Kaum belia yang menyambut 38.000 Jamaah Ahmadiyah

Tanveer Ahmad

Sumber gambar, Owen Harvey

Keterangan gambar, Tanveer sudah menjadi relawan sejak usia sangat dini.
    • Penulis, Atif Rashid
    • Peranan, BBC News

Saat itu Tanveer, 12, dan Shakeeba, 10, sedang membagikan air kepada para delegasi yang kehausan di tengah teriknya pedalaman Hampshire, Inggris.

Mereka adalah bagian dari 7.000 relawan, sebagian besar kaum muda, yang mengelola acara Jalsa Salana (musyawarah tahunan) Jamaah Muslim Ahmadiyah.

Sekitar 38.000 tamu dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sebuah peternakan kosong di Alton, yang diubah menjadi desa darurat yang sangat lengkap.

Sekarang memasuki tahun ke-52, Jalsah Salana berlangsung selama tiga hari setiap musim panas dan sepenuhnya didanai oleh sumbangan dari para anggota jamaah. 

Jamaah Ahmadiyah

  • Gerakan global beranggotaan puluhan juta orang di 200 negara
  • Dianggap bidah oleh Muslim lainnya karena percaya bahwa pendirinya, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, dianggap semacam Imam Mahdi, bahkan 'nabi' yang mengabdi kepada Muhammad, dan dibandingkan dengan kebangkitan Nabi Isa
  • Dilarang di Pakistan dan dianiaya di beberapa negara Muslim lainnya
  • Di Inggris sejak 1913
  • Membangun masjid pertama di London, di Southfields, Wimbledon, pada tahun 1926
Flags at the UK's largest Islamic convention

Sumber gambar, Owen Harvey

Keterangan gambar, Acara tiga hari itu dihadiri utusan dari lebih 100 negara.

'Perempuan begitu bebas'

Banyak tamu yang menghadiri acara ini terkejut atas apa yang mereka lihat, kata Danila Jonnud, 13, dari Aldershot, yang memandu tur para undangan luar di acara Jalsa.

"Mereka terkejut dengan betapa bebasnya para perempuan dan betapa beragamnya," katanya.

Betapa pun, kaum perempuan beribadah secara terpisah, sebagaimana di masjid.

Mereka mengelola sendiri jamaah perempuan di separuh dari lokasi acara.

Mirza Masroor Ahmad, pemimpin Jamaah Ahmadiyah, memberikan pidato di Jalsa Salana.

Sumber gambar, Kalim A.Bhatti

Keterangan gambar, Mirza Masroor Ahmad, pemimpin Jamaah Ahmadiyah, memberikan pidato di Jalsa Salana.

Penyelenggara mengatakan privasi mereka dihormati dan lelaki dan perempuan bisa berkonsentrasi pada urusan-urusan agama dalam suasana spiritual.

Pria tidak diizinkan masuk kawasan perempuan namun perempuan sering mengunjungi kawasan pria untuk melihat pameran dan acara khusus.

"Di media mereka hanya mendengar bahwa perempuan ditindas terkait jilbab, dan mereka merupakan milik suami. Namun ketika mereka berada di kawasan perempuan, mereka begitu bebas, berjalan-jalan, berbelanja, makan, mendengarkan pidato.

"Tidak ada tanda-tanda penindasan," kilahnya pula.

Danila Jonnud

Sumber gambar, Owen Harvey

Keterangan gambar, Danila adalah satu dari 3.000 relawan.

"Siapa pun yang datang ke sini, akan mengubah pandangan mereka sepenuhnya."

"Banyak orang memiliki pendapat yang salah dan terlalu berpikiran sempit, menggeneralisasi semua orang Islam.

"Jika Anda cukup berpikiran terbuka untuk datang ke Jalsa, persepsi Anda akan berubah dan Anda akan lebih berpikiran terbuka."

Danila telah menjadi sukarelawan di sini sejak kecil dan bercita-cita mengembangkan karir di bidang jurnalisme.

Acara itu disiarkan melalui televisi ke berbagai penjuru dunia, ditonton lebih dari 80 juta orang, diterjemahkan pidatonya ke berbagai bahasa.

Sumber gambar, Owen Harvey

Keterangan gambar, Acara itu disiarkan melalui televisi ke berbagai penjuru dunia, ditonton lebih dari 80 juta orang, diterjemahkan pidatonya ke berbagai bahasa.

'Kepanasan dan kehausan'

Bergerak di antara deretan tamu yang duduk di tenda raksasa sambil membawa gelas plastik dan botol air, Tanweer Ahmad, 12, dari Tooting, London menjalankan tugasnya dengan serius.

Dia mengatakan, "Orang-orang kepanasan dan kehausan dan mereka tidak mau beranjak untuk mencari air, karena jika mereka meninggalkan tenda, mereka mungkin kehilangan beberapa informasi atau fakta penting yang disampaikan di acara itu."

Tanweer membagikan air kepada peserta yang kepanasan dan kehausan.

Sumber gambar, Owen Harvey

Keterangan gambar, Tanweer membagikan air kepada peserta yang kepanasan dan kehausan.

Dia ternyata sudah membantu acara tahunan itu dengan membagikan air sejak dia berusia enam tahun.

Dia mengatakan: "Kadang-kadang kita juga dapat mendengarkan pidato-pidatonya.

Menjadi relawan ini, katanya, "membuat kita memiliki kebiasaan baik membantu orang."

Dia sekarang duduk di tahun ke-delapan di sekolahnya, menyukai matematika dan pendidikan olah raga dan bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah untuk menjadi imam.

Para relawan di dapur umum yang menyiapkan makanan untuk puluhan ribu peserta.

