Twitter akan temui komunitas sepak bola Inggris setelah dikritik terkait rasisme

Paul Pogba setelah gagal penalti melawan Wolves

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Paul Pogba adalah pesepak bola terbaru yang diklaim menerima cercaan bernada rasis secara daring — pelecehan ketiga yang terjadi dalam musim laga yang baru dimulai beberapa pekan saja.

Twitter menyatakan akan bertindak secara proaktif untuk melawan rasisme terhadap pesepak bola Inggris yang meningkat di platform daringnya belakangan ini.

Dalam beberapa pekan terakhir, tiga pesepak bola di Liga Inggris diklaim mengalami pelecehan bernada rasis melalui media sosial.

Kelompok kampanye antirasisme Kick It Out juga mencatat peningkatan drastis pelecehan bernada rasis di dunia sepak bola setahun terakhir.

Korban terbaru rasisme adalah gelandang Manchester United, Paul Pogba yang diklaim mengalami pelecehan rasis sesudah gagal mengeksekusi penalti ketika timnya ditahan imbang oleh Wolverhampton Wanderers.

Seruan boikot

Dalam pernyataannya, Twitter mengatakan bahwa mereka "selalu mengedepankan dialog yang sehat dan terbuka dengan mitra" dan setuju untuk bekerja lebih keras demi melindungi para penggunanya.

Sebelumnya pada hari Selasa (20/08), manajer timnas sepak bola putri Inggris, Phil Neville, menyerukan agar para pesepak bola "memboikot" media sosial demi menyampaikan pesan bahwa rasisme dan segala perundungan di dunia maya tidak bisa diterima.

Seiring dengan seruan itu, Twitter menyatakan akan melakukan langkah proaktif dengan menemui Manchester United dan Kick It Out serta pihak lain yang dianggap perlu untuk mengatasi rasisme di platform mereka.

Phil Neville saat mengumumkan anggota timnas perempuan Inggris untuk laga persahabatan bulan Agustus 2019

Sumber gambar, Nigel French/PA

Keterangan gambar, Seruan untuk memboikot media sosial dari Phil Neville ini adalah kritik paling keras yang dinyatakan oleh tokoh sepak bola terhadap perusahaan media sosial.

"Pesan kuat"

Sebelum Twitter mengeluarkan pernyataan itu, komunitas sepak bola Inggris mengeluarkan kecaman pedas bahkan ancaman terhadap perusahaan media sosial yang dianggap "tidak melakukan apa-apa".

Manajer timnas sepak bola putri Phil Neville menyerukan boikot dan "mengambil langkah drastis".

"Saya pikir kita sebagai komunitas sepak bola mungkin harus melepaskan media sosial, karena Twitter tidak melakukan apa-apa (soal rasisme), Instagram juga tidak. Mereka cuma mengirim email mengatakan melakukan penyelidikan, tapi tak ada yang terjadi," kata Neville.

"Mari kita kirim pesan yang kuat kepada perusahaan media sosial. Kita lihat bagaimana dampaknya terhadap mereka," kata Neville lagi.

Sebelum pernyataan Neville, manajer tim Chelsea Frank Lampard juga menuntut agar perusahaan media sosial melakukan langkah lebih besar untuk membasmi rasisme dari platform mereka.

Raheem Sterling

Sumber gambar, Getty/Shaun Botterill

Keterangan gambar, Bintang Manchester City Raheem Sterling juga sempat menjadi sasaran pelecehan rasis dan menyerukan agar pemain melawan segala macam rasisme di dalam sepak bola.

Meningkat 43%

Sejak musim laga 2019-2020 dibuka beberapa minggu lalu, pelecehan bernada rasis secara daring terhadap para pesepak bola Inggris tercatat meningkat.

Selain Pogba, penyerang Chelsea Tammy Abraham juga menerima cercaan rasis setelah klubnya kalah melawan Liverpool dalam Piala Super Eropa pertengahan Agustus lalu.

Pemain lain yang juga menerima perlakuan jahat sejenis adalah Yakou Meite, penyerang dari klub Reading, yang berlaga di Championship, satu kasta di bawah Liga Primer Inggris.

Sementara itu Facebook menyatakan "tidak ada tempat bagi rasisme di Instagram dan kami berinvestasi untuk mengembangkan perangkat dan teknologi untuk mencegah perundungan dan pelecehan".

Secara umum lembaga kampanye melawan rasisme dalam sepak bola, Kick It Out, mengeluarkan laporan pada bulan Juli lalu bahwa cercaan bernada rasis meningkat sebanyak 43% pada musim lalu.

Angka pada musim 2018-19 adalah 274 kasus, sementara pada musim 2017-18 sebanyak 192 kasus.