Covid-19, Lebaran prihatin, dan 'kejutan ekonomi': ‘Mau marah, saya enggak bisa marah ke siapa-siapa’

Sumber gambar, Antarafoto
- Penulis, Pijar Anugerah
- Peranan, Wartawan BBC News Indonesia
Lebaran identik dengan kumpul bersama keluarga, makan ketupat, dan mengenakan baju baru. Namun dampak ekonomi wabah virus corona membuat sebagian orang tak bisa melakukan berbagai tradisi perayaan yang menjadikan lebaran hari yang istimewa.
Menurut survei pemerintah, lebih dari dua juta pekerja dirumahkan dan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) karena pandemi. Sebanyak 40% usaha mandiri terhenti, dan 52% mengalami penurunan kegiatan produksi.
Kehilangan pekerjaan atau pemasukan membuat acara makan-makan dan baju lebaran jadi kemewahan yang tidak mampu dibeli. Belum lagi, larangan mudik berarti banyak orang yang terpisah dari keluarga mereka pada hari raya.
- Virus corona meniadakan lebaran bagi para tenaga medis: 'mimpi yang sudah disimpan dalam lemari'
- Virus corona: Pengurus masjid kehilangan pemasukan selama Ramadan, 'Biar Allah yang mencukupi di akhirat'
- Virus corona dan ramadan: Mengapa salat berjemaah di masjid masih digelar, walau MUI dan ormas Islam mengimbau salat di rumah?
BBC News Indonesia merangkum cerita dari tiga orang tentang bagaimana mereka menghadapi Lebaran yang sangat lain dari biasanya ini.
'Saya sudah tidak memikirkan lebaran'
Merayakan Lebaran dengan meriah menjadi hal terakhir di pikiran Somadi, 60 tahun, sejak keuangan keluarganya terpukul oleh wabah virus corona. Sekarang, yang dipikirkan warga Kota Bandung itu hanyalah kesehatan istri dan empat anaknya.
"Saya sudah tidak memikirkan Lebaran. Yang saya pikirkan itu kehidupan keluarga sama kesehatan. Itu saja," ujarnya.
Bekerja sebagai sopir angkot rute Kalapa-Dago, bukan berarti pemasukannya nol sama sekali. Ia masih bisa narik, katanya, tapi penumpangnya tidak ada. Sejak Kota Bandung menerapkan PSBB pada tanggal 22 April, kapasitas angkutan umum dibatasi hanya 50 persen.
Somadi menjelaskan, sebelum wabah corona, pendapatan bersihnya dari mengemudi angkot bisa mencapai Rp90 ribu per hari. Kini ia hanya membawa pulang Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per hari, dan terkadang harus menombok. Uang sebanyak itu hanya cukup untuk belanja kebutuhan makan sehari-hari.

Sumber gambar, Somadi
Istrinya, yang bekerja sebagai pengurus rumah di sebuah tempat kos di Bandung, juga kehilangan pendapatan sejak para penghuni kosnya pergi. Anak sulungnya, pengemudi ojek online, praktis menganggur karena tidak ada muatan.
Di hari Lebaran, hidangan ketupat dan opor yang biasanya hadir di meja makan mungkin tidak akan ada. Begitu pula baju baru untuk anak-anaknya.
"Soalnya kita tahu keadaan kita sekarang kan dalam keadaan begini, susah. Jadi belum kepikiran untuk wah-wahan di lebaran," kata Somadi.
Meski begitu, Somadi masih berniat untuk membayar zakat fitrah, hal yang ia lakukan setiap tahun. Zakat fitrah, yaitu sedekah yang dibagikan kepada kelompok miskin dan membutuhkan pada hari raya Idul Fitri, merupakan kewajiban bagi umat Islam.
Somadi mengaku tahun ini ia kesulitan mengumpulkan uang untuk membayar zakat, namun ia khawatir tidak mendapatkan pahala.
"Menurut saya, zakat itu wajib jadi dari sekarang kita usahakan, saya kumpul-kumpulin untuk bisa bayar zakat. Tapi kalau memang enggak bisa ya apa boleh buat.
"Kalau enggak sanggup terus enggak jadi masalah pahalanya, kewajiban itu, saya mungkin memilih jadi mustahik (penerima zakat)," tuturnya.
'Mau marah, saya enggak bisa marah ke siapa-siapa'
Riska Hilna, 26 tahun, kesulitan menyambut Lebaran dengan gembira. Jauh dari keluarga di kampung halaman, perempuan asal Palembang itu untuk pertama kalinya akan menghabiskan hari raya Idul Fitri sendirian di rumahnya di Ciampa, Bogor. "Enggak tahu rasanya Lebaran di sini gimana," katanya.
Biasanya, sepekan sebelum Lebaran, ia sudah ada di rumah orang tuanya di Palembang. Dalam menyambut hari raya, keluarganya punya tradisi membuat kue dan mengadakan kenduri.
Satu hari sebelum Lebaran, saat buka puasa terakhir di bulan Ramadan, keluarga Riska biasanya berkumpul di rumah orang tuanya untuk makan besar. Makanan favorit mereka antara lain sambal jengkol atau petai, pindang daging, dan sambal tempoyak.
"Apapun yang diminta, pasti diturutin sama orang tua. Kan anaknya banyak yang merantau," kata Riska.
Tahun ini, ia hanya berencana memasak tempe untuk dirinya sendiri dan tidak keluar rumah. "Paling tiduran di kamar," ujarnya.

