Alshad Ahmad dikecam terkait kematian anak harimau - "Saya pecinta binatang"

Sumber gambar, Alshad Ahmad/Instagram
- Penulis, Pijar Anugerah
- Peranan, BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 13 menit
Aktivis kesejahteraan hewan menyerukan agar tempat penangkaran milik YouTuber, Alshad Ahmad, "dievaluasi" setelah terungkap bahwa enam anak harimau benggala telah mati dalam perawatannya.
Davina Veronica dari Yayasan Natha Satwa Nusantara mengatakan bahwa tindakan Alshad memelihara harimau serta beberapa jenis satwa liar lainnya, meskipun legal, bermasalah secara etis apalagi dengan status dia sebagai tokoh publik.
Alshad Ahmad menjelaskan kepada BBC News Indonesia bahwa lima anakan harimau di tempat penangkarannya mati akibat "lahir prematur" dan diabaikan oleh induknya. Lima hewan itu juga tidak mati secara serempak.
Adapun penyebab kematian seekor bayi harimau bernama Cenora baru-baru ini, kata Alshad, masih diselidiki.
"Kita tunggu hasilnya dari lab, dan hasil diagnosa dari dokter, dan juga official statement nanti, apa yang terjadi sebenarnya. Jadi ketika hasilnya sudah ada kita baru bisa tahu dan memastikan apa yang telah terjadi," kata Alshad kepada BBC News Indonesia.
"Kalau sekarang kita menuduh-nuduh atau masih meraba-raba, tanpa dasar yang jelas, itu akan jadi sebuah fitnah atau informasi yang salah, dan akan menggiring opini yang tidak baik ke orang lain juga."
Baca juga:
Pejabat terkait di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan berencana menurunkan tim khusus untuk memeriksa kematian harimau di bawah pemeliharaan Alshad.
Seorang pejabat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat berkata kepada BBC News Indonesia bahwa pihaknya sudah membuat berita acara pemeriksaan (BAP) kematian bayi Cenora dan saat ini tengah menunggu hasil nekropsi.
Alshad menimbulkan kehebohan di internet setelah mengumumkan kematian Cenora, salah satu bayi harimau Benggala yang dipeliharanya. Warganet pun semakin berang ketika belakangan dia mengungkap bahwa sudah ada tujuh ekor harimau yang mati dalam perawatannya.
Kolom komentar Alshad di Instagram dipenuhi dengan hujatan dan kritik terhadap praktiknya menjadikan satwa liar sebagai bahan konten. Beberapa pengguna menyerukan agar harimau tidak dijadikan sebagai hewan peliharaan karena habitatnya di alam liar.
BBKSDA Jabar telah mengatakan bahwa Alshad mengantongi izin untuk memelihara satwa liar. Sepupu selebritas Raffi Ahmad itu telah mendaftarkan rumahnya di Ciumbuleuit, Bandung, sebagai tempat penangkaran sejak 2018.
BBKSDA mengatakan harimau yang dipelihara Alshad adalah harimau Benggala, bukan harimau Sumatera yang dilindungi di Indonesia. Namun demikian, subspesies tersebut diklasifikasikan terancam punah oleh organisasi konservasi internasional terbesar IUCN.
Dituduh tidak etis
Nama Alshad Ahmad masuk dalam jajaran tokoh publik di Indonesia, termasuk politikus, yang diketahui memelihara satwa liar. Tidak jarang, para tokoh ini memamerkan kegiatan mereka bersama satwa di media sosial.
Praktik ini selalu mendapat kecaman dari banyak warganet yang berkeyakinan bahwa memelihara satwa liar itu tidak etis karena tempat satwa liar adalah di alam.
Davina Veronica dari Natha Satwa Nusantara mengatakan tindakan Alshad memelihara hewan liar bermasalah secara etis karena menurutnya tidak ada satu pun yang bisa dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan dasar satwa liar.
"Status harimau Bengal ini endangered," Davina menekankan. "Status endangered ini berlaku di seluruh dunia. Harusnya tidak boleh dipelihara."
