You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
'Kota Perempuan': Suaka bagi para perempuan yang terusir di Kolombia
- Penulis, Megan Janetsky
- Peranan, Turbaco, Colombia
Selama lebih dari setengah abad konflik bersenjata di Kolombia, pertumpahan darah antara gerilyawan sayap kiri, kelompok paramiliter sayap kanan, dan tentara pemerintah memaksa hampir delapan juta orang meninggalkan rumah mereka.
Kaum perempuan dan Afro-Kolombia khususnya menghadapi tingkat kekerasan yang lebih besar dalam konflik tersebut, dan sering kali terusir ke kota yang jauh tanpa membawa apa-apa dan siapa-siapa.
Di sebuah permukiman miskin di kota pesisir Cartagena yang terik, sekelompok perempuan yang terusir dari tempat tinggal mereka memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Mereka membentuk Liga Perempuan Pengungsi pada tahun 2003 dan merintis komunitas mereka sendiri dari nol: Kota Perempuan.
- 'Mereka menembak mati anjing peliharaan saya, karena saya perempuan' - kisah perempuan Afghanistan dan anjing kesayangannya
- Foto mahasiswi disamarkan organisasi kampus, 'lama-lama gagasan perempuan dihilangkan'
- 'Dukun mencabuli saya', kisah perempuan-perempuan yang mengalami pelecehan seksual di pusat pengobatan tradisional
Kota yang terletak di dekat wilayah administrasi Turbaco itu terdiri dari 100 rumah yang dibangun para perempuan itu dengan tangan mereka sendiri.
Dalam konflik bersenjata di Kolombia, kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan seksual, dilakukan untuk menebar ketakutan.
Banyak perempuan di Kota Perempuan adalah penyintas kekerasan tersebut.
Kota menawarkan tempat berlindung bagi para perempuan dan keluarga mereka yang menghadapi pembunuhan, pemerkosaan, ancaman, dan kekerasan lain baik saat di rumah maupun dalam pelarian.
Semua kejahatan terhadap mereka tetap lolos dari jeratan hukum.
Perjuangan itu telah menyatukan mereka dan memberi mereka kekuatan untuk melawan balik hal-hal seperti machismo, norma sosial, dan stigma terhadap orang-orang terusir yang masih mengemuka di banyak daerah di Kolombia.
"Perang telah merampas rumah kami, memutus kami dari adat-istiadat kami, mimpi kami, tanah kami."
Consuelo Villega Mendoza, 44 tahun, berasal dari sebuah kota di utara bernama Sucre, dan terpaksa mengungsi setelah kelompok paramiliter mulai membantai komunitas di dekat rumahnya.
"Hanya soal waktu sampai itu terjadi pada saya," ujarnya. Saya pergi karena takut.
Bersama anak perempuannya, ia menjalankan restoran di rumah yang ia bangun. Mereka memasak mondongo, hidangan sup khas Kolombia.
"Menjadi bagian dari Liga Perempuan Pengungsi telah banyak membantu saya karena mereka mengajari saya untuk melanjutkan hidup. "
Sebuah plakat bertulisan "La Ciudad de Mujeres" mengatakan Liga mewujudkan mimpi para perempuan akan kehidupan yang bermartabat menjadi kenyataan.
Para perempuan di Kota telah berjuang mendapatkan keadilan untuk kejahatan yang dilakukan terhadap mereka, namun semua 159 kasus kekerasan dan pengusiran berbasis gender masih belum terselesaikan.
Alneris Orozco Caupo, 47 tahun, berpose untuk foto di depan cermin di rumahnya di Kota Perempuan.
Berasal dari wilayah Cesar di barat laut, ia terpaksa melarikan diri bersama dua anaknya yang masih kecil lebih dari 20 tahun yang lalu karena konflik teritorial antara kelompok paramiliter dan pemberontak FARC.
