Kisah anak-anak yang hilang akibat letusan Gunung Nyirangongo di Kongo
- Penulis, Olivia Acland
- Peranan, Goma, Kongo
Lahar yang mengalir dari Gunung Nyirangongo pada Sabtu (29/05) malam menyapu rumah penduduk di distrik Goma, yang terletak di bagian timur Republik Demokratik Kongo.
Sekitar 500 rumah rata dengan tanah dan lebih dari 100 anak hilang setelah terpisah dari orang tua mereka, menurut badan anak PBB, UNICEF.

Sumber gambar, Olivia Acland
Charles Kambale sedang memilah-milah puing-puing di distrik Buhene tempat rumahnya dulu berdiri.
"Saya belum menemukan dua anak bungsu saya," katanya.
Dia sedang menghadiri pesta pernikahan dengan istrinya saat letusan terjadi. Anak-anaknya yang berusia enam dan dua tahun ada di rumah bersama tetangganya. Dia mengatakan dia berencana untuk membuat pengumuman di radio supaya dapat menemukan kedua buah hatinya.
Baca juga:

Sumber gambar, Olivia Acland
Anak-anak juga tampak memilah-milah puing-puing di dekatnya, mencari potongan-potongan logam atau sisa-sisa barang yang hangus diterjang lahar, untuk dijual.

Sumber gambar, Olivia Acland
Cakrawala Goma berwarna merah menyala pada hari Sabtu (22/05) saat lava meletus dari celah di sisi Gunung Nyirangongo.
Khawatir aliran lahar akan menelan beberapa bagian kota yang menewaskan ratusan orang, seperti yang terjadi pada tahun 2002, ribuan orang mengumpulkan barang-barang mereka dan melarikan diri ke dekat perbatasan Rwanda.

Sumber gambar, Olivia Acland
Lebih dari 3.500 orang melintasi perbatasan pada malam ketika erupsi gunung terjadi di tengah lalu lintas yang macet.
Banyak warga Goma terbiasa mengungsi.
Kelompok bersenjata meneror wilayah itu selama lebih dari 25 tahun dan banyak orang yang tinggal di kota, pindah ke wilayah itu setelah kekerasan melanda desa mereka yang berdekatan.

Sumber gambar, Olivia Acland
Namun, tak seperti pada erupsi 2002, hingga kini baru sedikit korban yang dilaporkan.

Sumber gambar, Olivia Acland
Beberapa anak yang melarikan diri dari lahar dan terpisah dengan orang tuanya kini berada di sebuah tempat yang dikelola Palang Merah di Goma.
Para pekerja Palang Merah dan beberapa pejabat pemerintah telah berupaya mempersatukan keluarga yang tercerai berai.

Sumber gambar, Olivia Acland
Salah seorang bocah bernama Benisse yang baru berusia empat tahun, terpisah dari keluarganya sejak erupsi terjadi.
Ibunya tengah berjualan ikan di pasar ketika letusan terjadi dan ia langsung melarikan diri dari tempat tinggalnya dengan anak-anak yang lain.
Ia menghabiskan malam itu berjalan kaki ke kota tentangga Sake, yang berjarak 23 km dari Goma. Di Sake, ia terpaksa tidur di pinggir jalan.
"Saya melarikan diri bersama teman-teman saya tapi saya tidak tahu di mana mereka sekarang, saya seorang diri," kata Benisse kepada Gilbert Ramazani, yang bekerja di divisi urusan sosial Kongo.

Sumber gambar, Olivia Acland
Para ibu yang putus asa telah mencari anak-anaknya dari satu tempat ke tempat yang lain, memastikan apakah anaknya telah ditemukan.
Beberapa dari mereka berhasil menemukan anaknya yang hilang.

Sumber gambar, Olivia Acland
Sifa Ombene, 32 tahun, sedang berjualan ketika letusan terjadi.
Dengan tergesa-gesa dia pulang ke ruman namun tak mendapati kedua anaknya yang telah melarikan diri.
"Saya pergi kemana-mana mencari mereka, saya bahkan mendatangi kamar mayat rumah sakit, mereka memperlihatkan jenazah anak yang sudah meninggal," tuturnya sambil memeluk putrinya yang berusia empat tahun, Elea.
"Saya senang sekali menemukan mereka di sini."
Foto-foto oleh Olivia Acland.










