Perempuan ditangkap karena 16 tahun terus menerus memutar musik opera

Sumber gambar, Index.hu
Seorang perempuan yang telah membuat para tetangganya 'gila' dengan memutar rekaman musik opera keras-keras berulang-ulang terus menerus selama 16 tahun akhirnya ditangkap di Slovakia.
Dilaporkan situs berita Hungaria, Parameter.sk, perempuan bernama Eva N memutar aria empat menit karya Giuseppe Verdi La Traviata' yang dinyanyikan Placido Domingo di rumahnya dengan volume penuh.
Dan ia memutarnya berulang-ulang, tanpa henti, dari pagi hingga malam, selama 16 tahun (ya: enam belas tahun).
Menurut Parameter.sk, Eva N, sebagai pemilik rumah di Sturovo, sebuah kota di selatan Slovakia, memutar musik itu untuk menenggelamkan kerasnya suara gonggongan anjing tetangganya. Dan ia terus saja melakukannya, selama belasan tahun itu.

Sumber gambar, Index.hu
Banyak warga menumpahkan kemarahan mereka melalui media lokal. Mereka geram karena gangguan terhadap mereka melalui pemutaran musik keras-keras tanpa henti itu dibiarkan berlangsung begitu lama oleh pihak berwenang.
"Saya suka Placido Domingo, tapi tidak seperti ini" kata seorang perempuan yang diwawancarai di sebuah video untuk situs berita Hungaria, Index.hu. Ia merujuk pada penyanyi legendaris Spanyol yang menyanyikan aria yang diputar berulang itu.
"Semua warga di sepanjang jalan menderita," kata seorang warga lain kepada koran Slovakia, Sme.
Polisi menangkap perempuan itu pada hari Senin (13/8).

Sumber gambar, Gamma-Rapho
Dan kini Eva N menghadapi tuduhan perbuatan tidak menyenangkan dan gangguan dengan niat buruk. Dia telah ditahan dan jika dinyatakan terbukti bersalah, dia bisa dihukum penjara antara enam bulan hingga tiga tahun. Belum jelas kapan dia akan diadili.
Siapa nyana: ternyata ini bukan pertama kalinya orang diadili karena mengganggu tetangga dengan memutar lagu keras-keras, dan berulang-ulang.
Pada bulan Maret 2017, seorang perempuan Inggris dari Walsall dipenjara karena berulang kali memainkan lagu Shape of You dari Ed Sheeran dan menyebabkan "gangguan dalam tingkat yang sama sekali tidak dapat diterima".
Belum jelas, apakah kasus sejenis pernah juga terjadi di Indonesia. Kalau ya, mohon Anda kabarkan kepada kami.











