Blue Velvet yang seram dan menggoda dinilai melampaui zamannya

Blue Velvet

Sumber gambar, Blue Velvet

Keterangan gambar, Jeffrey mengintip kehidupan orang lain, persis seperti penonton bioskop.

Sudah 30 tahun sejak Blue Velvet diedarkan pada tahun 1986, dan mahakarya surealis David Lynch itu tampak tak cocok dengan masa ketika ia diedarkan.

Potongan rambut para pemainnya memang era 80-an, tetapi film itu memberi penghormatan kepada ‘film noir’ era 1940-an dan 1950-an. Kedua lagu penting film itu, Blue Velvet dan In Dreams merupakan lagu tahun 1963.

  • <link type="page"><caption> Mengapa Revolver merupakan album terbaik beatles?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/09/160907_vert_cul_beatles_revolver" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kisah nyata di balik film laris serangan hiu, Jaws</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/09/160920_vert_cul_jaws_nyata" platform="highweb"/></link>

Kegiatan tokoh utama film itu menjadi detektif ditiru dari film televisi dekade 1970-an. Namun di atas semua itu, Blue Velvet terasa seperti film pertama dekade 1990-an. Salah satu alasan mengapa banyak kritikus yang menyukai film itu adalah bahwa film itu melampaui zamannya. Namun itu juga yang jadi alasan beberapa kritikus membencinya.

Film Lynch sebelumnya adalah Dune yang diedarkan tahun 1984. Film ini merupakan film epik perjalanan luar angkasa yang menjadi salah satu fim paling gagal dalam sejarah sinema.

David Lynch

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, David Lynch adalah salah satu sutradara paling berpengaruh hingga kini.

Film blockbuster tentang cacing angkasa luar yang tak bisa mati jelas bukan merupakan kekuatan David Lynch (Lynch menyalahkan campur tangan studio produksi film untuk kegagalan ini), tapi bisa dikatakan ia adalah seorang perintis.

Banyak bisa dilihat sekarang ini bagi pada sutradara muda yang membuat film art-house diminta juga membuat film-film blockbuster semacam Fantastic Four atau Jurassic World. Apapun yang terjadi, produser film Dune, Dino de Laurentiis, memberi kesempatan lagi kepada Lynch.

  • <link type="page"><caption> Star Trek dan ciuman yang mengubah televisi selamanya</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_cul/2016/09/160920_vert_cul_star_trek_ciuman" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Teka-teki mengerikan di balik topeng tengkorak</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_cul/2016/09/160928_vert_cul_topeng_tengkorak" platform="highweb"/></link>

Sepanjang ia setuju upahnya dikurangi, ia boleh membuat film yang lebih dekat dengan semangat film pertamanya, Eraserhead (1977), yang berbau eksperimental. Lynch tidak ragu.

Blue Velvet bukan berlatar belakang planet gersang di galaksi yang jauh, tetapi di sebuah kota penebangan kayu Lumberton di North Carolina dengan deretan rumah berpagar putih dan tempat makan di sudut jalan.

Namun selalu ada masalah, sekalipun di surga. Salah satu penduduk kota Lumberton terjatuh ketika sedang mengairi taman di depan rumahnya, maka anaknya, Jeffrey Beaumont (Kyle MacLachlan) lalu berhenti dari sekolahnya dan pulang kampung untuk mengelola toko perkakas milik keluarga.

Blue Velvet

Sumber gambar, Blue Velvet

Keterangan gambar, Jeffrey menemukan potongan telinga dan dari sini petualangannya dimulai.

Jeffrey yang bercukur rapi ini cukup senang bisa kembali di rumah, tetapi ia cukup haus untuk menjalani petualangan. Sesudah ia menemukan potongan telinga di rerumputan dekat tempat pembuangan sampah, ia bergabung dengan Sandy (Laura Dern) gadis pirang anak detektif polisi dan mencoba mencari tahu siapa pemilik telinga itu.

  • <link type="page"><caption> Perempuan emas dalam lukisan Gustav Klimt</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_cul/2016/10/160930_vert_cul_klimt" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kekuatan di balik tatapan mata</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_cul/2016/10/160930_vert_cul_mata" platform="highweb"/></link>

Penyelidikan mereka mengarah kepada sebuah apartemen yang dihuni oleh seorang penyanyi kabaret, Dorothy (Isabella Rossellini). Di tempat itu, Dorothy memiliki hubungan seks yang sadomasokistis dengan seorang preman yang bermental tidak stabil, Frank (Dennis Hopper).

Jeffrey yang memata-matai mereka dari dalam lemari Dorothy sangat ketakutan melihat keduanya. Namun ia sendiri tidak sepenuhnya menentang ide hubungan seks sadomasokis antara dirinya sendiri dengan Dorothy.

Perjalanan Freudian

Apa arti semua ini? Hal paling umum dalam ‘membaca’ film David Lynch yang mirip lamunan tentang kriminalitas itu adalah filmnya mengungkap borok yang sedang membusuk di balik wajah permukaan Amerika yang berkilauan.

