Covid-19: Liburan di masa pandemi, bagaimana orang-orang Swedia membentuk ulang tradisi 'staycation'

Swedia

Sumber gambar, Stalin Sathitharan

Orang-orang Swedia sebenarnya sudah lama menggunakan istilah 'staycation', atau berlibur di dalam negeri atau kota, mereka sendiri: hemester. Sekarang, pembatasan perjalanan dan kerja jarak jauh karena Covid-19 membentuk ulang tradisi tersebut.

Aroma manis dan menyegarkan dari sekitar hutan pinus berhembus sampai ke pantai di Årsunda, tempat wisata tepi danau di Gävleborg, di wilayah tengah Swedia.

Seperti di banyak wilayah dunia, di musim panas ini staycation alias berlibur di dalam negeri atau kota menjadi terkenal, karena Covid-19 membuat para calon pelancong tidak bisa pergi jauh dari rumah.

Selain itu, para turis Swedia yang paling dibatasi bepergian ke luar negeri ketimbang banyak orang Eropa lainnya, karena beberapa negara memberlakukan pembatasan perjalanan karena tingginya tingkat infeksi di negara-negara Nordik, terkait dengan jumlah populasinya.

"Seharusnya kami pergi ke Sisilia (di Italia) awal tahun ini, tetapi batal, jadi kami pergi ke sini," kata Saga Norman, seorang mahasiswa yang asyik menikmati salad di restoran pinggir pantai.

"Tetapi sebenarnya pergi ke sini adalah hal yang biasa dilakukan setiap musim semi."

Perempuan berusia 22 tahun ini tinggal di Stockholm, tetapi orang tuanya memiliki rumah kayu tradisional Swedia - yang didirikan oleh kakeknya - di dekat danau.

"Ada lebih sedikit orang, di sana lebih sepi dan memberikan suasana menenangkan yang tidak dapat Anda dapatkan di kota-kota," tambah pacarnya, yang juga seorang digital-marketer, Alexander Sandvik, 23 tahun, yang ikut dalam perjalanan ini.

Bahkan sebelum terjadi wabah Covid-19, sudah ada obsesi yang berlangsung lama secara nasional tentang staycation di Swedia.

Di negara ini dikenal sebagai 'hemester', yang berasal dari bahasa Swedia untuk rumah, 'hem' dan liburan 'semester'.

Kendati 'hemester' bisa berarti hanya tinggal di apartemen atau rumah selama cuti tahunan Anda, istilah itu biasanya juga digunakan untuk membicarakan hal-hal umum tentang berlibur ke mana pun, di dalam negara Anda sendiri.

Meskipun selama beberapa dekade terakhir ini tren berlibur ke luar negeri mengalami peningkatan (orang-orang Swedia termasuk yang paling sering bepergian ke luar negeri di dunia), menghabiskan liburan di rumah musim panas masih menjadi agenda utama bagi keluarga kaya dan mereka yang berpendapatan rendah.

"Saya kira dalam mentalitas orang Swedia, hal ini menjadi sesuatu yang dibutuhkan untuk terhubung dengan alam dan mengisi ulang energi Anda untuk menghadapi musim dingin yang panjang, gelap dan beku," jelas Jennifer Dahlberg.

Jennifer adalah seorang blogger dan penulis kelahiran Amerika Serikat, yang saat ini sedang menulis buku di Swedia, di mana dia menghabiskan musim panas dalam dua dekade terakhir.

staycation

Sumber gambar, Sandvik and Norman

Keterangan gambar, Alexander Sandvik dan Saga Norman, keduanya berusia 20 tahunan, sudah mengubah rencana liburan tahun 2020 karena Covid-19, mereka memilih tetap tinggal di dalam negeri.

Merebut kembali tradisi

Bagi kebanyakan orang Swedia, hemester merupakan pengalaman yang mirip dengan rehat di tepi danau yang indah di Norman dan Sandvik.

