You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
'Saya berjalan selama satu setengah jam sambil membawa jenazah istri saya' – Cerita demonstran di Iran
- Penulis, Sarah Namjoo and Roja Assadi
- Peranan, BBC Persian
- Waktu membaca: 5 menit
Peringatan! Artikel ini berisi deskripsi tentang kematian dan luka fisik.
Dalam perjalanan pulang setelah mengikuti demonstrasi di Teheran, pada 8 Januari lalu, Reza merangkul istrinya, Maryam. Dia ingin melindungi istrinya.
"Tiba-tiba, lenganku terasa ringan, hanya jaketnya yang ada di tanganku," kata Reza kepada seorang anggota keluarga, yang kemudian berbicara kepada BBC Persia.
Pada saat itu, Maryam ditembak hingga tewas. Reza dan kerabatnya tidak tahu dari mana peluru itu berasal.
Reza kemudian membopong jenazah Maryam selama satu setengah jam.
Karena kelelahan, ia duduk di sebuah gang. Setelah beberapa saat, pintu rumah di dekatnya terbuka. Orang-orang yang tinggal di rumah itu membawa Reza dan jenazah Maryam ke garasi mereka.
Keluarga itu memberikan selembar kain putih untuk membungkus jenazah Maryam.
Beberapa hari sebelum Maryam mengikuti unjuk rasa, dia telah memberi tahu dua anaknya, masing-masing berusia 7 dan 14 tahun. Maryam menginformasikan tentang apa yang terjadi di negara mereka.
"Terkadang orang tua pergi ke demonstrasi dan tidak kembali," kata Maryam. "Darahku dan darah kalian, tidak lebih berharga daripada darah orang lain," tuturnya.
Nama Reza dan Maryam adalah nama samaran yang kami gunakan atas alasan keamanan narasumber dan keluarga mereka.
Maryam adalah salah satu dari sekian demonstran diyakini telah tewas. Otoritas keamanan Iran merespons gelombang unjuk rasa dengan tindakan keras yang mematikan. Namun ada pula kematian yang belum jelas pelakunya.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat mengklaim telah memastikan fakta kematian setidaknya 2.400 demonstran, termasuk 12 anak-anak, selama tiga minggu terakhir.
Sangat sulit untuk menentukan jumlah korban tewas, salah satunya karena pemadaman internet yang hampir total masih diberlakukan pemerintah Iran.
Sementara itu, kelompok advokasi hak asasi manusia juga tidak memiliki akses langsung ke Iran.
Adapun, seperti organisasi berita internasional lainnya, BBC tidak dapat melakukan reportase ke lapangan.
Pemerintah Iran belum mengumumkan jumlah korban tewas di kalangan demonstran. Namun sejumlah media lokal telah melaporkan 100 personel keamanan telah tewas.
Gelombang demonstrasi kali ini diyakini bermula dari ibu kota, Teheran, pada 29 Desember silam. Pemicunya adalah penurunan tajam nilai mata uang Iran terhadap dolar AS.
Ketika protes mencapai puluhan kota dan daerah lain, muncul pula narasi warga menentang rezim Iran di bawah Ayatollah Ali Khamenei.
Sejak demo akhir Desember itu, pasukan keamanan Iran melancarkan penindakan keras dan brutal. Setidaknya 34 demonstran dilaporkan tewas pada 7 Januari lalu atau pada hari ke-11 demonstrasi.
Namun, penindakan paling berdarah terjadi pada jelang akhir pekan lalu, ketika ribuan orang turun ke jalan di seluruh negeri dan menyerukan diakhirinya kekuasaan Ayatollah Ali Khamenei.
BBC Persia telah menerima puluhan laporan dari dalam Iran. Meskipun menghadapi potensi dampak buruk, para saksi mengatakan mereka ingin memastikan seluruh dunia mengetahui kekerasan yang dialami pengunjuk rasa.
"Lingkungan kami berbau darah. Mereka (pasukan keamanan) membunuh begitu banyak orang," kata seorang warga kepada BBC Persia.
Unjuk rasa telah menyebar ke seluruh 31 provinsi. Dan informasi yang masuk dengan jelas menunjukkan skala pembunuhan di kota-kota kecil sama parahnya dengan di kota-kota besar.
Di Tonekabon, sebuah kota berpenduduk 50.000 jiwa di utara Iran, perempuan bernama Sorena Golgun tewas pada 9 Januari lalu.
Mahasiswi berusia 18 tahun itu diduga "ditembak di bagian jantung" saat melarikan diri dari penyergapan pasukan keamanan, menurut kerabatnya.
Seperti Sorena, banyak demonstran lain yang tewas adalah orang-orang muda.
Robina Aminian, seorang mahasiswi jurusan desain busana berusia 23 tahun, dilaporkan ditembak mati di Teheran pada 8 Januari lalu.
Ibunya menghabiskan waktu sekitar enam jam perjalanan dari rumah mereka, di kota Kermanshah di bagian barat, untuk mengambil jenazah Robina dari Teheran.
Dalam perjalanan pulang, sang ibu memeluk putrinya tercinta. Tetapi ketika tiba, pasukan keamanan memaksanya untuk menguburkan jenazah di pemakaman terpencil di luar kota, tanpa kehadiran keluarga atau teman lainnya.
Tidak semua yang tewas adalah demonstran. Navid Salehi, seorang perawat berusia 24 tahun di Kermanshah, juga diduga ditembak saat pulang kerja, 8 Januari lalu.
Sejumlah jenazah dikirim ke Pusat Medis Forensik Kahrizak, di Teheran.
Pemandangan di tempat itu sangat menyedihkan sehingga Sahanand, yang tidak ingin menyebutkan nama aslinya, memutuskan untuk melakukan perjalanan hampir 1.000 kilometer ke daerah perbatasan agar dapat mengirimkan rekaman video menggunakan jaringan data seluler negara-negara tetangga.
Pada 10 Januari lalu, Sahanand mengklaim telah melihat ribuan jenazah.
Sekali lagi, BBC tidak memiliki cara untuk mengkonfirmasi hal ini.
Namun, dalam dua video yang baru muncul dari Kahrizak, BBC Verify dan BBC Persia telah menghitung setidaknya 186 jenazah dalam satu rekaman dan setidaknya 178 jenazah dalam rekaman lainnya.
Kedua video tersebut mungkin menunjukkan beberapa jenazah yang sama, sehingga BBC tidak dapat memastikan angka pastinya.
Seorang perempuan muda, yang berbicara kepada BBC Persia dengan syarat anonim, menggambarkan peristiwa pekan lalu seperti "perang".
Para pengunjuk rasa, kata dia, lebih bersatu dari gelombang protes sebelumnya. Namun situasi ini berat baginya sehingga dia memutuskan melarikan diri dari Iran.
"Saya benar-benar takut dengan apa yang mungkin terjadi pada mereka yang masih berada di Iran," ujarnya.
Laporan tambahan oleh Farzad Seifikaran dan Hasan Solhjou