Tanzanite: Penambang yang mendadak jadi miliarder yakin bisa temukan lagi batu langka Tanzanite

Sumber gambar, AFP
Seorang penambang berskala kecil yang mendadak menjadi miliarder setelah menjual batu mulia Tanzanite terbesar dalam sejarah industri pertambangan Tanzania, mengatakan kepada BBC bahwa dirinya optimistis bisa mendapat temuan besar lagi pada masa mendatang.
Penambang bernama Laizer Saniniu itu melandaskan keyakinannya dari analisis ahli geologinya.
Saniniu sudah berkecimpung dalam bisnis pertambangan selama lebih dari 15 tahun dan mengaku inilah pertama kalinya dia menemui keberuntungan.
Meski banyak orang terinspirasi padanya, dan banyak pula yang iri, dia mewanti-wanti bahwa bisnis pertambangan tidak semudah yang orang awam pikirkan.
"Sangat mahal mengoperasikan tambang-tambang. Acap kali kami berutang. Kali lainnya terpaksa kami, sesama para penambang berskala kecil, patungan," ujarnya kepada wartawan BBC di Dar es Salaam, Aboubakar Famau.
Uang penjualan Tanzanite yang diperolehnya diputarkan ke bisnis-bisnis lain, seperti membangun mal. Dia juga menggunakan sebagian kekayaannya untuk membangun sekolah dan gereja di komunitasnya.
"Anak-anak petani dan peternak sering kali tidak bersekolah karena sekolah kadang terlalu jauh dan anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya merawat hewan-hewan ternak," katanya.
Baru-baru ini, Laizer Saniniu kembali menemukan batu langka Tanzanite dan menjualnya seharga US$2 juta atau setara Rp29 miliar. Temuan batu Tanzanite ketiga itu memiliki berat 6,3 kg.
Sebelumnya, pada Juni lalu, dia menjadi miliarder dalam semalam setelah menjual dua batu mulia langka Tanzanite senilai US$3,4 juta atau setara Rp42 miliar.
Tanzanite hanya ditemukan di Tanzania utara dan digunakan untuk membuat ornamen.
Batu itu adalah salah satu batu mulia paling langka di Bumi. Bahkan, seorang ahli geologi setempat memperkirakan pasokannya mungkin habis dalam 20 tahun ke depan.
Daya tarik batu mulia terletak pada ragam warnanya, termasuk hijau, merah, ungu dan biru.
Nilai batu mulia terlangka itu ditentukan oleh kelangkaan - semakin halus warna atau kejernihannya, semakin tinggi harganya.

Sumber gambar, TBC1
Lazier mendorong teman-temannya sesama penambang skala kecil untuk bekerja sama dengan pemerintah, dan mengatakan bahwa pengalamannya adalah contoh yang baik.
"Menjualnya kepada pemerintah berarti tidak ada jalan pintas... mereka transparan," kata Lazier dalam pernyataannya di sebuah upacara di tambang yang terletak di utara Mirerani.
Penambang kerap mengeluh tentang pembayaran yang terlambat dari pemilik tambang, menurut wartawan BBC Aboubakar Famau yang melaporkan dari ibu kota Dodoma.

Sumber gambar, Tanzania Ministry of Minerals
Setelah menjual dua batu mulia dengan berat 9,2 kg dan 5,8 kg, Lazier - ayah dari 30 anak - mengatakan kepada BBC bahwa dia akan menggelar sebuah pesta.
Akan tetapi, setelah berhasil menjual batu mulia ketiganya Senin (03/08) lalu, dia mengatakan bahwa uang dari hasil penjualan itu akan digunakan untuk membangun sekolah dan fasilitas kesehatan di distrik Simanjiro di utara Manyara.
Dia mengatakan kepada BBC bahwa keberuntungannya dua bulan lalu tidak akan mengubah gaya hidupnya. Dia mengaku berencana untuk terus memelihara sapinya yang berjumlah 2.000.
Laizer menambahkan bahwa dirinya tidak perlu mengambil tindakan pencegahan tambahan meskipun dirinya menjadi miliarder dalam semalam.

Beberapa penambang skala kecil seperti Laizer memperoleh lisensi pemerintah untuk menggali Tanzanite, tetapi penambangan ilegal banyak terjadi terutama di dekat tambang yang dimiliki oleh perusahaan besar.
Pada 2017, Presiden Magufuli memerintahkan militer untuk membangun tembok sepanjang 24 km di sekitar lokasi penambangan Merelani di Manyara, yang diyakini sebagai satu-satunya sumber Tanzanite di dunia.
Setahun kemudian, pemerintah melaporkan peningkatan pendapatan di sektor pertambangan dan menghubungkan kenaikan tersebut dengan pembangunan tembok.