Sumber gambar, Destyan Sujarwoko/Antarafoto
Perasaan biru karena jauh dari keluarga ini menambah kesedihan yang dialami Riska di masa wabah virus corona. Ia baru saja di-PHK dari sebuah klinik kesehatan di Jakarta, tempatnya bekerja sebagai pegawai kontrak selama tiga tahun.
Ia berkata seharusnya tahun ini ia diangkat menjadi karyawan tetap. Namun sehari sebelum kontraknya habis, bagian HRD memberi tahunya bahwa perusahaan tidak akan memperpanjang kontraknya. "Rasanya bagai disambar petir," kata Riska.
Kini ia tanpa pendapatan, dan menyisakan cicilan rumah yang baru dibelinya pada tahun lalu. Riska mengaku sudah mendaftar untuk kartu prakerja, tapi belum ada balasan.
Satu hal yang paling Riska sayangkan ialah tahun ini ia tidak bisa mengirimkan uang kepada keluarganya. Biasanya ia membelikan baju lebaran untuk orang tuanya, juga membagikan 'THR' kepada para keponakan.
"Sekarang, lagi kondisi kayak gini, buat diri sendiri aja syukur-syukur cukup," kata Riska. Malah, ia mungkin harus meminta bantuan ke kakak-kakak dan orang tuanya demi menyambung hidup.
Riska mengatakan ia merasa sedih dan marah sekaligus pasrah dengan situasinya.
"Mau marah, saya enggak bisa marah ke siapa. Mau menyalahkan, saya enggak bisa menyalahkan siapa-siapa."
'Saya harap virus corona cepat hilang dari Indonesia'
Bagi Ahmad Munir, 38 tahun, pandemi virus corona adalah kejutan besar. Penghasilannya anjlok dari Rp12-13 juta per bulan dari berjualan buah-buahan ke kafe di sekitar kota Yogyakarta, menjadi nol rupiah.
Sebagai wirausahawan, bapak dua anak itu menganggap ini sebagai dinamika bisnis. Tapi ia menyayangkan bahwa pada Lebaran tahun ini ia tidak bisa "berbagi rezeki".
Sudah menjadi kebiasaan bagi pria asal Madura itu di saat Lebaran, membagikan hadiah dalam bentuk uang atau makanan dengan kerabat dan handai tolan di kampung halamannya.

Sumber gambar, Ahmad Munir
"Satu, memang [karena] transportasi yang sulit. Terus uang cuma cukup di kita, enggak bisa nyelengin," kata Cak Munir — begitu ia biasa dipanggil.
Kesempatan untuk berkumpul bersama keluarganya itu menjadi hal yang paling ia rindukan, serta suasana kampung halamannya yang sejuk karena terletak di kaki gunung.
Tak bisa mudik, tahun ini Cak Munir memilih untuk berbagi dengan para pegawainya, yang ia anggap sebagai mitra usaha di Yogyakarta. Anak-anak yang kebanyakan merupakan mahasiswa itu, juga tidak bisa mudik, ia tampung dan ia ajak untuk makan-makan bersama.
Di hari Lebaran, Cak Munir berharap virus corona bisa segera hilang dari Indonesia dan kehidupan bisa kembali normal.
"Masyarakat Indonesia sehat, bisa merayakan Idul Fitri bareng-bareng. Dan pemerintah setempat maupun pusat bisa mengalokasikan dana bantuan pada yang berhak," ujarnya.
Tulisan ini merupakan tulisan kedua dari rangkaian informasi seputar Lebaran yang tahun ini harus dijalani dengan pengalaman-pengalaman berbeda di tengah keprihatinan karena pandemi virus corona.











