Karya-karya seni yang disembunyikan dari bom Nazi

Pemindahan Elgin Marbles ke stasiun kereta bawah tanah Aldwych.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pemindahan Elgin Marbles ke stasiun kereta bawah tanah Aldwych.
    • Penulis, Holly Williams
    • Peranan, BBC Culture

Galeri Nasional Inggris mengirimkan koleksi karya-karya seni penting mereka ke sebuah tambang batusabak di Wales pada Perang Dunia Dua.

"Sembunyikan lukisan-lukisan ini di dalam gua-gua dan gudang, tapi jangan ada satupun yang meninggalkan pulau ini." Begitu kata Winston Churchill pada 1940 saat memutuskan bahwa koleksi Galeri Nasional harus diselamatkan dari serangan Nazi — tapi juga tetap harus berada di Inggris Raya.

Atau mungkin di bawah tanah? Karena Galeri Nasional memang menjaga keamanan lukisan koleksi mereka dengan menyimpannya di bawah tanah, di sebuah tambang batusabak di Manod, Wales Utara.

Mengamankan karya seni penting di dalam tambang kedengarannya bukan sebuah rencana yang bagus — tapi lukisan-lukisan itu sebenarnya "senang di sana," kata Minna Moore-Ede, kurator di pameran terbaru Galeri Nasional berjudul Manod: Gua Harta Karun Nasional yang mengisahkan sebuah masa unik dalam sejarah museum tersebut.

Acara kecil itu menampilkan koleksi foto-foto pemindahan lukisan-lukisan ke dalam tambang yang terletak di dekat Blaenau Ffestiniog di Snowdonia, selain juga foto-foto terkini lukisan tersebut oleh Robert Friend.

Sejarawan seni legendaris Kenneth Clark, yang tengah memeriksa Apollo dan Diana karya Lucas Cranach di ruang penyimpangan tambang batusabak Manod, adalah kurator Galeri Nasional.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sejarawan seni legendaris Kenneth Clark, yang tengah memeriksa Apollo dan Diana karya Lucas Cranach di ruang penyimpangan tambang batusabak Manod, adalah kurator Galeri Nasional.

Pada Perang Dunia Dua, banyak karya seni yang hancur akibat serangan atau dijarah, tak pernah terlihat lagi.

Dan meskipun banyak juga karya seni yang selamat karena upaya heroik dari individu dan institusi, namun kisah tentang karya seni di masa perang bisa membuat Anda keheranan karena terkesan sembrono.

Di London, karya seni penting Elgin Marbles disembunyikan di stasiun metro Aldwych — dan, yang menakutkan, baru kemudian kita tahu, karya itu tidak akan bisa selamat jika saja terjadi penyerangan.

Di Paris, museum Louvre dikosongkan pada 1939, dan sekitar 3.600 lukisan dibawa ke rumah-rumah aman. Lukisan Mona Lisa — yang kini dianggap terlalu rapuh untuk dipindahkan — berpindah-pindah sampai lima kali ke berbagai tempat di Prancis, berpindah dari kastil ke gereja dan kembali ke gereja, agar tidak terkejar oleh Nazi.

Seorang ahli preservasi membaca tingkat kelembapan suatu ruangan yang menyimpan lukisan — banyak teknik digunakan untuk preservasi karya seni dikembangkan di Manod.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Seorang ahli preservasi membaca tingkat kelembapan suatu ruangan yang menyimpan lukisan — banyak teknik digunakan untuk preservasi karya seni dikembangkan di Manod.

Di Inggris, Galeri Nasional bukan satu-satunya institusi yang pindah ke Wales: British Museum mengirimkan Magna Carta, karya-karya Michelangelo, Raphael dan Leonardo da Vinci, serta karya-karya langka seperti tulisan Shakespeare dan Milton ke Perpustakaan Nasional Wales di Aberystwyth.

Langkah ini pun bahkan tidak dianggap cukup aman, dan pada masa perang mereka menggali gua bawah tanah, dengan sistem penghangat khusus, untuk menyimpan karya-karya tersebut.

Bahan-bahan museum

Namun upaya untuk menyembunyikan karya seni ini setelah perang juga terjadi di pihak Nazi. Hitler punya upaya besar untuk mengubah Linz, kampung halamannya saat muda, menjadi sebuah museum super yang berisi karya-karya seni terpenting di dunia.

Demi memenuhi ambisinya yang culas dan berlebihan inilah maka pencurian benda seni oleh Nazi menjadi sangat besar dan sistematis.

Tetapi, selama perang berlangsung, karya-karya seni ini harus dipindahkan ke suatu tempat — dan banyak yang tersimpan di tambang garam di Altaussee, Austria.

Ada lebih dari 6.500 lukisan yang disimpan di sana, termasuk karya-karya Michelangelo, Rubens, Vermeer dan Rembrandt, selain juga Ghent Altarpiece.

Selamatnya karya-karya ini adalah sebuah mukjizat: berbagai instruksi diberikan untuk meledakkan semua karya seni tersebut jika Jerman menyerah. Rencana itu diyakini digagalkan oleh penambang lokal dan seorang pejabat Nazi yang menukar bom yang bisa meledakkan semua koleksi tersebut dengan peledak yang lebih kecil, sehingga ketika meledak, yang hancur hanya bebatuan yang kemudian menghalangi pintu masuk.

Karya-karya seni itu tetap aman di bawah tanah sampai para Monuments Men — gugus tugas Sekutu yang memang ditugaskan untuk mencari dan menyelamatkan karya seni Eropa — menemukannya ketika perang usai.

Industri utama Manod pada abad 19 adalah penambangan batusabak, tapi aktivitas itu telah berkurang menjelang Perang Dunia Dua.

