Warga Rohingya yang terusir dari Myanmar

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Bingung dan takut, Hazera bocah berusia dua tahun memegangi ibunya setelah mencapai Bangladesh dari Myanmar.

Militer Myanmar secara brutal telah mengusir lebih dari setengah juta etnik Muslim Rohingya dari negara bagian Rakhine utara negara tersebut. Kantor HAM PBB mengatakan, rumah-rumah dan desa mereka telah terbakar habis, tanaman serta ternak mereka juga dihancurkan agar mereka tidak kembali lagi.

Orang-orang Rohingya yang melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh menuturkan, bahwa militer melakukan pembunuhan massal massal, penyiksaan, dan pemerkosaan terhadap anak-anak dalam operasi "pembersihan" ini.

Namun pihak militer menyangkal melakukan genosida, mereka bersikeras hanya menargetkan militan Rohingya. Tapi bagi mereka yang kuatir menjadi gelandangan atau lebih buruk lagi, istilah itu menjadi tidak penting.

Duta Besar Bangladesh untuk PBB mengatakan lebih dari 600.000 orang telah melewati perbatasan sejak akhir Agustus, bergabung dengan 300.000 orang lainnya yang melarikan diri dari awal terjadinya kekerasan.

Para pengungsi ini kelaparan dan kelelahan. Banyak juga diantara mereka yang mengalami trauma, dan sebagian besar membawa anak-anak. Fotografer BBC Salman Saeed, mengambil foto-foto ini di dekat kamp-kamp pengungsian di Palongkhali, Kutupalong dan Balukhali, di daerah Cox's Bazar di Bangladesh.

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Para keluarga dari warga Rohingya ini berjalan kaki selama lebih dari seminggu tanpa makanan, namun akhirnya mereka bisa tiba di Bangladesh.

Para keluarga dari warga Rohingya ini berjalan kaki selama lebih dari seminggu tanpa makanan, namun akhirnya mereka bisa tiba di Bangladesh setelah menyaksikan kekejaman di negara bagian Rakhine di Myanmar.

Mereka membawa beberapa barang dan selimut di atas bahu mereka.

Mobin

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Mobin, bocah usia tiga belas tahun berjalan kaki selama 12 hari untuk menuju ke tempat yang aman.

Para ahli di PBB yakin pasukan keamanan Myanmar "sangat mungkin" menanam ranjau darat di sepanjang perbatasan dalam beberapa pekan terakhir, yang membuat perjalanan bukan saja sulit, namun juga penuh dengan bahaya.

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Kaki-kaki lelah ini mengarungi lumpur untuk mencapai kamp pengungsi.

Para pengamat internasional mengatakan beberapa warga Rohingya bisa berjalan kaki hingga tiga minggu, sebelum akhirnya tiba di permukiman yang dikelola pemerintah seperti Kutupalong. Terlihat ada bekas luka di telapak kaki anak-anak dari pengungsi Rohingya ini.

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Warga Rohingya menggunakan transportasi yang ada untuk melarikan diri dari Rakhine.

Orang-orang Rohingya menggunakan transportasi yang ada untuk melarikan diri dari Rakhine. Beberapa diantaranya berjalan kaki ke Sungai Naf, yang berada di perbatasan, sementara yang lainnya berlayar ke pantai.

Puluhan pengungsi lainnya meninggal saat berusaha menyeberang ke Bangladesh dengan perahu-perahu nelayan kecil yang sudah reyot.

Surat kabar The Dhaka Tribune melaporkan ada 28 kapal yang sudah tenggelam sejak tanggal 24 Agustus, menewaskan 184 orang - kebanyakan perempuan dan anak-anak.

Perahu-perahu itu seringkali penuh dan sesak, serta risiko bencana cukup besar. Beberapa dari mereka yang berada di dalam kapal tidak bisa berenang.

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Setelah meninggalkan harta bendanya di Myanmar, Abu Tabel tiba di Bangladesh dengan barang-barang miliknya yang ada.

Pria ini, Abu Tabel, tiba di Bangladesh dengan beberapa barangnya yang bisa diselamatkan di dalam karung dan keranjang.

