Menderita skizofrenia tapi tetap bekerja

Eriva dan lukisannya
Keterangan gambar, Enam kepala inilah yang menurut Eriva menyuruhnya bunuh diri empat bulan lalu
    • Penulis, Dewi Safitri
    • Peranan, Wartawan BBC

Badannya subur, senyumnya ceria dan tertawanya lepas membahana. Tak ada sejurus pun kesan, perempuan paruh baya ini menderita skizofrenia, atau salah satu gangguan jiwa terparah.

"Saya Eriva, penderita skizofrenia, berprofesi sebagai pedagang nasi uduk," katanya memperkenalkan diri dengan tawa berderai.

Berjualan nasi uduk di warung rumahan sederhana mungkin bukan prestasi istimewa bagi orang kebanyakan, tapi menjadi gantungan hidup keluarga dengan empat anak di tengah kondisi mental dengan tekanan paranoia, halusinansi dan depresi, bukan soal mudah.

Sejak usia sekolah dasar sudah kerap dianggap 'mengacau' karena sering mengamuk, marah dan bicara tak jelas, orangtuanya lalu membawanya berobat kesana-kemari.

"Namanya orang enggak punya, berobat ya sama orang pintar. Yang jampi-jampi lah, ramuan lah, apa saja," kenang perempuan 47 tahun ini.

Pertolongan medis baru diperoleh tahun 2009, dengan biaya gratis dari pemerintah DKI.

"Ada yang kasih tahu, kalau mau berobat ke psikiater bisa gratis lho pake Jamkesmas," tambahnya.

Hindari konfrontasi

Pengobatan gratis inilah yang menyelamatkannya, termasuk saat perempuan berkerudung ini mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya empat bulan lalu.

"Habis ada enam kepala dalam pikiran saya yang suruh saya sayat pergelangan tangan. Katanya sayat aja, sayat, sayat... Kalau satu saya bisa lawan, ini enam. Saya nyerah deh" katanya mengenang kisah pedih itu dengan suara lirih.

Meski banyak masalah, usaha jualan nasi uduk jalan terus. Dengan suami yang kini tidak bekerja, Eriva harus memastikan anak-anak bisa tetap sekolah dan makan.

"Tiap hari untuk sekolah empat anak saja harus ada uang Rp50 ribu," kata perempuan ramah ini.

Untuk mengurangi kemungkinan kambuh, selain minum obat teratur, Eriva menghindari konfrontasi dengan pelanggan.

"Kalau ada langganan yang ngutang, ya saya bilang aja mungkin dia lagi enggak ada duit," tambahnya sambil tersenyum kecut.

Ahmad Amir, 37 tahun, juga berusaha keras mengendalikan lingkaran pergaulannya untuk mencegah kembali terperangkap jalur depresi.

Dosen di sebuah kampus swasta di Gorontalo ini akan menghindar kalau ada teman yang dianggap terlalu mendominasi, sehingga dapat membuatnya depresi.

Sikap dominan teman, bahkan sekedar pertanyaan atau gurauan, bisa memantik perasaan sensitif dan paranoia seorang penderita penyakit jiwa.

Amir sudah berulang kali gonta-ganti pekerjaan sejak dideteksi punya masalah kejiwaan tahun 2006.

Merasa cocok dengan dunia mengajar, kini Amir memilih menjauh kalau merasa ada bahaya bisa kambuh akibat teman atau orang dalam lingkungannya.

"Tiada hari tanpa perjuangan melawan halusinasi dan depresi. Makanya kalau teman enggak asik, saya minggir, menjauh," kata duda tanpa anak ini.

Tidak menguntungkan

Farthat, juga penderita skizofrenia, yang pada mulanya bekerja. Lulusan sebuah universitas swasta jurusan ekonomi, Farhat sempat jadi karyawan bagian keuangan, akunting, hingga terakhir sebagai karyawan pada sebuah bank.

Tetapi akhirnya dia menyerah dan keluar dari pekerjaan itu.

"Ya intinya kondisi saya tidak mengizinkan saya untuk bekerja terutama dalam sebuah tim," tukasnya lesu.

Gambaran dalam keapala pasien skizofrenia
Keterangan gambar, Kepala pasien sakit menerima berbagai tekanan yang mengganggu keseimbangan mentalnya

Penderita psikotis atau kelainan mental berat, akan mengalami banyak masalah saat mencoba berfungsi sebagai manusia produktif.

"Ada banyak tekanan dari dalam karena ada unsur depresi, halusinasi, merasa dijelek-jelekin terus, merasa dizalimi, akibatnya rasanya mau marah dan mengamuk saja," terang Dr Tun Kurniasih, psikiater pada RSJ Dharmawangsa Jakarta.

Tentu ini bukan kondisi jiwa yang menguntungkan untuk sebuah lembaga yang ingin mencetak untung secara komersial.

Kalau pun ada juga penderita yang mampu bangkit dan bekerja normal, diperlukan usaha luar biasa untuk melakukannya.

"Terapi utama adalah konseling dan medikasi. Tekad saja tidak cukup, obat saja juga tidak bisa," tambah mantan Kepala Jurusan Psikiatri FKUI ini.

Farhat sempat mencoba pengobatan, tetapi kemudian memutuskan untuk berhenti.

"Terkendali sih emosi, tapi akibatnya insomnia seminggu, payah deh," keluhnya.

Tes psikologi

Yohannes Iman malah sudah berganti belasan jenis pekerjaan, sampai ia lupa apa saja persisnya.

"Kerja di laundry pernah, di supermarket pernah, toko buku, pabrik marmer pernah, pemasaran alat kesehatan pernah, buka usaha teh kemasan juga sudah," kata duda satu anak penderita skizofrenia ini.

Iman merasakan persis yang dirasakan Farhat, yakni kecemasan tanpa alasan terhadap lingkungan kerjanya.

"Bawaannya kaya merasa jadi orang aneh, perasaan peka kayak beda sama temen yang lain, badan juga lemes enggak semangat, bengong," kata laki-laki yang kini berprofesi sebagai makelar ini.

Kebanyakan orang cuma tahu kalau laki-laki bertubuh gempal ini doyan mabuk, karena melihat gejala-gejala itu. Iman akhirnya tak mampu bertahan kerja lebih dari tiga tahun di satu tempat.

Yang mengherankan dirinya adalah meski bolak-balik keluar kerja, dia juga sering lolos tes masuk kerja.

"Padahal tiap kali tes kan ada tes psikologinya ya, mestinya kan mereka tahu kondisi saya. Tapi buktinya saya diterima," tukas Iman.

Iman kini bertekad mulai usaha wisawasta serta tengah merencanakan perkawinan keduanya.