Selain itu, menurut Davina yang juga menjadi masalah adalah posisi Alshad sebagai tokoh publik.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan
Sebagai YouTuber dengan lebih dari enam juta subscribers, perilaku Alshad dikhawatirkan dapat memicu banyak orang untuk melakukan hal yang sama — yang ujung-ujungnya dapat meningkatkan perburuan terhadap satwa liar.
Davina menilai, konten-konten yang dibuat Alshad berbeda dengan praktik dokumentasi yang biasa dibuat organisasi penyelamat hewan.
"Caranya mereka nggak seperti itu kok. Maksudnya, kalau pun mereka memang mengekspose itu juga kegiatan yang memang sesuai dengan standar animal welfare [kesejahteraan hewan] pastinya. Lalu mereka itu kan memang akarnya semua di situ [bidang konservasi]," ungkapnya kepada BBC News Indonesia.
Aktivis dari Profauna, Nadya Andriyani, berpendapat bahwa orang-orang seperti Alshad memanfaatkan "kekurangan dari hukum Indonesia" yang hanya melarang pemeliharaan satwa liar endemik secara perorangan.
"Jadi ketika akhirnya ketika Alshad tidak diperbolehkan memelihara hewan endemik, dia akhirnya beralih ke hewan endemik dari luar. Karena kan harimau Alshad itu kita tahu bukan harimau Indonesia," kata Nadya.
Para aktivis kesejahteraan hewan menyoroti fakta bahwa Alshad sudah enam kali gagal mengembangbiakkan harimau adalah pertanda bahwa tempat penangkarannya perlu dievaluasi. Mereka mendorong pihak-pihak berwenang untuk turun tangan.
"Di mana letak kesalahannya dia sampai bisa satwanya mati gitu kan? Apakah animal welfare tidak dipenuhi? Apakah dia kena human disease, dan apakah dia selama melihara si hewan satwa liar ini melakukan pemeriksaan rutin atau tidak, itu kan remains to be seen, artinya kita enggak tahu," kata Davina.

Sumber gambar, Alshad Ahmad/YouTube
Dirjen Konservasi dan Sumber Daya Ekosistem (KSDAE) KLHK, Satyawan Pudyatmoko, berkata kepada sejumlah media bahwa pihaknya akan menyelidiki kematian anak harimau di tempat penangkaran Alshad Ahmad.
"Ya (akan ada investigasi), ada evaluasi menyeluruh," kata Satyawan kepada Tempo.co.
Satyawan mengatakan pihaknya akan menurunkan tim untuk mengevaluasi kesejahteraan hewan alias animal welfare di tempat Alshad. Dengan begitu, penyebab kematian harimau Benggala tersebut bisa diketahui.
"Setelah ada evaluasi akan kita tentukan langkah selanjutnya," ujarnya.
Baca juga:
Halu Oleo, kepala seksi konservasi wilayah III Bandung BBKSDA, berkata kepada BBC bahwa pihaknya melakukan pemeriksaan setiap ada kelahiran dan kematian di tempat penangkaran.
Halu mengatakan kematian enam bayi harimau sebelumnya di tempat Alshad terjadi ketika mereka baru lahir dan karena perlakuan induknya.
"Ya ya enggak ada [perlakuan buruk], jarang ada penanganan yang diperlakukan dengan buruk. Ya kemarin kalau dari kami BAP kami sih sesuai fakta," kata Halu kepada BBC News Indonesia lewat sambungan telepon.
Mengenai kematian bayi Cenora, Halu berkata pihaknya sudah membuat berita acara pemeriksaan (BAP) kematian dan saat ini sedang menunggu hasil nekropsi.
Halu mengungkapkan bahwa tempat penangkaran Alshad yang berlokasi di Ciumbuleuit, Bandung, rutin menyampaikan laporan bulanan tentang perkembangan satwa.
"Rutin ya mereka menyampaikan laporan bulanan tentang perkembangan satwa kan gitu. Nah salah satunya kalau yang di Taman Satwa Eksotik ini (tempat Alshad) yang di tempatnya itu tertib sih kalau saya lihat. Saya juga ada laporan bulanannya, waktunya, dan sebagainya," kata Halu.
