Pengungsi Syiah Sampang ingin pulang

Pengungsi Syiah Sampang, Madura, berharap proses rekonsiliasi dapat membawa mereka pulang ke kampungnya sebelum Idul Fitri.

pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Proses rekonsiliasi warga Islam Syiah asal Sampang, Madura, dengan kelompok penentangnya telah digulirkan, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan. Para pengungsi Syiah yang ditempatkan di rumah susun di Sidoarjo, Jatim, ini berharap proses rekonsiliasi itu dapat membawa mereka pulang ke kampungnya. "Jika pulang, kami dapat bekerja kembali, menanam jagung dan merawat kebun tembakau milik kami," kata salah-seorang diantara mereka. (Foto dan narasi: Heyder Affan)
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Keinginan pulang ke kampung halamannya sejak awal disuarakan para pengungsi Syiah, namun sebagian ulama dan kiai di Madura mengajukan syarat "kalian boleh pulang, tetapi harus bertobat dulu." Tetapi pimpinan pengungsi mempertanyakannya: "Bukankah Tuhan, Rasul dan Kitab Suci kita sama. Mengapa harus diminta tobat pula?"
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, "Anak saya ini, namanya Kemal Haydar, lahir di lokasi pengungsian di GOR Sampang," ungkap ibu muda ini, saat di temui di lokasi penampungan (sementara) mereka di rumah susun Sidoarjo, Jatim. Sejak diusir dari kampungnya pada Agustus 2012 lalu, sekitar 200 orang warga Syiah asal Sampang ini hidup terlunta-lunta di lokasi pengungsian, sebelum akhirnya dipindahkan ke rumah susun di Sidoarjo tersebut pada Juni lalu.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Anak-anak ini sama-sekali tidak memahami latar konflik sosial-agama yang membuat mereka harus mengungsi dan menanggung dampaknya. Di sebuah pagi, saya melihat senyum mereka mengembang ketika mengikuti materi permainan di taman bermain yang dikelola otoritas terkait.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Kejadian kekerasan yang menyertai konflik sosial selalu akan menimbulkan trauma. Hal ini juga dialami warga Syiah asal Sampang, Madura, yang kediamannya diserbu dan dibakar para penentangnya. Di tengah keterbatasan, berbagai pihak yang berkompeten ikut terlibat untuk mengatasi trauma tersebut, semenjak mereka mengungsi di GOR Sampang hingga di rusun Sidoarjo.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, "Meskipun fasilitas rumah susun yang kami tempati sekarang, cukup baik, tetapi ini tak cukup mengobati rindu kami pada kampung halaman kami di Sampang," kata lelaki 38 tahun ini. Itulah sebabnya, dia ingin segera pulang ke Sampang, untuk mengerjakan kebun jagung dan tembakaunya. "Kalau saya bekerja (seperti dulu), saya akan punya uang," katanya agak masygul.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Mengisi waktu kosong di siang bolong, ibu dan tiga anaknya ini bersantai di depan rumah susun. Semenjak Juni lalu, sekitar 200 orang warga Syiah asal Sampang, Madura ini, tinggal di rumah susun yang berlokasi di pinggiran Kota Sidoarjo, Jatim.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Tidak jauh dari rumah susun yang ditempati warga Syiah asal Sampang, berdiri masjid yang beraliran Sunni. Pada Jumat (26/07) lalu, warga Syiah ini terlihat menjalankan ibadah sholat Jumat di masjid terserbut, tanpa ada perasaan rikuh. "Kami memang dapat menyatu dengan teman-teman Sunni, termasuk sholat bersama, selama ini," kata salah-seorang pengungsi.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Seorang perempuan pengungsi warga Syiah terlihat di jendela, di salah-satu lantai bangunan rumah susun, yang mereka tempati semenjak Juni 2013 lalu. "Jika dibanding dengan GOR, tentu saja, rumah susun yang kami tempati jauh lebih manusiawi. Tapi, yang kami inginkan, adalah kembali ke kampung kami di Sampang," kata beberapa pengungsi yang saya wawancarai.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, "Kami merasa bangga ditunjuk sebagai guru untuk mendidik anak para pengungsi Syiah," kata seorang guru yang bernama Aminah (kanan). Bersama rekannya, dia ditunjuk otoritas terkait, karena kemampuannya dalam berbahasa Madura. "Kebanyakan murid baru saya ini nggak bisa berbahasa Indonesia..."
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Seorang perempuan pengungsi warga Syiah asal Sampang ini, terlihat menggendong putrinya, tengah menikmati siaran televisi. Praktis tidak ada yang dia kerjakan, selain pemberian materi belajar Bahasa Indonesia yang diberikan otoritas terkait di salah-satu ruangan rusun Sidoarjo, Jatim.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Di waktu istirahat, sebagian siswa bermain di halaman rumah susun. Mereka adalah siswa klas I sekolah dasar yang didirikan untuk memenuhi hak anak-anak ini dalam memperoleh pendidikan. "Selain TK,SD, SMP, kami juga memberikan fasilitas pendidikan untuk anak SMA," kata salah seorang penanggungjawab keberadaan fasilitas pengungsi di rusun Sidoarjo ini.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Di salah-satu sudut rumah susun, ada beberapa perempuan (berusia tua) membantu menyiapkan makanan untuk para pengungsi. Mereka adalah para pengungsi Syiah asal Sampang, yang menyibukkan diri, mengisi waktu kosong. "Sangat penting membuat mereka untuk selalu ada kegiatan, jika ingin trauma mereka hilang perlahan," kata seorang relawan, yang terlibat sejak awal mendampingi pengungsi ini.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Di halaman bawah rumah rusun, terdapat televisi yang siarannya banyak diminati oleh anak-anak pengungsi. Namun di tempat ini pula, saya sering menjumpai sebagian orang dewasa yang terlihat duduk santai di tempat itu.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Para pengungsi Syiah asal Sampang, Madura ini, berjumlah sekitar 200 orang. Di rumah susun Sidoarjo ini, setiap keluarga ditempatkan pada tiap-tiap ruangan. "Namun untuk keluarga yang anak-anaknya sudah beranjak dewasa, kami akan tambahkan ruangan tambahan," kata penanggungjawab keberadaan para pengungsi ini.
pengungsi syiah sampang
Keterangan gambar, Sambil menunggu waktu buka puasa, anak-anak muda pengungsi Syiah asal Sampang, mengisi waktunya dengan berolahraga. "Saya sengaja pulang ke rusun, karena pesantren saya telah diliburkan semenjak awal puasa," kata Muhaimin, 18 tahun (kanan), yang mengaku mengikuti pendidikan pesantren di Bangil, Jatim. Ayah Muhaimin meninggal dunia setelah warga Syiah Sampang telribat bentrokan dengan kelompok penentangnya pada Agustus 2012 lalu.