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Ayam yang dibawanya dalam kurungan ini adalah satu-satunya teman dalam perjalanan panjang untuk menemukan tempat baru.

Ketika mereka sampai di kamp pengungsian, orang-orang yang kehilangan tempat tinggal membangun rumah sementara di sepanjang jalan dan lereng bukit di sekitar kota perbatasan Cox's Bazaar.

Permukiman yang berlumpur, basah dan sesak, mereka juga kekurangan air bersih dan sanitasi yang buruk. Kakus yang ada hanya sedikit jumlahnya. Hujan deras yang melanda kawasan itu memperparah keadaan dengan risiko penyakit seperti kolera.

Banyak dari mereka yang menyeberangi perbatasan sudah bertemu sanak keluarga di Cox's Bazar, yang sulit mereka temui.

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Situasi di pemukiman warga Rohingya yang berlumpur, basah dan sesak, mereka juga kekurangan air bersih dan sanitasi yang buruk.
Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Para pengungsi mengambil air dari sawah di sekitar tempat pemukiman.
Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Orang-orang yang kehilangan tempat tinggal membangun rumah sementara di sepanjang jalan dan lereng bukit di sekitar kota perbatasan Cox's Bazaar.

Pada tanggal 16 Oktober, Palang Merah Internasional membuka sebuah rumah sakit dengan kapasitas 60 tempat tidur di Cox's Bazar seukuran dua kali lapangan sepak bola.

Rumah sakit ini memiliki tiga bangsal, tempat untuk bedah operasi, bangsal bersalin, dan sebuah unit pendukung psikososial.

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Bocah laki-laki Rohingya ini relatif beruntung, dia menerima perawatan medis.

Bangladesh telah mengumumkan rencana untuk membangun sebuah kamp pengungsi yang bisa menampung sekitar 800.000 warga Rohingya.

Ini akan menjadi tempat penampungan terbesar di dunia.

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Salman Saeed memotret salah satu keluarga etnis Rohingya yang sedang beristirahat makan di perjalanan.

Para korban selamat mengatakan kelaparan telah membantu mengusir mereka dari desa mereka, karena pasar makanan di negara bagian Rakhine telah ditutup dan bantuan dibatasi.

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Rasida, yang tengah hamil sembilan bulan, adalah satu diantara ribuan ibu-ibu yang harus mengungsi.

Badan Kependudukan PBB memperkirakan bahwa dari hampir 150.000 perempuan Rohingya yang usia produktif (15-49 tahun), sekitar 24.000 orang adalah ibu hamil dan menyusui.

Beberapa dari mereka tidak punya pilihan kecuali melahirkan di pinggir jalan.

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, PBB memperingatkan bahwa ribuan orang Rohingya masih terdampar di dekat perbatasan Myanmar-Bangladesh.

Pada tanggal 17 Oktober, PBB memperingatkan bahwa ribuan orang Rohingya masih terdampar di dekat perbatasan Myanmar-Bangladesh.

Mereka mendesak Bangladesh untuk mempercepat pemeriksaan hingga 15.000 orang yang terkena dampak, dan memindahkan mereka ke daerah yang aman.

Andrej Mahecic, juru bicara lembaga pengungsi PBB, mengatakan mereka ingin Bangladesh "segera menerima para pengungsi yang meloloskan diri dari kekerasan dan kondisi yang semakin sulit untuk kembali ke rumah.

"Setiap menit dihitung, mengingat kondisi rapuh yang mereka hadapi."

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Para pengungsi Rohingya terus berdatangan ke Bangladesh.

Untuk saat ini, arus masuk terus berlanjut. Ribuan ribu orang, terperangkap dalam krisis kemanusiaan dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, Ribuan pengungsi membawa barang-barang milik mereka melintasi sungai.
Pengungsi Rohingya

Sumber gambar, Salman Saeed / BBC

Keterangan gambar, "Setiap menit dihitung, mengingat kondisi rapuh yang mereka hadapi." kata Andrej Mahecic, juru bicara lembaga pengungsi PBB.