Virus corona: Iran dituduh 'sebar virus ke 16 negara dan dianggap mengecilkan skala masalah'

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, BBC Monitoring
- Peranan, Essential Media Insight
Iran merupakan salah satu negara yang paling buruk terlanda wabah Covid-19.
Namun pemerintahnya terus menyangkal besaran skala epidemi di sana.
Kini Iran menghadapi tantangan besar dengan mendekatnya Tahun Baru Persia yang dikenal dengan nama Nowruz yang jatuh tanggal 20 Maret.
Dalam 16 hari, Covid-19 telah menyebar di seluruh 31 provinsi di Iran.

Sumber gambar, Getty Images
Selain itu, 16 negara mengaku bahwa virus di negara mereka berasal dari Iran: Irak, Afghanistan, Bahrain, Kuwait, Oman, Lebanon, Uni Emirat Arab, Kanada, Pakistan, Georgia, Estonia, Selandia Baru, Belarusia, Azerbaijan, Qatar dan Armenia.
Namun, menurut para pengkritik, pemerintah Iran terus mengecil-ngecilkan wabah itu.

Pengumuman pertama di Iran adalah 19 Februari. Pemerintah menekankan agar warga tak perlu takut, sembari Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei menuduh "musuh-musuh" Iran membesar-besarkan ancaman virus corona.
Seminggu kemudian Presiden Hassan Rouhani mengulang pesan sang Ayatullah di tengah jumlah kasus dan kematian yang meningkat.
Katanya ini merupakan persekongkolan musuh Iran, dan ia menyarankan warga meneruskan hidup sehari-hari.
Belakangan, stasiun TV pemerintah menyatakan virus corona bisa saja merupakan "senjata biologis" yang dirancang oleh Amerika Serikat. Ayatullah juga bercuit tentang "serangan biologis".

Sumber gambar, Getty Images
Tanggal 19 Maret sudah ada 17.361 kasus, dengan angka kematian 1.135, menurut menteri kesehatan. Ini menempatkan Iran di urutan ketiga setelah China dan Italia.
Para dokter dari provinsi paling terdampak - Gilan, Golestan and Mazandarn - menyatakan hanya ada sedikit alat tes, dan keterbatasan alat medis, termasuk tangki oksigen, masker dan sarung tangan medis.
Dokter kini bekerja di rumah sakit darurat.
Salah satu dokter meggambarkan stadion sepak bola diperlengkapi dengan tempat tidur untuk menangani melimpahnya pasien.

Sumber gambar, Getty Images
Semua dokter yang ditemui oleh BBC berkata, berdasar pengalaman mereka, angka statistik resmi mencatat lebih rendah daripada kasus sebenarnya.
Salah seorang dokter di IGD di Provinsi Golestan bilang rumah sakitnya menampung rerata300 pasien sehari dan ia perkirakan 60%-70% terinfeksi corona.
Namun karena kekurangan sumber daya, hanya yang kritis yang diterima.
Hanya yang diterima itu yang dihitung oleh statistik.
Sang dokter menggambarkan ia kehilangan lima pasien sehari dalam dua minggu terakhir. Kadang, katanya, saat ada yang datang membawa alat tes covid-19, pasiennya sudah keburu meninggal.

Sumber gambar, Getty Images
Petugas medis juga kehilangan rekan-rekan mereka.
Satu kisah tragis menimpa Narjes Khanalizadeh, 25 tahun, seorang perawat dari kota Lahijan yang meninggal akhir Februari.
Fotonya beredar di media sosial dan pemerintah menyangkal penyebab kematiannya adalah Covid-19.

Stasiun TV pemerintah terus menampilkan petugas medis yang santai dan tanpa takut bekerja di garis depan, melawan virus dan menyelamatkan pasien.
Namun sesaat setelah kematian, organisasi perawat Iran menyatakan kematian Narjes disebabkan oleh virus corona.
Mengapa virus menyebar dengan cepat?
Menurut pemerintah ada dua "pasien zero", keduanya meninggal di kota Qom tanggal 19 Februari, satu di duga terpapar di China.
Lalu Qom jadi pusat penyebaran wabah.
Kota ini sangat penting bagi kaum Syiah karena mengundang 20 juta peziarah domestik dan 2,5 peziarah internasional setiap tahun.
Setiap minggu selalu ada peziarah di kota itu, memberi penghormatan dengan menyentuh dan mencium sejumlah kuil dan tengara kota.

Sumber gambar, Getty Images
Namun alih-alih menutup kota demi mencegah penyebaran, ulama Mohammad Saeedi yang juga wakil Ayatullah, terus menyerukan kunjungan ke Qom.
"Kuil suci ini tempat penyembuhan," katanya. "Orang bisa sembuh secara jasmani dan rohani dengan datang ke sini".

