Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu melalui indra penciuman kita?

Anonymous 17th century illustration depicting the sense of smell

Sumber gambar, Rijksmuseum

Keterangan gambar, Tim peneliti akan mengidentifikasi dan menciptakan kembali aroma bau yang yang dirasakan orang Eropa berabad-abad lalu

Lukisan seperti Mona Lisa menarik jutaan pengunjung tiap tahunnya di berbagai museum di seluruh dunia.

Bayangkan jika selain menikmati mahakarya pelukis Leonardo Da Vinci secara visual, Anda juga bisa merasakan aroma dalam karya yang dilukis di Italia pada awal abad ke-16 itu.

Membuat kunjungan museum lebih menyenangkan menjadi tujuan dari sebuah tim yang terdiri dari akademisi Eropa, yang selama tiga tahun ke depan akan mengidentifikasi aroma-aroma penting di benua itu sejak abad ke-16 hingga awal abad ke-20.

Didanai oleh Uni Eropa, proyek Odeuropa akan membutuhkan biaya US$3,3 juta, atau sekitar Rp46,5 miliar, dan melibatkan sekitar 20 pakar, termasuk pakar sejarah aroma, pembuat parfum, serta ilmuwan kimia dan komputer.

Mereka bermaksud untuk membuat Ensiklopedia Sejarah Aroma.

Ini akan mencakup aroma yang saat ini mungkin hanya ada dalam deskripsi sastra, tetapi aroma itu akan diciptakan kembali dengan bantuan teknologi.

Ensiklopedia itu juga akan mencakup aroma banyak hal, mulai dari aroma parfum Ratu Prancis Marie-Antoinette, hingga aroma pabrik baja pada masa revolusi industri.

Vintage engraving of Hull, Yorkshire, in the 19th Century

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Para pakar berharap untuk menciptakan aroma seperti yang dirasakan di kota-kota Inggris pada saat revolusi industri.

Arkeologi aroma

"Proyek ini adalah tentang menemukan informasi tentang masa lalu penciuman kita," ujar sejarawan budaya Belanda Inger Leemans, yang memimpin proyek Odeuropa, kepada BBC.

"Aroma membentuk pengalaman kita akan dunia, namun kita memiliki informasi sensorik yang sangat terbatas tentang masa lalu," imbuhnya.

"Selain itu, aroma sangat mudah menguap, dan cenderung cepat terlupakan. Jadi kita perlu memikirkan cara mengawetkannya."

Description of Amsterdam as a 'beautiful virgin with a stinking breath' found in notary archives from 1777

Sumber gambar, Amsterdam Archive

Keterangan gambar, Proyek ini akan menelusuri referensi tentang bau dalam dokumen sejarah dan karya seni - di sini, Amsterdam digambarkan sebagai 'perawan cantik dengan nafas bau'

Proyek ini akan dimulai pada Januari dan para ahli akan menjelajahi referensi aroma pada buku, dokumentasi sejarah, karya seni dan koleksi museum dengan baguan sebuah algoritma untuk menganalisis sebutan dalam tujuh bahasa.

William Tullet, ahli sejarah aroma dari Universitas Anglia Ruskin di Inggris yang juga terlibat dalam proyek ini, mengatakan pentingnya indera penciuman telah diperjelas oleh pandemi Covid-19.

"Penciuman sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari - kita melihat itu selama pandemi, ketika orang-orang kehilangan indra penciuman setelah terpapar Covid-19," ujarnya kepada BBC.

"Yang ingin kami lakukan adalah mengenali bahwa aroma adalah bagian fundamental dari pengalaman manusia dan menangkapnya."

Namun, bagaimana kita bisa menyelamatkan aroma dari masa lalu?

Portrait of Marie Antoinette - stock illustration

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Mungkinkan kita mengetahui bagaimana aroma parfum Marie Antoinette?

Aroma dari sebuah kota

Leemans menjelaskan bahwa ada berbagai cara untuk melakukan ini: para ahli kimia memiliki teknik untuk mencari informasi tentang aroma dari sebuah objek historis dengan mengekstraksi partikel dari objek itu dan menganalisis struktur kimianya.

Ada juga cara interpretatif di mana kondisi sejarah suatu tempat diperhitungkan oleh para ahli untuk menentukan bagaimana baunya pada titik waktu tertentu.

"Anda bisa mulai dari aroma sangat khusus seperti lavender hingga aroma udara sebuah kota," ujar akademisi dari Belanda itu.

Pengetahuan tersebut akan memfasilitasi tahap terakhir dari proyek Odeuropa, ketika ahli kimia dan parfum akan menciptakan kembali aroma dan bau dari masa lalu yang akan digunakan oleh serangkaian museum Eropa dalam pameran khusus.

Salah satu peneliti yang terlibat dalam proyek ini adalah pakar sejarah seni Belanda, Caro Verbeek.

Dia memiliki keahlian pada sejarah sensorik dan telah mengkurasi pengalaman penciuman dalam 20 tahun terakhir, yang terbaru berada di Rijksmuseum yang terkenal di Amsterdam pada tahun 2015.

Bekerja sama dengan pembuat parfum Birgit Sijbrands dan Bernardo Fleming, Verbeek mengembangkan aroma untuk beberapa karya terkenal museum, termasuk The Battle of Waterloo (1824) karya Jan Willem Pieneman.

"Pada kasus The Battle of Waterloo, kami memiliki aroma mesiu yang dicampur dengan lumpur, kuda, dan kulit, yang dapat dicium oleh orang-orang menggunakan sebuah batang yang beraroma wangi," jelas Verbeek kepada BBC.

Caro Verbeek
Keterangan gambar, Caro Verbeek menunjukkan batang-batang arome yang digunakan untuk memberikan aroma pada karya seni dalam "intervensi pengalaman penciuman'-nya

"Ini benar-benar mengubah cara publik memandang karya seni dan juga cara yang lebih inklusif bagi orang untuk mengapresiasi mereka, seperti orang buta, misalnya."

Verbeek percaya bahwa proyek Odeuropa akan memperkuat pengalaman itu.

"Semakin banyak orang sekarang akan bisa mencium sejarah," yakinnya.

"Bau yang berubah memberi kita warisan yang rapuh; kita tidak bisa membayangkannya. Sekarang saatnya menangkap dan mereproduksinya."