Sekitar 20% dari populasi memiliki pondok atau kabin musim panas (digolongkan seperti itu karena selama bulan-bulan musim dingin yang beku tempat itu tidak dapat digunakan), sementara menurut Badan Statistik Swedia, lebih dari 50% memiliki akses melalui keluarga atau teman.

Apalagi tidak ada tempat yang tidak bagus; dua pertiga negara itu tertutup hutan, terdiri dari 30 taman nasional dan hampir sebanyak 270.000 pulau.

Orang-orang Swedia juga punya banyak waktu untuk ber-hemester, terlebih karena banyak pemberi kerja memberikan cuti tahunan minimal selama 25 hari kepada para karyawannya.

Banyak perusahaan dan organisasi juga mengizinkan para pekerjanya untuk mengambil cuti empat minggu berturut-turut, antara akhir Juni dan pertengahan Agustus.

(Ditandai dengan banyaknya pesan sedang berada di luar kantor ketika sedang mengerjakan artikel ini di pertengahan musim hemester.)

Gunnar Andersson, seorang dosen demografi di Stockholm University yang menjawab dari pondok musim panas bibinya di Östergötland di Swedia Selatan, mengatakan bahwa tradisi hemester sebagian terhubung dengan gaya hidup pedesaan yang bersejarah di negara itu.

"Hanya beberapa generasi sebelumnya, kebanyakan orang tinggal di hutan, di pedesaan.

"Dan sebelum kami menjadi urban, kami hidup di pertanian yang lebih terpencar-pencar dibandingkan bagian lain di Eropa," ujarnya.

staycation

Sumber gambar, Jennifer Dahlberg

Keterangan gambar, Kepulauan Stockhom adalah tempat staycation favorit, meskipun real estate bisa mahal.

Ini berarti banyak orang yang masih memiliki akar keluarga di pedesaan, katanya.

Sementara yang lain ingin mempertahankan tradisi Nordik untuk menghabiskan waktu dekat dengan alam, yang dikenal sebagai friluftsliv, meskipun biasanya mereka tinggal dan bekerja di kota.

"Anda juga melihat bahwa ketika orang memiliki anak, maka tiba-tiba menjadi sangat penting bagi mereka memiliki akses untuk berada di dekat hutan," ungkap Gunnar.

Dahlberg mengamati bahwa sekalipun memiliki rumah kedua dipandang sebagai 'termasuk kelompok elit' di banyak negara, orang-orang Swedia cenderung tidak menganggap itu sebagai hak istimewa, dengan rumah-rumah yang sering kali diturunkan dari generasi ke generasi.

"Banyak dari tempat tinggal musim panas ini merupakan sesuatu yang diperoleh dengan harga yang wajar," jelasnya.

"Tidak semua rumah dilengkapi dengan sesuatu yang sempurna. Banyak dari rumah-rumah itu yang masih sangat kasar - bisa jadi tidak ada saluran ledeng di dalamnya."

Dahlberg merefleksikan bahwa berapa pun ukuran atau harga properti staycation, banyak orang Swedia memiliki pendekatan yang serupa kalau menyangkut aktivitas hemester.

Ketika berada di tepi danau yang bisa berupa bermain, berjalan-jalan, berolahraga dan prakarya juga dilakukan di masa lalu, terutama di antara mereka yang berkumpul bersama selama empat minggu atau lebih, di saat libur kerja.

"Mereka sangat aktif. Beberapa orang mengecat rumah mereka. Ada kegiatan berperahu, bermain kayak, berselancar angin," katanya.

"Saya kira hal yang paling melelahkan itu adalah bersosialisasi, karena orang-orang Swedia menjadi sangat sosial selama periode ini.

