Gerakan dari halaman Facebook

bibit - chandra
Keterangan gambar, Bibit - Chandra bebas berkat dukungan besar dari masyarakat
    • Penulis, Mohamad Susilo
    • Peranan, BBC Indonesia
  • Waktu membaca: 3 menit

Berawal dari sebuah halaman di media sosial Facebook, Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah dibebaskan dari tahanan polisi.

Kasus pidana yang disangkakan kepada dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini bahkan kemudian dihentikan.

Gambaran ini mungkin agak berlebihan. Namun bila dicermati, media sosial memainkan peran yang penting dalam menggulirkan gerakan dukungan untuk Bibit dan Chandra.

Halaman dukungan untuk Bibit-Chandra di Facebook memiliki anggota hampir 1,4 juta orang.

Penggalangan dukungan melalui dunia maya ini dibuat oleh Usman Yasin, seorang dosen di Bengkulu.

Yasin memutuskan untuk memanfaatkan Facebook, karena media sosial ini sangat populer di Indonesia.

"Saya memiliki blog, tetapi medium ini tidak cukup interaktif. Blog tidak membuka ruang yang fleksibel untuk menerima dukungan orang," jelas Yasin.

"Apalagi saat ini orang tak perlu memiliki komputer untuk aktif di Facebook. Orang bisa menggunakan media sosial ini dengan telepon genggam."

Melek media sosial dan mudahnya akses media melalui telepon genggam membuat gerakan yang digalang Yasin kebanjiran anggota.

Tadinya Yasin memperkirakan gerakan untuk Bibit-Chandra melalui Facebook akan didukung oleh ribuan atau mungkin puluhan ribu orang saja, meski ia menamakan gerakannya ini "1 Juta Facebooker Dukung Chandra-Bibit".

"Angka satu juta ini sebenarnya angka psikologis saja," terang Yasin.

Tapi gerakan maya ini ternyata terus bergulir dan hampir 1,4 juta orang menyatakan diri menjadi pendukung.

Koin Prita

Gerakan lain yang digalang melalui dunia maya adalah "Koin Keadilan untuk Prita".

Prita adalah seorang ibu rumah tangga yang berurusan dengan lembaga hukum gara-gara email yang ia kirim ke beberapa teman.

Surat elektronik berisi keluhan layanan rumah sakit di Tangerang ini membuat pihak rumah sakit tidak senang. Prita diajukan ke pengadilan dan ia dijatuhi hukuman membayar denda Rp 204 juta karena dianggap mencemarkan nama baik.

Keputusan yang dianggap tidak sesuai dengan rasa keadilan rakyat ini memicu gerakan pengumpulan uang recehan, untuk membantu Prita membayar denda tersebut.

Dari target mengumpulkan Rp 204 juta, panitia akhirnya mendapatkan ratusan juta. Tidak hanya itu, Kementerian Kesehatan akhirnya turun tangan untuk menengahi sengketa ini.

Pihak rumah sakit juga kemudian menyatakan tidak ada unsur pencemaran nama baik.

Yang juga ikut meramaikan penggalangan dukungan lewat dunia maya adalah Koin Cinta Bilqis.

Bilqis lahir dengan kelainan saluran empedu. Operasi untuk mengobati kelainan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sementara dana yang dimiliki orang tua Bilqis tidak mencukupi. Lagi-lagi internet memberi jalan keluar.

Dari Facebook, kampanye pengumpulan dana sukses besar. Lebih dari Rp 1 miliar uang terkumpul.

Wiwik Supriatin, relawan gerakan ini di Palu mengatakan keberhasilan gerakan ini antara lain disebabkan oleh kejelian memanfaatkan para pengguna media sosial.

"Kalau saya meminta sumbangan di jalan-jalan, mungkin tak banyak yang memberi. Dengan memakai Facebook, berarti kita berhadapan langsung dengan anak-anak muda yang aktif di media sosial ini," jelas Wiwik.

Peran media tradisional

Koin prita
Keterangan gambar, Terhimpun ratusan juga rupiah untuk membantu Prita Mulyasari

Usman Yasin, pencetus ide "1 Juta Facebooker Dukung Chandra-Bibit" mengatakan kemudahan menyatakan dukungan menjadi faktor lain mengapa banyak orang terlibat dalam gerakan di dunia maya.

Pandangan Yasin ini diamini oleh Diana, seorang karyawati di Jakarta.

"Sekarang masyarakat tak harus turun ke jalan untuk menyatakan dukungan," kata Diana.

Sedangkan Adi, mahasiswa di Jakarta mengatakan Facebook adalah alat yang sangat efektif.

"Saya tidak suka berdemonstrasi. Sementara kalau menyuarakan pendapat melalui SMS, tak akan didengar. Yang paling mudah lewat Facebook," ujar Adi.

Menurut pemerhati teknologi Dirgayuza Setiawan, keberhasilan ini tak lepas dari makin banyaknya pengguna internet di Indonesia.

"Jumlah pengguna Facebook di Indonesia lebih dari 16 juta orang. Ini adalah angka yang sangat besar untuk dimobilisasi," kata Setiawan.

"Facebook memungkinkan kita mencapai begitu banyak orang."

Namun bagi Setiawan, jumlah pengguna internet dan kemudahan menyatakan dukungan bukan faktor utama. Yang lebih penting adalah peliputan media tradisional atas gerakan-gerakan online ini.

"Tiga gerakan online yang sukses sejauh ini, semuanya didukung oleh saluran media tradisional. Jadi resep sukses gerakan online adalah media tradisional, yang meliput gerakan online tersebut," jelas Dirgayuza.

Jangkauan media tradisional baik cetak maupun elektronik untuk konteks Indonesia, saat ini masih jauh lebih besar dibandingkan media baru.

Di sisi lain media baru menunjukkan keunggulan nyata dan kolaborasi keduanya, bisa menghasilkan gerakan yang ternyata luar biasa.