya pada awal pertandingan mereka.

Menulis di Twitter pada Minggu sore, Mings berkata: "Anda tidak bisa menyulut api pada awal turnamen dengan melabeli pesan anti-rasialisme kami sebagai 'Politik Gestur' dan kemudian berpura-pura merasa jijik ketika hal yang kami protes terjadi."

Perdana Menteri Boris Johnson dan anggota-anggota lain pemerintahan Konservatifnya juga dikritik karena tidak mengecam penggemar yang mengolok-olok pemain Inggris yang berlutut pada awal turnamen.

Berbicara kepada mereka yang mengirimkan ujaran melecehkan di dunia maya setelah pertandingan hari Minggu, sang PM mengatakan: "Anda harusnya malu - saya harap Anda akan merayap kembali ke bawah batu tempat asal Anda."

Komentar senada juga diucapkan Sir Keir Starmer, pemimpin oposisi Partai Buruh, yang mengatakan pelecehan tersebut "sangat mengerikan".

Namun ia berkata komentar Johnson datang terlambat: "Perdana menteri tidak mengecamnya [di awal] dan tindakan dan diamnya seorang pemimpin ada konsekuensinya, jadi sayang sekali kata-kata perdana menteri terdengar hampa."

Sejarah rasisme di sepak bola

Rasisme di sepak bola bukanlah hal baru.

Mantan pemain sayap Liverpool John Barnes telah menceritakan rasisme yang ia alami dalam kariernya. Barnes terkenal pernah menendang kulit pisang keluar lapangan dalam satu pertandingan di Everton pada 1988.

"[Rasisme] telah terdokumentasikan dengan baik selama bertahun-tahun," katanya kepada BBC pada 2018, menyusul insiden lain ketika seorang pemain - kali ini Raheem Sterling - menjadi sasaran pelecehan rasial.

"Bagi pemain kulit hitam manapun di tahun 1980-an itu berupa teriakan rasis yang selalu sama, pisang di lapangan - sesuatu yang diterima sebagai bagian dari masyarakat dan sepak bola."

Bagi Barnes, rasisme dalam olahraga adalah bagian dari masalah yang lebih luas.

"Lupakan tentang sepak bola, kita harus berhenti mengotak-kotakannya dan melihatnya sebagai masalah di sepak bola sementara masyarakat lainnya baik-baik saja," ujarnya.

"Kita harus memandangnya secara holistik dan secara utuh dan mengatakan mari kita lawan rasisme dan diskriminasi dalam hidup. Baru kemudian Anda bisa menghapusnya dari sepak bola."

Sancho

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Jadon Sancho mendapat banyak hinaan di media sosial menyusul laga final pada hari Minggu lalu.

Meskipun rasisme di sepak bola masih ada, ia telah jauh berkurang sejak tahun 1980-an - menurut Profesor Ellis Cashmore, sosiologis dan pakar dalam rasisme sepak bola, di Universitas Aston.

"Hari ini, rasisme sangat jauh dari level pada tahun 1980-an dan sungguh luar biasa ia masih menempel pada sepak bola, mengingat olahraga ini memiliki begitu banyak keragaman.

"Namun dalam sepak bola tampaknya tradisi rasis tetap awet," ujarnya.

Pada 2014, Profesor Cashmore melakukan studi yang melibatkan 2.500 penggemar sepak bola anonim dalam upaya mengungkap sikap terhadap rasisme.

Ia menemukan bahwa setengah dari semua penggemar pernah menyaksikan atau mengalami satu bentuk rasisme dalam sepak bola Inggris.

Seseorang yang merespon pada survei tersebut mengatakan bahwa meskipun rasisme tidak sevokal dahulu, "siapapun yang rutin menghadiri pertandingan sepak bola akan mengatakan bahwa nuansa rasisme masih ada dan masih hidup."

Hanya beberapa minggu lalu, Rashford berkata ia menerima "setidaknya 70 hinaan rasis" di media sosial menyusul kekalahan Manchester United dari Villareal di Liga Eropa pada bulan Mei.

Pesan dukungan

Di dunia olahraga, beberapa tokoh terkenal telah menyuarakan dukungan kepada para pemain Inggris.

Hentikan X pesan
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan

"Perilaku menjijikan dari segelintir orang, menunjukkan bahwa masih banyak yang perlu dilakukan," kata pembalap F1 Lewis Hamilton dalam sebuah unggahan di laman Instagramnya.

"Saya berharap ini membuka percakapan tentang penerimaan. Kita harus mewujudkan masyarakat yang tidak mengharuskan pemain kulit hitam menunjukkan nilai atau tempatnya di masyarakat hanya melalui kemenangan.

"Pada akhirnya semua orang di tim Inggris harus bangga akan pencapaian mereka dan cara mereka mewakili kita."

Sementara itu para penggemar terus memberikan penghormatan kepada idola mereka, dan merayakan fakta bahwa Inggris mencapai final turnamen besar untuk pertama kalinya sejak 1966, ketika mereka memenangkan Piala Dunia.

Dua bersaudara Ezra dan Dylan bersama ayahnya Tom
Keterangan gambar, Dua bersaudara Ezra dan Dylan mengunjungi mural bersama ayah mereka Tom, yang mengatakan bahwa Rashford adalah "panutan bagi dua putra saya".

Dua bersaudara Ezra dan Dylan termasuk di antara mereka yang turut memberikan pesan dukungan pada mural Rushford setelah "dibuat jijik" oleh vandalisme.

"Dia membela anak-anak dan dia membela apa yang ia yakini dan ia telah menjadi panutan bagi dua putra saya serta banyak orang di negeri ini," kata ayah mereka Tom.

"Melakukan penalti di bawah semua tekanan itu adalah hal yang berani dan sangat mudah mengkritik seseorang dari bangku penonton.

"Kami merasa sangat buruk tentang apa yang terjadi. Dan jika Anda bisa datang dan... menunjukkan dukungan Anda maka itu hal kecil yang dapat Anda lakukan untuk membuat perbedaan."