Blue Velvet

Sumber gambar, Blue Velvet

Keterangan gambar, Dorothy yang sensual terlalu berbahaya bagi Jeffrey yang muda dan polos?

Menurut Hopper, dan beberapa komentator lain, ini merupakan sebuah penceritaan yang berani tentang kebenaran, dan mengganggu banyak kritikus ketika film ini beredar. Namun pembacaan seperti ini menimbulkan sejumlah pertanyaan.

Benarkah orang di tahun 1986 sungguh-sungguh terkejut mendengar soal-soal tak sedap di sebuah kota kecil di Amerika? Apakah orang kini sungguh-sungguh percaya bahwa rahasia besar bangsa Amerika itu melibatkan seorang penyanyi Italia yang memakai rambut palsu dan seorang preman psikopat yang menghirup nitrogen oksida dari tabung mereka sendiri?

  • <link type="page"><caption> Sisi gelap penulis buku anak-anak Roald Dahl</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/09/160921_vert_cul_roald_dahl" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Apa yang dilakukan seorang produser musik?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/09/160918_vert_cul_produser_musik" platform="highweb"/></link>

Blue Velvet menarik para peminat yang mengkultuskannya bukan lantaran mengungkapkan kenyataan mesum tentang Amerika, melainkan dengan menampilkan sebuah fantasi yang menggoda sekaligus menakutkan.

Sejak bermula dari montase di awal film, jelas bahwa Lynch tidak ingin kita melihat Lumberton sebagai sebuah tempat yang nyata, tetapi sebagai sebuah kota rekaan yang berbicara dengan dialog yang terlalu formal, serta acara TV yang sangat umum.

Lantas ketika Jeffrey menemukan dunia Dorothy yang tampak tak bermoral, film berubah jadi semakin aneh – persis seperti ketika Alice jatuh ke dalam lubang kelinci dalam buku Alice in Wonderland.

Blue Velvet

Sumber gambar, Blue Velvet

Keterangan gambar, Frank adalah seorang psikopat yang perilakunya tak bisa diduga.

Dalam sebuah sekuens film, digambarkan seorang mucikari yang sangat bergaya (Dean Stockwell) menyanyikan lagu In Dreams bergaya seperti Roy Orbison, menggunakan lampu sebagai mikrofon sehingga wajahnya begitu terang.

Lebih masuk akal – jika film-film David Lynch bisa dibilang masuk akal – untuk melihat Blue Velvet bukan sebagai sebuah dakwaan terhadap korupnya Amerika, melainkan sebagai kajian Freudian tentang seorang anak laki-laki, di tepian kedewasaannya, yang tercabik antara tanggungjawab di kota kelahirannya – diwakili oleh Sandy (mungin meniru nama tokoh utama dalam film Grease) – dan kenikmatan tersembunyi yang diwakili oleh Dorothy (jelas dinamai dari tokoh utama dalam film The Wizard of Oz).

  • <link type="page"><caption> Benarkah 'Snowden' seburuk itu?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/09/160912_vert_cul_snowden_ulasan" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Para seniman telanjang yang menggemparkan London</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/09/160915_vert_cul_seniman_telanjang" platform="highweb"/></link>

Ini adalah cerita tentang dua kisah yang saling bersaing yang terjadi di satu mayapada yang sama. Ketika Dorothy pertama kali menemukan Jeffrey di dalam lemari pakaiannya, ia melukai pipinya dengan pisau dapur, tetapi pagi harinya wajahnya tampak mulus.

Di malam lain, Frank memukuli Jeffrey habis-habisan, tetapi memar di wajahnya lenyap begitu cepat. Bisa dibilang, Jeffrey ini bagai pengganti orang yang pergi ke bioskop. Film memungkinkan kita, seperti Jeffrey, mengunjungi dewi seks, mengalami kekerasan dan musik yang moody untuk dua jam di ruang gelap, sebelum kembali ke dunia nyata tanpa goresan luka sedikitpun.

Permainan postmodern

Blue Velvet mengundang interpretasi tak terkira jumlahnya. Tentu saja ini membuat para penonton kembali dan kembali menyaksikan film ini. Namun yang terbantahkan adalah Lynch tidak bercerita secara lurus, ia berpindah dari beberapa genre dan gaya yang berbeda, mengingatkan kita terus menerus bahwa kita sedang menonton karya fiksi.

Blue Velvet

Sumber gambar, Blue Velvet

Keterangan gambar, Dean Stockwell menawarkan peran yang aneh dalam film ini.

Pada tahun 1986, permainan postmodern semacam ini membingungkan – dan bagi beberapa kritikus menyebalkan. Paul Attanasio menulis di harian The Washington Post bahwa Blue Velvet itu film yang sok, dengan “kualitas pamer kepintaran yang kekanak-kanakan”.

