Kegiatan Dolly sepi saat Ramadhan

Gang Dolly, Surabaya
Keterangan gambar, Dolly sebelumnya adalah pemukiman masyarakat Cina

Lokalisasi terbesar dan termasyhur di Indonesia, Gang Dolly, di Surabaya diliburkan selama bulan puasa tetapi sebagian kecil pekerja seks komersial (PSK) tetap tinggal di tempat itu dan menjalankan profesinya secara sembunyi-sembunyi.

Sebelum Ramadhan tiba, suasana di lokalisasi Dolly, Kelurahan Dukuh Kupang, Surabaya, Jawa Timur hiruk pikuk. Musik dangdut terdengar keras, bercampur lalu-lalang orang-orang di tempat pelacuran yang dikelilingi pemukiman padat itu.

Namun selama bulan puasa Gang Dolly terlihat sepi, seperti dilaporkan oleh Raditya Sudarmanto dari Surabaya untuk BBC Indonesia.

Gang Dolly dan Jalan Jarak, dua tempat lokalisasi di Surabaya menjadi seperti kampung mati saat bulan puasa. Sejak 2002 lalu selama bulan Ramadhan, 350 wisma dan tempat hiburan di kawasan ini harus tutup sampai setelah Lebaran.

Bagaimanapun, ada segelintir pekerja sosial yang tetap bertahan di Dolly meski ada larangan beroperasi. Salah satunya, Wati asal Lumajang.

"Ditutup mulai puasa kurang tiga hari. Yang memberitahu bos, mucikari. Bilangnya kita sudah mau tutup. Kita sudah tak berani menampung PSK. Jadi kita harus cari kos-kosan," tuturnya.

Takut operasi

Wati mengaku melanjutkan profesinya secara sembunyi-sembunyi. Untuk itu, selama bulan puasa dia hanya mengandalkan telepon dari pelanggannya, dan bersedia melayani sang tamu mulai tengah malam.

"Saya kasih tahu di bawah jam 11 malam saya tak berani datang, kalau di atas jam 12 malam saya baru mau. Tak berani ke hotel karena takut ada operasi," kata Wati.

Kartono, warga sekitar di Gang Dolly yang sejak 1997 lalu menjadi aktivis HIV/AIDS di lokalisasi ini mengatakan bahwa setiap tahun pasti ada pekerja seks komersial yang tetap bekerja selama Ramadhan.

Salah-satu alasannya, karena jeratan rentenir atau yang disebut sebagai bank thithil.

"Begitu mereka tak dapat tamu, anak-anak tak punya duit. Nanti dapat tamu satu, dibayar Rp40.000 atau Rp50.000 buat makan habis. Begitu mereka tak dapat tamu, larinya ke bank thithil. Begitu dapat sedikit, bank thithilnya tambah terus dan akhirnya dia tak berkutik sehingga bulan puasa tak bisa pulang," kata Kartono.

Tempat pelacuran Dolly, yang merupakan satu dari enam kawasan pelacuran berskala besar di Surabaya, tumbuh sejak 1960-an.

Menurut sebuah penelitian, pada mulanya Dolly hanyalah kawasan pemakaman Cina di daerah pinggiran kota.

Tahun 1960-an, makam itu dibongkar untuk dijadikan hunian. Tujuh tahun kemudian, demikian menurut penelitian itu, seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina, Dolly Khavit, mendirikan rumah bordil di wilayah tersebut.

Nama Dolly kemudian diabadikan sebagai nama daerah itu, karena dianggap sebagai perintis. Di tahun 1980-an, Dolly tumbuh menjadi kawasan bordil yang ramai hingga sekarang.