Apakah laki-laki muda kini semakin jarang berhubungan seks?

Sumber gambar, Getty Images/Jo Hale
- Penulis, Harvey Day
- Peranan, BBC Three
- Waktu membaca: 4 menit
Menurut penelitian ilmiah di Amerika Serikat, kondisi tempat tinggal, gim video, Netflix adalah faktor pemicu terbesar fenomena ini.
Seks, sebagaimana pepatah kuno, merupakan hal yang sangat menjual.
Dan begitu banyak kajian yang mengungkap bagaimana manusia modern berkelindan dengan pornografi, keperawanan, dan hubungan badan tanpa ikatan perkawinan.
Sebuah penelitian terbaru menyebut bakal ada pergeseran besar dalam cara pandang dan perilaku terhadap seks, setidaknya di kalangan laki-laki muda di AS.
Kajian itu dikerjakan National Opinion Research Center (NORC), bagian dari Universitas Chicago.
Laporan yang belakangan dianalisis dan diinterpretasi oleh Washington Post itu mengungkap bahwa jumlah remaja lelaki AS yang melakukan hubungan seks semakin sedikit dibandingkan periode sebelumnya.
Survei tersebut mewawancarai ribuan responden dan telah dikerjakan sejak 1972. Terungkap bahwa 23% orang dewasa di AS tidak berhubungan seksual selama setahun terakhir.
Jumlah itu meningkat dua kali lipat selama 10 tahun terakhir dan sebagian besar orang dewasa tersebut diperkirakan laki-laki.
Jajak pendapat itu juga menunjukkan, persentase laki-laki di bawah 30 tahun yang mengaku tidak berhubungan seksual selama satu tahun terakhir naik tiga kali lipat ke angka 28%.
Di kalangan perempuan pada kelompok umur yang sama, persentasenya hanya 8%.
Data yang diraih dengan metode wawancara tatap muka ini juga menemukan fakta, lebih dari setengah penduduk dewasa AS berusia 18-34 tahun tidak memiliki pasangan tetap.
Persentase para lajang itu mencapai 51%, naik dari sekitar 33% pada tahun 2004.

Sumber gambar, Getty Images/Barbara Alper
Lantas kesimpulan apa yang bisa ditarik dari hasil jajak pendapat itu? Dan apakah fenomena ini juga terjadi di negara lain, termasuk Inggris?
Profesor Simon Forrest dari Institute for Health & Society di Universitas Newcastle, menyebut meski penelitian di AS tersebut sahih dan didasarkan pada data yang masif, hasilnya tidak dapat disamakan dengan fenomena yang terjadi di Inggris.
"Saya tak yakin tren yang sama berlangsung di Inggris, setidaknya merujuk kajian jangka panjang Badan Survei Nasional Perilaku Seksual dan Gaya Hidup (NATSAL) yang dilakukan setiap dekade," ujar Forrest.
"Namun survei terdekat baru akan berlangsung tahun 2020, sehingga kita kini bertanya-tanya apakah yang terjadi di AS dapat menjadi tren di Inggris pada masa depan," tuturnya.
Terakhir kali Inggris melakukan servei ini, kata Forrest, mayoritas lelaki dan perempuan muda mengaku pernah berhubungan seksual selama setahun terakhir.
Artinya, belum ada indikasi generasi muda Inggris mulai meninggalkan aktivitas seksual tersebut.
Bagaimanapun, karena faktor sosial dan kultural yang serupa antara AS dan Inggris, Profesor Forrest menganggap perlu dilakukan kajian untuk mengetahui penyebab fenomena hubungan seksual yang makin ditinggalkan.
Menurut Forrest, anak muda kini cenderung menunuda membangun hubungan jangka panjang. Alasannya, banyak muda-mudi yang baru mencapai kemapanan finansial di usia 30-an tahun.
"Ini adalah suatu hal yang sangat berubah selama 50 tahun terakhir," kata dia.
Forrest juga menyebut faktor kebergantungan anak-anak muda. Banyak di antara mereka, kata Forrest, masih tinggal bersama dan meminta bantuan finansial dari orang tua.
"Ini jelas berdampak pada hubungan di antara muda-mudi karena ketidakmandirian sangat berpengaruh pada pola sosial itu," ujarnya.
Forrest juga menyebut kecenderungan masyarakat yang kini semakin terkungkung pornografi sebagai salah satu faktor. Kemudahan mengakses pornografi yang bertebaran di internet disebutnya mempengaruhi hubungan seksual.
Forrest menggarisbawahi kecenderungan anak muda memberi perhatian lebih pada objektifikasi tubuh mereka, termasuk kepada perilaku tidak pantas terhadap perempua yang semakin tinggi.

Sumber gambar, Getty Images/Robert Alexander
Penilaian Forrest muncul seiring survei yang dilakukan BBC Three dalam program televisi Porn Laid Bere, yang melibatkan seribu responden berusia 18-25 tahun di Inggris. Temuannya, 55% responden laki-laki mengakui bahwa video porno adalah sumber utama mereka untuk mendapatkan pendidikan seks.
Di sisi lain, Jean Twenge, guru besar psikologi di Universitas Negeri San Diego, AS, menyebut gim video dan Netflix turut mempengaruhi sikap anak terhadap seks.
"Sekarang ada banyak hal yang bisa dilakukan jam 10 malam, ketimbang 20 tahun lalu. Mengakses video secara online, media sosial, gim konsol, dan hal-hal lainnya," kata Twenge.
Di media sosial, sejumlah warganet mengungkapkan pendapat mereka terkait fenomena ini. Ada yang menganggap aplikasi kencan turut menjadi faktor.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan, 1
Sementara waganet lainnya menyebut persoalan keuangan dan tekanan pekerjaan.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan, 2
Sekitar 45% dari total 2.066 orang dewasa, dalam survei BBC Radio 5 tahun 2018 terkait hubungan seksual, menyebut stres mempengaruhi persoalan di kamar tidur. Namun setengah dari mereka masih merasa puas dengan kehidupan seks.
Pakar hubungan seks, Ellen Brady, mengatakan, "Kami melihat begitu banyak klien menghadapi kegelisahan, kebimbangan dan seks yang sama sekali tidak saling mendukung."
Sementara itu, aplikasi kencan, yang mengubah cara kita menemukan pasangan hidup maupun hubungan seks singkat, memiliki dampak berbeda terhadap laki-laki dan perempuan.
Tahun 2016, sejumlah peneliti dari Universitas Queen Mary London, Universitas Sapienza Roma, dan Royal Ottawa Heatlh Care Group mengkaji perilaku pengguna aplikasi Tinder.
Temuan mereka, perempuan hanya memperhatikan laki-laki yang menunjukkan keseriusan kepada mereka. Sebaliknya, laki-laki pengguna Tinder tidak begitu ketat memilih pasangan.
Jadi, meski laki-laki lebih bebas memilih pasangan di Tinder, mereka tidak cukup berhasil menemukan yang sesuai.
Dan sebenarnya apa masalah di balik pemuda yang makin jarang berhubungan seksual? Barangkali anak-anak muda itu memang memiliki hal-hal penting di internet.