Dalam ulasannya Roger Ebert dari Chicago Sun-Times memberi satu bintang dan berpendapat bahwa Lynch terus menerus menarik Jeffrey dari dunia gelap Dorothy dan Frank. “Apakah ia takut bahwa penonton film tidak siap untuk melihat seks sadomasokis dan berupaya meyakinkan mereka bahwa itu semua hanya gurauan?”

  • <link type="page"><caption> Telanjang di panggung: Ketelanjangan kebenaran</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/03/160307_vert_cul_telanjang" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Jika Anda menemukan tumpukan buku di jembatan, inilah alasannya</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/09/160813_vert_cul_buku" platform="highweb"/></link>

Saya terkesima dan teryakinkan akan hubungan antara Rossellini dan MacLachlan, dan saya tak perlu sutradara menari di depan saya dengan membawa tongkat dan topi sambil terus meyakinkan bahwa ini semua mengasyikkan.

Pada dekade 1990-an, segala yang membuat Attanasio dan Ebert terganggu, merupakan hal yang biasa. Ketika lagu-lagu rap memulai kebiasaan menggunakan sampling lagu soul, film-film independen Amerika mulai “mencuri” adegan dan setting dari film-film yang “aneh” dan menggabungkannya dalam konfigurasi yang baru sama sekali.

Mereka tak terlalu terilhami oleh para sutradara-penulis di sekitar mereka, malahan lebih terinspirasi oleh koleksi video yang mereka miliki. Mereka, singkatnya, mencontoh Blue Velvet. Film keren, yang bicara di tingkat “meta” (alias mengomentari film lain), dan retrospeksi diam-diam serta pencampuradukkan berbagai film menjadi hal-hal yang dipelajari para sutradara film era 1990-an dari David Lynch.

  • <link type="page"><caption> Orang-orang yang membangun bahtera raksasa Nabi Nuh di Kentucky</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/09/160831_vert_cul_kapalnabinuh" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Watchmen: ketika komik superhero ‘naik kelas'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/08/160828_vert_cul_watchmen" platform="highweb"/></link>

Lihatlah betapa banyak kesamaan Reservoir Dogs dengan Blue Velvet. Misalnya: hidupnya kembali karier beberapa actor senior, adanya voice-over oleh penyiar radio, telinga yang terpotong, pemakaian dengan cara unik lagu yang pernah popular di masa lalu (Stuck in the Middle with You).

Resevoir Dogs

Sumber gambar, Reservoir Dogs

Keterangan gambar, Resevoir Dogs dianggap salah satu film yang terinspirasi oleh Blue Velvet.

Pada tahun 1996, novelis dan penulis esei David Foster Wallace bahkan menuding Quentin Tarantino (sutradara Reservoir Dogs) sebagai peniru Lynch kelas rendahan. Baginya pencapaian Tarantino hanya “mengambil sebagian kasar dan asal-asalan saja dari karya David Lynch lantas menghaluskannya dan membuatnya jadi renyah dan terkesan keren untuk dikonsumsi oleh penonton massal.”

  • <link type="page"><caption> Pria yang menghancurkan semua benda miliknya</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/08/160825_vert_cul_michael_landy" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Misteri di balik kegilaan Van Gogh</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/08/160816_vert_cul_van_gogh" platform="highweb"/></link>

Anda boleh setuju atau pun tidak dengan penilaian itu. Namun ada kesamaan Blue Velvet tidak hanya dengan karya Tarantino tetapi juga dengan Robert Rodriguez, Jim Jarmusch dan Coen bersaudara – belum lagi puluhan karya para sutradara yang muncul dan ingin terkenal lewat festival film independen di Sundance.

Cobalah tonton film bergenre thriller pada dekade 1990-an yang menggabungkan antara kekerasan ekstrem dan humor yang punya acuan terhadap lagu lama dan film. Pasti Anda akan menemukan bahwa sutradra film itu adalah pengagum David Lynch.

David Lynch tentu saja tak bisa disalahkan berkaitan dengan orang-orang yang mengikutinya. Tapi mungkin Blue Velvet harus bertanggung jawab bagi kecenderungan budaya pop untuk mengacu pada karya lain – menjadi terlalu bermain-main dan ironis – ketimbang mencoba untuk tulus bercerita.

  • <link type="page"><caption> Apakah Jason Bourne layak ditunggu?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/08/160810_vert_cul_jason_bourne" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Perubahan wajah boneka barbie</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/08/160802_vert_cul_bonekabarbie" platform="highweb"/></link>

Mungkin film itu menghasilkan terlalu banyak penggemar setia, seperti diamati oleh Roger Ebert, karena film itu merangsang kita untuk mengintip rasa takut kita yang paling dalam, lalu membuat kita mundur sambil tertawa geli – mirip seperti yang dilakukan oleh Jeffrey – alih-alih membangkitkan keberanian untuk menjelajahinya.

Pada dekade 1990-an, terlalu banyak film yang terbungkus oleh kenyamanan yang dihasilkan oleh Blue Velvet.