"Ada banyak makan siang, makan malam atau piknik - kendati, tentu saja, sangat penting untuk menjaga jarak, saat ini."

staycation

Sumber gambar, Jennifer Dahlberg

Keterangan gambar, Penulis kelahiran Amerika Serikat, Jennifer Dahlberg berpendapat bahwa staycation di pedesaan Swedia yang dekat dengan akan membantu orang-orang mengembalikan energi sebelum musim dingin yang gelap dan panjang.

Di Östergötland, profesor Andersson mencantumkan mencari jamur dan memetik buah beri sebagai kegiatan yang umum dilakukan saat staycation di masa lalu, dan berkata bahwa dia seringkali sibuk melakukan renovasi-renovasi kecil, juga berkebun.

"Ada sebuah danau kecil di sini dan kami juga pergi memancing. Minggu lalu kami menangkap udang karang yang juga merupakan suatu kesenangan.

Jaga jarak dan kerja jarak jauh

Di Hemnet, situs daftar properti terbesar di negara ini, rumah musim panas yang saat ini dijual di Gävleborg, Swedia tengah, mulai dari proyek renovasi satu kamar tersedia mulai dari harga 200.000 kronor ($23.000) sampai rumah dengan empat kamar tidur yang mewah dengan taman yang besar seharga 3.000.000 kronor ($344.000).

Harga-harga menjadi lebih murah di lokasi yang lebih terpencil di utara, tetapi jauh lebih tinggi di kepulauan yang mengelilingi ibu kota, Stockholm, di mana sebuah kabin kecil dapat membuat Anda merogoh kantong sampai lebih dari 1.000.000 kronor ($115.000) dan rumah-rumah mewah di pulau-pulau pribadi dijual dengan harga 30.000.000 kronor ($3.438.000).

Meskipun perekonomian Swedia mengalami pukulan terbesar sejak, setidaknya, selama 40 tahun selama puncak pandemi Covid-19, agen penjual properti telah melaporkan peningkatan permintaan rumah-rumah musim panas di tahun 2020.

Harga-harga di bulan Juni tahun ini 9% lebih tinggi dari harga setahun yang lalu, menurut statistik broker nasional Swedia, sementara villa-villa yang dapat digunakan untuk hidup sepanjang tahun juga meningkat sebesar 2%.

Statistik yang berbeda dari Hemnet menunjukkan bahwa antara 15% sampai 25% lebih banyak rumah liburan yang telah terjual setiap minggunya selama beberapa bulan terakhir dibandingkan dengan periode yang sama setahun yang lalu.

Meski perekonomian Swedia mengalami pukulan terbesarnya, setidaknya dalam 40 tahun selama puncak pandemi Covid-19, agen-agen perumahan sudah melaporkan peningkatan permintaan untuk rumah musim panas di tahun 2020}

Amir Kabbani, seorang agen di Länsförsäkringar Fastighetsförmedling, suatu makelar besar di Swedia, mengatakan bahwa sangat penting untuk menempatkan ledakan rumah musim panas dalam konteks beberapa tahun suku bunga rendah dan gerakan lingkungan hidup nasional yang berkembang di bawah pimpinan seorang remaja Swedia, Greta Thunberg.

Meski begitu, dia meyakini bahwa Covid-19 sejauh ini merupakan faktor pendorong terbesar, dengan semakin banyaknya orang Swedia yang mencari properti staycation di spot-spot cantik, karena pergi ke luar negeri akan tetap menjadi tantangan.

"Anda bisa keluar di sini, ke alam, dan ini sangat tenang dan menenangkan," jelasnya dari kantornya di Gustavsberg, sebuah kota di tepi air di kepulauan Stockholm.

"Di kota cukup ramai, dan jika Anda tinggal di sebuah apartemen, jika Anda memiliki anak yang bermain di dalam, itu merupakan lingkungan yang sulit."

staycation

Sumber gambar, Stalin Sathitharan Veerakumar

Keterangan gambar, Menurut statistik nasional, sekitar 20% orang Swedia memiliki sebuah rumah musim panas, sementara sekitar 50%nya punya akses ke rumah musim panas melalui teman atau keluarga.