Sumber gambar, Owen Harvey

Keterangan gambar, Para relawan di dapur umum yang menyiapkan makanan untuk puluhan ribu peserta.

Membantu itu luar biasa'

Shakeeba Khan, dari Tolworth, London, melakukan peran yang sama di seksi perempuan. Dia ingin berbuat lain selama liburan musim panasnya.

"Saya kira tidak liburan tidak harus hanya tentang bersenang-senang, kita bisa juga melakukan sesuatu yang berguna, juga bekerja.

"Hal ini mengajarkan saya untuk membantu orang. Saya pikir orang harus membantu setiap saat karena membantu adalah perbuatan yang luar biasa."

Shakeeba Khan

Sumber gambar, Owen Harvey

Keterangan gambar, Shakeeba Khan mengatakan, di masa depan ingin menjadi guru.

Shakeeba, yang ingin menjadi guru sekolah dasar, jadi relawan yang melayani pembagian air di Jalsah sejak dia berusia tujuh tahun.

Ketika ditanya apakah dia selalu ingin menyajikan air di acara ini, dia berkata, "Tidak, ini hanya untuk saat ini saja."

Terinspirasi Ayah

Ada pula dua bersaudara Jamal, 23 tahun, dan Faiz Chughtai, 21 tahun, dari Birmingham, yang Berdiri berjam-jam di bawah sinar matahari di lapangan yang penuh dengan mobil.

Mereka mengemban tugas pelik untuk mengarahkan mobil masuk dan keluar dari tempat parkir. 

Jalsa Salana berlangsung di sebuah lapangan seluas 800 m2 di kawasan pertanian Hampshire.
Keterangan gambar, Jalsa Salana berlangsung di sebuah lapangan seluas 800m2 di kawasan pertanian Hampshire.

"Ini kan lapangan tanpa penanda, jadi mencoba mengatur mobil yang ingin pergi untuk melakukannya dengan tertib, yang terkadang sangat sulit," kata Jamal.

Faiz mengatakan, "Semua orang cuma ingin segera pulang. Ini hari yang panjang, sangat panas."

"Kita harus menghadapi orang-orang itu dengan cara yang sangat lembut."

Dulunya, mereka dan seorang saudara laki-laki lain datang ke Inggris saat balita bersama orang tua mereka, mencari suaka. Ayah mereka, Ijaz Ahmad Chughtai, meninggal dua setengah tahun lalu.

Jamal mengatakan, "Saya dan saudara-saudara saya selalu dekat. Kami tinggal di permukiman milik dewan dan selalu dalam ikatan persaudaraan. Saya lebih protektif terhadap mereka sekarang."

Jamal adalah asisten manajer teknik yang sedang menyelesaikan universitas, dan bekerja di proyek kereta api HS2.

Faiz adalah mahasiswa kedokteran tahun keempat di St George's, University of London.

Ayah mereka merupakan inspirasi utama untuk hidup mereka.

Jamal Chughtai

Sumber gambar, Owen Harvey

Keterangan gambar, Jamal mengatakan, Jalsa adalah peristiwa terpenting baginya sepanjang tahun.

"Dia akan selalu membanggakan pada orang-orang bahwa 'Anak-anak saya menjadi relawan untuk Jalsa,'" kata Faiz.

"Doa-doanya sangat membantu kami. Ia selalu memberikah restunya pada saya."

Faiz Chughtai

Sumber gambar, Owen Harvey

Keterangan gambar, Faiz mengatakan, bapaknya berharap ia akan menjadi seorang dokter.

"Yang paling luar biasa adalah karakternya, dia tidak pernah meneriaki kami atau mendisiplinkan kami dengan cara yang kasar.

"Meskipun mengalami kesulitan dengan kesehatan dan keuangan, dia tidak pernah menampakkan kesedihan di wajahnya.

"Saya menganggapnya sebagai 'kepercayaan penuh dia kepada Allah'."

Para lelaki bersaudara itu juga mulai menjadi relawan di Jalsah sebagai bocah pembagi air dan sejak beberapa tahun terakhir membantu melancarkan parkir

'Sikap rendah hati'

Membersihkan toilet bukanlah hal yang dibayangkan orang dalam menjalani liburan musim panas, tetapi Ehtesham-ul-Islam, pemuda 18 tahun yang sedang belajar menjadi imam mengatakan dia menikmatinya.

"Beberapa menit pertama, saya berpikir seperti, 'Apa yang saya lakukan ini?' Tetapi kemudian saya mulai berpikir positif, "katanya.

Ehtesham-ul-Islam

Sumber gambar, Owen Harvey

Keterangan gambar, Relawan seperti Ehtesham-ul-Islam turut mengubah kawasan pertanian itu menjadi sebuah desa sementara.

"Ini hal yang membuat kita merasa rendah hati, membersihkan toilet ini. Jamban-jamban itu benar-benar kotor. Dan kita merasa sangat rendah hati karena melakukan sesuatu yang orang lain tidak akan lakukan."

"Sebagai seorang imam, bersikap rendah hati itu penting."

"Kita diajari, 'Jangan menganggap kamu lebih besar dari orang lain - kamu hanya hamba Allah.'

"Tidak ada yang berkeinginan membersihkan toilet tetapi hal itu membantu membangun karakter."

Tahun ini merupakan Jalsah Salana ke-12 baginya dan dia membantu mempersiapkan acara ini sepanjang minggu.

Ehtesham-ul-Islam berasal dari Manchester, tetapi sedang belajar di sekolah imam Muslim Ahmadiyah, yang dikenal sebagai Jamia, di Haslemere, Surrey.