Sumber gambar, Getty Images
Richard Brennan, direktur operasi darurat WHO yang baru kembali dari Qom mengatakan, "Karena posisi Qom sebagai pusat spiritual, orang datang dari dalam dan luar Iran, maka virus dengan cepat menyebar dari sana."
Katanya, selama kunjungannya ia melihat "upaya sungguh-sungguh" untuk meningkatkan tes dan operasi rumah sakit di Qom dan Teheran.
Tempat suci di Qom kini sudah ditutup.

Sumber gambar, MEHDI MARIZAD
Apakah pemerintah mengecil-ngecilkan wabah?
Ada dua peristiwa besar bulan Feburari, ulang tahun ke-41 Revolusi Islam dan pemilu parlemen.
Seorang dokter senior beberapa kali mengirim laporan ke pejabat kementrian kesehatan sehari sebelum peringatan ulang tahun, akan adanya kemungkinan wabah setelah melihat adanya penyakit pernapasan yang abnormal.
"Kami yakin pejabat itu memutuskan untuk menyembunyikan laporan agar acara kenegaraan tetap bisa berlangsung".

Sumber gambar, Getty Images
Baik perayaan maupun pemilu dianggap sebagai ujian kepopuleran oleh pemerintah setelah sebelumnya terjadi protes panjang kenaikan harga bahan bakar.
Juga sedang ada ketegangan dengan AS terkait pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani.
Sesaat sesudah pemilu Ayatullah Ali Khamenei menuduh "musuh" Iran membesar-besarkan soal virus corona ini agar warga tak ikut pemilu.

Sumber gambar, Getty Images
Lima hari sesudah pemilu, jumlah kasus yang dikonfirmasi pemerintah meningkat jadi 139, dengan 19 kematian.
Di hari yang sama, Ahmad Amirabadi Farahani, anggota parlemen asal Qom mengatakan 50 orang meninggal di Qom dalam dua pekan terakhir.
Ini dibantah Wakil Menteri Kesehatan Iraj Harirchi yang melakukan jumpa pers sembari berkeringat dan batuk-batuk.
Ia kemudian diumumkan positif virus corona dan menjadi orang terkenal pertama di Iran yang positif.
Harirchi dilaporkan telah pulih dan muncul di TV 13 Maret.

Sumber gambar, Getty Images
Kehidupan di Iran saat ini
Pemerintah Iran kini melarang kumpul dalam acara pemakaman.
Beberapa ulama termasuk Ayatullah mengeluarkan fatwa melarang pemandian jenazah seperti biasanya untuk melindungi pada "mordeshoors", petugas pemandi jenazah.

Sumber gambar, Getty Images
Saat WHO menyerugak adanya "tindakan segera dan agresif" secara internasional, respon Iran tetap berada di belakang negara-negara seperti China dan Italia.
Sekolah, kampus dan sekolah agama sudah ditutup.
Pertandingan sepak bola dibatalkan, disinfeski skala besar dimulai di Teheran. Warga diminta tak bepergian dan tinggal di rumah, dan untuk pertama kalinya sejak menjadi Republik Islam Iran di tahun 1979, salat Jumat berjamaah ditiadakan.
Untuk membatasi penyebaran di penjara, 155.000 napi dibebaskan sementara termasuk tahana politik.
Banyak mereka yang kesehatannya buruk termasuk warga Inggris-Iran, Nazanin Zaghari-Ratcliffe.
Namun gedung pemerintah, kantor dan bank tetap buka.

Sumber gambar, Getty Images
Ahli medis dari dalam dan luar Iran berpendapat, pemerintah harus transparan dalam angka sesungguhnya dan menutup kota seperti Qom kalau tak mau virus melumpuhkan seluruh negeri.
Presiden Rouhani berulang kali mengatakan pemerintah tak ada menutup wilayah. "Seluruh toko tetap buka dan semua orang tetap melakukan kegiatan," katanya.

Sumber gambar, Getty Images
Dipercaya, keputusan ini diambil karena Iran tak mampu menutup wilayah. Sanksi AS telah melumpuhkan ekonomi negeri itu.
Tahun Baru Persia yang segera datang merupakan momen yang biasanya dirayakan di seluruh negeri.
Fatemeh, seorang pensiunan guru mengatakan, "Seluruh hidupku tak pernah kuingat aku tinggal di rumah saja saat Nowruz. Bahkan saat perang, saat Saddam menyerang kota dengan bom, kami tetap saling berkunjung selama Nowruz."