Sumber gambar, National Gallery, London

Keterangan gambar, Industri utama Manod pada abad 19 adalah penambangan batusabak, tapi aktivitas itu telah berkurang menjelang Perang Dunia Dua.

Meski penyembunyian berbagai karya seni penting itu ke tambang garam terkesan sembrono, namun setidaknya kondisi tambang gelap dan dingin — dan ini justru ideal buat lukisan.

Salah satu hal menarik dari sejarah Manod adalah bahwa pemindahan 1.800 lukisan ke Wales ini kemudian mendorong era baru konservasi di institusi tersebut.

Peledak kemudian digunakan untuk memperbesar pintu masuk ke tambang, sehingga karya-karya berukuran besar bisa cukup masuk, dan sistem jalur kereta di dalam gua pun ditambahkan agar bisa memindahkan lukisan.

Enam rumah bata pun dibangun di dalam gua yang luas itu agar suhu dan kelembapan bisa diatur.

Sebagian dari struktur bawah tanah di tambang batusabak di Manod masih berdiri sampai sekarang — dan sisa-sisa materi penyimpanan karya seni masih bisa ditemukan.

Sumber gambar, Robin Friend

Keterangan gambar, Sebagian dari struktur bawah tanah di tambang batusabak di Manod masih berdiri sampai sekarang — dan sisa-sisa materi penyimpanan karya seni masih bisa ditemukan.

Dunia bawah tanah yang seperti labirin ini kemudian menjadi penuh dengan karya seni, tapi juga dengan kehidupan: banyak pria setempat yang kemudian dipekerjakan untuk menjaga lukisan-lukisan itu.

"Mereka tidur di bawah sana. Selama empat tahun, itu saja pekerjaan mereka, dan di sana penuh dengan orang," kata Moore-Ede.

Kurator utama Galeri Nasional saat itu, Martin Davies, pun pindah ke pondok di dekat situ — dan malah di sana dia menjadi besar.

Davies mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari berada dekat dengan koleksi seni tersebut, dia menyelesaikan berbagai katalog baru yang penting dari koleksi permanen museum.

"Dia melakukan banyak penelitian karena (lukisan-lukisan itu) mudah diakses," kata Moore-Ede. "Dia seorang pria yang pendiam dan pemalu yang sangat menikmati kesempatan saat tak ada orang lain di sekitarnya!"

Materi museum

Periode ini pun menjadi masa penting bagi galeri tersebut untuk memahami cara-cara terbaik menyimpan lukisan. Pada 1940an, Galeri Nasional tak memiliki sistem pendingin ruangan. Dan untuk memindahkan lukisan ke Manod, museum tersebut harus memikirkan dan meneliti cara-cara terbaik menyimpan lukisan, dan mereka bisa memantau lukisan tersebut dalam kondisi yang terukur.

"Ada studio kecil yang dibangun di luar tambang saat mereka mengerjakan langkah-langkah konservasi, dan itu adalah masa penting bagi galeri," kata Moore-Ede. Setelah perang, renovasi besar pun dilakukan untuk memperbaiki kerusakan akibat bom pada galeri tersebut, dan sistem pendingin ruangan pun ditambahkan, selain juga departemen ilmiah baru.

Seorang penjaga malam di Tambang Manod menggunakan telepon portabel yang menempel di tembok.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Seorang penjaga malam di Tambang Manod menggunakan telepon portabel yang menempel di tembok.

Penyimpanan lukisan di tambang Manod hampir tidak terjadi, karena rencana awalnya adalah mengirimkan semua lukisan tersebut ke Kanada.

Kenneth Clark, direktur galeri, khawatir dengan kemungkinan serangan U-boat dan ide itu pun langsung ditolak saat dia membahasnya dengan Churchill. Sang perdana menteri mungkin melihat potensi patriotis dari karya seni Inggris di masa perang.

Rencana itu jelas-jelas rahasia, dan tambang itu pun tetap dipertahankan sampai 1983 sebagai situs evakuasi klandestin jika perang nuklir terjadi.

Namun naluri Churchill yang mengatakan bahwa penting untuk mempertahankan karya seni ini di dalam negeri terbukti benar.

Dalam beberapa tahun terakhir perang, Galeri Nasional kemudian memamerkan 'Lukisan Bulan Ini' di London, yang dikeluarkan dari penyimpanan di Manod.

Tujuannya adalah untuk membangkitkan semangat orang-orang Inggris yang saat itu dalam kondisi perang, dan acara itu pun menjadi sensasi tersendiri — ada 30.000 pengunjung per bulan yang datang hanya untuk melihat satu lukisan, dan berbagai pilihan populer termasuk The Rokeby Venus dari Velázquez dan Noli me Tangere dari Titian.

"Kenneth Clarke memilihnya dengan hati-hati, mereka ingin lukisan-lukisan yang punya emosi yang mendalam — dia tahu bahwa orang-orang membutuhkan pembangkit semangat," kata Moore-Ede.

Meski foto-foto Manod memperlihatkan hantu galeri di dalam gua tersebut — bingkai lukisan yang kosong atau sepotong jalur kereta — di London, Galeri Nasional "berubah selamanya setelah perang," menurut Moore-Ede.

Bahkan hanya dengan memamerkan satu lukisan per bulan, institusi nasional ini menjadi lebih kuat dan lebih terhubung ke publik daripada sebelumnya; seperti ungkapan, Anda tidak tahu apa yang Anda punya sampai itu hilang. Atau setidaknya, tersimpan secara temporer di tambang di Welsh.

line

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The art hidden from nazi bombs di laman BBC Culture