Ia dengan bangga memamerkan foto-foto anak-anaknya lulus dari SMA dan universitas, hal yang tidak pernah bisa ia capai karena peristiwa kekerasan itu.
Elvia Bautista, 53 tahun, dari wilayah Córdoba di Kolombia menunjukkan topi kecil yang ia buat dari serat tumbuh-tumbuhan di dekat rumahnya.
Sebelum terusir dengan paksa, ia biasa menenun topi tradisional Kolombia sombrero yang besar, tapi tumbuhan yang dahulu tumbuh dekat rumahnya di Cordoba tidak ada di dataran kering dekat Turbaco, jadi ia berusaha sebisanya untuk menenun dan menjual topi yang kecil.
Erika Maria Gamarra Caro, 42 tahun, berasal dari El Carmen de Bolivar dan melarikan diri ke Cartagena setelah anggota keluarganya dibunuh selama pembantaian yang dilakukan oleh kelompok paramiliter sayap kanan saat mereka bertempur dengan pemberontak sayap kiri FARC.
Ia mengaku berulang kali mengalami pelecehan seksual selama pelariannya tapi Liga telah membantunya pulih.
"Saya menyadari saya adalah perempuan dan saya punya hak, dan saya mulai menuntutnya," katanya.
"Sekarang, saya bukan lagi perempuan yang pemalu, saya bukan perempuan yang tidak bisa berbicara karena ketakutan atau perasaan bahwa sebagai permepuan saya tidak berarti apa-apa."
Saat membangun rumah mereka, banyak anggota komunitas yang dibunuh, diperkosa, dan diancam, tapi mereka mengatakan kota yang selesai berdiri sebagai simbol perlawanan damai.
Carmen Beluas, 45 tahun, meninggalkan rumahnya di Copey pada akhir 1990-an setelah suaminya dibunuh tentara paramiliter yang menuduhnya terlibat dengan gerilyawan.
Ia pergi bersama tiga anaknya dan tiba di Cartagena tanpa mengenal siapa-siapa. Ia mengatakan ia akan selalu mengingat saat-saat suaminya direnggut dari dirinya.
"Itu sesuatu yang tidak akan pernah kembali normal. Saya tahu saya punya anak-anak saya, tapi tetap ada hal-hal yang tidak akan pernah saya lupakan."
Terlepas dari namanya, Kota Perempuan juga ditinggali penduduk laki-laki.
Para perempuan, seringkali kepala rumah tangga, mendirikan kota sebagai tempat tinggal bagi anak-anak dan pasangan mereka dan komunitas mereka tumbuh ketika para anggotanya memulai keluarga mereka sendiri di Kota Perempuan.
Suami dan putra pemimpin komunitas Eidavis Montes merawat bayinya di ruang tamu rumahnya.
Shayla Monterlaza yang berusia tujuh tahun, cucu perempuan terlantar, belajar di depan sekolah komunitas bersama keluarganya.
Komunitas ini sepenuhnya mandiri dan memiliki sekolah, toko, restoran, dan pusat komunitas untuk anak-anak seperti Shayla.
Eidavis Montes dan sesama pemimpin komunitas Lubis Cardenas mengatakan bahwa Kota telah mengubah peran dan pandangan perempuan tentang kehidupan.
"Sering kali wanita di pedesaan malu-malu, mereka merawat anak-anak, mengurus suami mereka. Jika Anda tidak tahu apa-apa lagi, Anda akan selalu berada dalam peran itu," kata Eidavis Montes.
Seiring Kolombia berjuang untuk bangkit dari konflik bersenjata yang telah berlangsung lebih dari setengah abad, para wanita di Kota berencana untuk menceritakan kisah mereka dan mencari keadilan di hadapan sistem pengadilan transisi negara itu.
"Kehidupan yang kami ciptakan ini mengajarkan saya bahwa saya adalah seorang perempuan dengan hak, bahwa kita bisa melakukan hal-hal lain," imbuh Montes.
Semua foto diambil Megan Janetsky memiliki hak cipta.