Berkat saran dari Public Health Agency agar orang-orang Swedia tetap melanjutkan bekerja dari rumah, dia mengatakan mayoritas pembeli di wilayahnya juga mencari rumah di mana mereka dapat bekerja secara efisien.

Ini berarti bahwa tempat-tempat dengan broadband serat optik, sinyal telepon yang kuat, dan ruang rumah kantor yang memadai menarik lebih banyak perhatian daripada retret pedesaan.

Sementara itu Kabbani mengatakan usia rata-rata calon pembeli telah menurun, dengan lebih banyak pasangan berusia 30-an yang datang melihat-lihat.

"Memiliki rumah musim panas menjadi hal yang trendi.. mereka memiliki pekerjaan yang baik, arus kas yang baik, dan sekarang merasa lebih mudah untuk bekerja di luar Stockholm dan menjauh dari kota."

Di Hemnet, juru bicara Staffan Tell mengatakan bahwa situs listing juga sudah mengidentifikasi peningkatan minat secara nasional terhadap rumah yang dapat mengoptimalkan pengalaman kerja jarak jauh.

"Rumah terpisah dan rumah untuk berlibur banyak diminati, sedangkan apartemen relatif menjadi kurang populer," katanya.

"Semakin banyak orang yang bermimpi memiliki taman sendiri. Dapat memiliki kantor di rumah dan lebih banyak ruang terbuka juga tampaknya menjadi lebih populer daripada sebelumnya."

Di luar harga pasar

Ada beberapa kekhawatiran bahwa meningkatnya minat terhadap rumah-rumah musim panas dapat memicu kesenjangan pendapatan yang saat ini sudah mulai berkembang di Swedia, sebuah negara yang terkenal dengan reputasi memperjuangkan kesetaraan.

Keluarga-keluarga, yang memiliki properti-properti akan mendapatkan keuntungan dari permintaan yang tinggi, karena mereka dapat menjual dengan harga yang tinggi atau menghasilkan uang dari menyewakannya kepada wisatawan.

Sementara mereka yang tidak memiliki rumah kedua bisa berada semakin jauh dari pasar.

"Saya kira ada risiko adanya perbedaan dalam bagaimana kita menghabiskan liburan kita," kata Lena Lid Falkman, seorang ekonom dan pakar tren dunia kerja di Stockholm School of Economics.

"Karena ada kebutuhan dan minat untuk rumah-rumah musim panas, harga-harga melambung, pada akhirnya mereka yang tidak terlalu kaya tidak memiliki kesempatan yang sama."

Tidak ada data nasional terkait etnis pemilik rumah musim panas di Swedia, tetapi penduduk yang lahir di luar negeri atau dengan dua orang tua yang non Eropa akan terpengaruh secara tidak proporsional.

Kelompok-kelompok ini cenderung menghabiskan waktu lebih sedikit di properti-properti seperti ini dibandingkan dengan penduduk Swedia asli, menurut riset Badan Statistik Swedia.

"Saya telah menjadi ibu tunggal selama sekitar lima tahun dan dengan dua orang anak dan cicilan untuk rumah utama kami, saya tidak dapat mengakali keuangan saya," kata Noor Sisask, 39 tahun, seorang warga kelahiran Irak yang bekerja di sebuah start-up pembelajaran jarak jauh di Stockholm.

Dia dan anak-anaknya terobsesi dengan alam dan sangat ingin punya kesempatan memiliki pondok sendiri, akan tetapi yang bisa dia lakukan adakah berkemah atau tinggal bersama teman-teman selama musim panas.

"Saya masih merasa mendapat keistimewaan untuk dapat melakukan hal-hal yang menyenangkan sekalipun tidak memiliki tempat sendiri," jelasnya.

