Konflik keluarga, mazhab atau politik?

- Penulis, Heyder Affan
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Aksi penyerangan permukiman kaum Syiah di Desa Karanggayam, Sampang, Madura, pada 26 Agustus 2012 silam, awalnya dilatari konflik keluarga. Namun dalam perkembangannya, konflik ini bertumpang-tindih dengan persoalan politik, serta kesalahpahaman terkait keyakinan dan praktek keagamaan.
"Saya memaafkan pembunuh abah (ayah) saya," kata Muhaimin, dengan nada suara datar, Jumat (26/07) lalu, saat saya temui di rumah susun Sidoarjo, tempat penampungan pengungsi Syiah asal Sampang.
Hal itu dia utarakan, setelah saya menanyakan apakah dia masih dendam terhadap para pelaku yang menyerang ayahnya, saat sekelompok massa menyerang dan <link type="page"><caption> membakar pemukiman penganut Islam</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2012/08/120827_syiahindonesia.shtml" platform="highweb"/></link> Syiah di Desa Karanggayam, Sampang, setahun silam.
Muhaimin, yang berusia 18 tahun ini, kemudian secara detil mengisahkan detik-detik kematian ayahnya.
Sebelum diserang, menurutnya, ayahnya sempat mengajak dialog para penyerang -- yang sebagian adalah para tetanggannya sendiri.
"Abah saya ngomong: kita adalah saudara, sesama umat Islam, Syahadat-nya sama, Tuhan satu. Kita nggak boleh saling menumpahkan darah," ungkap Muhaimin, menirukan ucapan mendiang ayahnya.
"Nggak ada pilihan, kecuali mati!" Muhaimin masih ingat jawaban salah-seorang penyerang. "Tak lama kemudian mereka tebas (dengan senjata tajam clurit) abah saya..."
Semata Konflik keluarga?
Tidak lama setelah Muhaimin dan handai taulannya menguburkan jasad ayahnya, dan sekitar 200 orang kaum Syiah mengungsi ke Gedung Olahraga di tengah Kota Sampang, berbagai analisa tentang penyebab konflik penganut Syiah dan kelompok penentangnya di Desa Karanggayam, bermunculan.
Mabes Polri saat itu menyebut insiden Sampang memiliki indikasi konflik antar keluarga, yang melibatkan anak-anak mendiang Kiai Makmun, yang disebut-sebut telah menganut Syiah semenjak dia tertarik Imam besar Syiah Iran, Ayatullah Khomeini, di awal tahun 80-an.

"Persoalan sepele, yaitu persoalan memperebutkan perempuan, " begitulah suara-suara sebagian pejabat keamanan yang banyak dikutip media saat itu.
Salah-satu anak Kiai Makmun, Roisul Hukama (40 tahun) tersinggung dan marah, setelah gagal menyunting santri pesantren Misbahul Huda, yang mengajarkan Islam Syiah, milik kakaknya, <link type="page"><caption> Tajul Muluk</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2012/09/120921_vonistajul.shtml" platform="highweb"/></link> (41 tahun).
Sejumlah laporan menyebutkan, semenjak saat itulah, Rois menyatakan keluar dari Syiah, dan rajin berkampanye menyatakan Syiah sebagai ajaran sesat.
Karena itulah, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menegaskan bahwa pertikaian di Sampang tidak berkaitan dengan konflik Sunni-Syiah.
Namun demikian, tidak semua pihak meyakini seratus persen bahwa konflik di Sampang semata-mata persoalan keluarga.
Komnas HAM, sebutlah, menilai pernyataan pemerintah bahwa kasus Sampang murni persoalan keluarga sebagai "menyederhanakan persoalan".
Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim justru beranggapan pertikaian itu sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada warganya yang menganut kepercayaan Syiah.
Hipotesa bahwa konflik Sampang tidak murni di latari konflik keluarga, tetapi juga terkait konflik Sunni-Syiah, juga diamini beberapa pihaknya, terutama para pegiat HAM serta beberapa pengamat yang mengikuti konflik laten antar dua mazhab Islam tersebut.
Kepentingan politik
Tokoh Syiah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat mengatakan, konflik Sampang awalnya dilatari persoalan keluarga, namun belakangan digunakan kelompok tertentu untuk menjelekkan ajaran Syiah.
"Ada beberapa kelompok yang berkepentingan dengan isu Syiah-Sunni (di Indonesia), karena kepentingannya bukan agama, tapi mereka perlu membangkitkan persoalan Sunni-Syiah," kata tokoh Syiah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat.

Menurut Jalaluddin, kelompok ini sangat 'anti Syiah' sehingga mereka terus berkampanye bahwa Islam Syiah merupakan ajaran sesat. "Mereka terus berupaya menyingkirkan orang Syiah," kata Jalaluddin, yang juga dikenal sebagai pimpinan organisasi Ijabi, yang mewadahi kaum Syiah di Indonesia.
Dia meyakini bahwa persoalan utama di Sampang diakibatkan kesalahpahaman antara penganut Sunni-Syiah, yang menurutnya bisa diatasi dengan dilakukan dialog intensif antara warga Syiah dengan warga Sunni di Sampang, Madura.
Sementara itu, salah-seorang Ketua PB Nahdlatul Ulama (NU) Masdar Mas'udi mengatakan, terkait kasus pembakaran pesantren Syiah di Madura, perbedaan mazhab Sunni-Syiah tidak perlu membuat kelompok penganutnya saling bermusuhan.
"Makanya, kita harus menggalakkan pemahaman keagamaan yang lebih bersifat menghargai perbedaan. Perbedaan ini tidak mungkin dilawan. Caranya, ya, menghormati perbedaan, dan itu kodrati," kata Masdar.
Polarisasi Iran-Arab Saudi
Di kalangan NU sendiri, menurut Masdar, relatif tidak ada masalah dalam berhubungan dengan penganut paham Syiah.

Apalagi, tambahnya, banyak persamaan tradisi antara NU dan Syiah. "Seperti tradisi khaul, yang dilakukan warga NU dalam memperingati tokoh keagamaan Islam, itu pada tradisi Syiah juga dilakukan," katanya dalam wawancara dengan BBC Indonesia, suatu saat.
Karena itulah, Masdar kurang begitu yakin kasus pembakaran pesantren Syiah dilatari sepenuhnya oleh perbedaan mazhab Sunni dan Syiah.
Informasi yang diterima Masdar juga menyebutkan yang terjadi di Sampang adalah persoalan keluarga.
Namun Masdar menganalisa, apa yang terjadi di Sampang, serta penyerangan terhadap pesantren di Bangil, Jawa Timur, pada tahun lalu, kemungkinan tidak terlepas dari persoalan konflik global antara Iran dan Arab Saudi.
"Saya kira ada pengaruh dari luar, baik proses ideologisasi yang diperkuat, dan pada saat yang sama ada bantuan finansial, baik dari Arab Saudi atau Iran," katanya, menganalisa.
Situasi itu makin memanas, lanjutnya, karena ada fatwa sebagian ulama yang menghukum kelompok Syiah sebagai "ajaran sesat".