"Saya kira banyak orang Swedia yang telah terbiasa dengan kepemilikan rumah kedua dan mungkin tidak menganggap itu sebuah kemewahan. Bagi imigran lebih mudah untuk melihat dan menginginkannya.

staycation

Sumber gambar, Stubbs

Keterangan gambar, Julian Stubbs, seorang profesional merek dari Stockholm, berpendapat bahwa teknologi dan budaya kerja yang fleksibel di Stockholm akan mendorong lebih banyak pekerja jarak jauh di daerah pedesaan.

Menghidupkan kembali komunitas pedesaan

Meski ada kenaikan harga dan permintaan untuk rumah kedua, beberapa ahli percaya ada hal positif ketika berkaitan dengan Covid-19 dan peringkat properti musim panas, terutama untuk kelompok pendapat menengah dan penghasilan ganda.

Hal ini karena ledakan kerja jarak jauh yang membuatnya lebih mudah untuk berinvestasi ke area-area yang tidak mahal, yang jauh dari kota berbasis pembeli,

"Kami telah melihat kecenderungan bahwa lebih banyak orang yang mencari rumah di luar daerah tempat tinggal mereka.

"Sulit untuk mengetahui secara pasti apakah ini karena Covid-19, tetapi mungkin saja lebih banyak orang yang bekerja dari rumah, jarak ke kantor menjadi tidak terlalu penting," kata Staffan Tell di Hemnet.

Julian Stubbs, yang mengelola agensi merk global dari Stockholm dan seorang penulis serta pembicara tentang pekerjaan jarak jauh meyakini bahwa keinginan itu pada akhirnya akan mengarah ke peningkatan jumlah orang swedia yang hidup di pedesaan secara lebih permanen.

"Saya kira akan ada tren orang-orang pindah dari kota, tepatnya pindah ke lokasi yang lebih murah di mana mereka dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik," katanya.

Meskipun kecenderungan ini juga muncul di negara lain, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, Stubbs merasa yakin hal ini akan terjadi lebih cepat di Swedia, karena tingkat kepercayaan yang tinggi antara pemberi kerja dan karyawan, adanya budaya kerja yang fleksibel dan masyarakat yang paham teknologi dengan infrastruktur yang kuat.

"Asalkan Anda memiliki jaringan pita lebar yang bagus, jenis layanan yang tepat, sekolah, semua hal yang diinginkan oleh orang-orang baru itu untuk pindah ke luar kota, menurut saya tempat-tempat terpencil dapat menjadi tempat kerja yang baik."

Ini merupakan prediksi yang disetujui oleh Lena Lid Falkman dari Stockholm School of Economics, dan yang dia harapkan akan membantu menghidupkan kembali masyarakat pedesaan Swedia.

Tetapi dia tidak yakin bahwa semua orang yang menghabiskan waktu di rumah musim panas Swedia selama tahun 2020 akan dapat hidup di lingkungan pedesaan dalam jangka panjang.,

"Sampai batas tertentu orang-orang akan mulai menjual, karena ada perbedaan antara pergi ke suatu tempat untuk liburan dan memiliki rumah musim panas," jelasnya.

"Anda perlu memotong rumput. Anda perlu melukis. Anda perlu memperbaiki air. Jadi secara finansial maupun terkait pekerjaan, beberapa orang mungkin merasa bosan memiliki rumah liburan meskipun ini adalah tradisi."

Kembali ke kepulauan Stockholm, penulis Dahlberg mengatakan bahwa dia merasa skeptis tentang orang-orang Swedia yang ke depannya akan tetap staycation, dan mencurigai mereka yang mampu akan mulai berpetualang di luar negeri, begitu pembatasan perjalanan mulai dibuka.

"Menurut saya, musim panas ini telah menjadi cara yang baik untuk melakukan refleksi dan terhubung kembali dengan begitu banyak keindahan di Swedia," katanya.

"Tetapi akan kita lihat apa yang terjadi jika virus ini berhasil kita tangani. Mungkin keinginan berkelana menjadi sangat kuat."