"Saya pecinta binatang, bukan kolektor"
Dalam wawancara via telepon dengan BBC News Indonesia, Alshad Ahmad membela keputusannya untuk memelihara harimau Benggala. Dia berkeras bahwa dirinya adalah "pecinta binatang, bukan kolektor".
Alshad menekankan bahwa dia tidak bertemu dengan dua induk harimau yang sekarang dia pelihara, Eshan dan Jinora, di alam liar. Eshan dia dapatkan dari Kebun Binatang Bandung, sedangkan Jinora dari tempat penangkaran lain. Dia mengklaim kedua harimau itu sudah tidak bisa dilepaskan ke alam liar, menurut negara asalnya.
"Kalau saya posisinya hanya merawatkan harimau-harimau tersebut. Jadi walaupun saya enggak rawat di sini, mereka pun pasti ada di penangkaran, pasti ada di zoo, karena mereka nggak akan mungkin dilepasin. Kalau saya di sini hanya lanjut rawat," kata Alshad kepada BBC News Indonesia.
Dia menjelaskan bahwa tempat penangkarannya sudah mengikuti standar kebun binatang. Adapun alasan dia memelihara satwa liar di rumahnya sendiri adalah karena "masalah privasi".
"Kalau di kebun binatang, setiap hari satwa ketemu orang ribuan dan itu kan nggak masalah. Tempat saya di sini yang rumah pribadi ... kalau ada tamu pun paling puluhan orangnya," ujarnya.

Sumber gambar, Reuters
Menanggapi kritik terhadap kebiasaannya membuat konten dengan satwa liar, Alshad berdalih bahwa kontennya sekadar dokumentasi kegiatan di penangkaran. Dia mengatakan, konsepnya adalah konten yang mengikuti kegiatannya; bukan sebaliknya.
"Contohnya, misalkan nih harimau memang waktunya hari ini untuk makan daging, ya udah memang mau makan daging sambil saya videoin. Jadi mengikuti kegiatan penangkaran di sini bukan kita paksain untuk action harimaunya demi konten. Nggak kayak gitu," ungkapnya.
"Tapi kita cuma apa ya? Mendokumentasikan dan menceritakan kayak gimana sih kegiatan penangkaran, terus kayak gimana sih di sini kalau ngasih makan harimau itu makanannya apa aja? Kurang lebih kayak gitu."
Bagaimanapun, pegiat kesejahteraan hewan mempertanyakan niat Alshad.
"Kalau tujuannya konservasi, apa urusannya bawa harimau asal India ke Indonesia? Kalau mau konservasi ya di India sana," kata Davina Veronica dari Yayasan Natha Satwa Nusantara, LSM yang memperjuangkan kesejahteraan hewan domestik.
Dia juga mempertanyakan apakah anak-anak harimau itu akan dikembalikan ke negara asalnya. Pakar konservasi kucing besar [big cats], imbuhnya, menilai bahwa pengembangbiakan kucing besar tanpa program release atau pelepasan ke alam itu tidak ada nilai konservasinya.

Wawancara Alshad Ahmad: 'Saya pecinta binatang, bukan kolektor'
Setelah ada enam harimau yang matidalam pemeliharaan Anda, bagaimana pertanggungjawaban Anda sebagai tempat penangkaran?
Kalau anakan [harimau] itu rentan, bisa mati kapan pun dan untuk pertanggung jawabannya kita mencari tahu apa yang terjadi. Kalau dari kelahiran pertama sampai ketiga ketahuan itu memang itu alamiah [karena] induk yang merawatnya, kita nggak ikut campur. Kalau yang keempat, kita lagi mencari tahu sekarang ini dari laboratorium apa masalahnya? Apakah kelainan genetik, apakah bakteri atau virus itu? Kita masih mencari tahu hasilnya ntar juga akan dikasih tahu ke masyarakat ke orang-orang luas juga bahwa hasilnya kenapa anaknya bisa mati.
Ke depannya apakah akan ada yang diperbaiki dari cara merawat dan sebagainya, setelah berkali-kali kematian anak harimau?
Setiap kasus juga setiap saya kelahiran pertama, kedua, ketiga itu selalu ada evaluasi dan pembelajaran ke depannya yang terlihat selalu ada progres. Kalau yang sekarang ini kita sudah melakukan semua standar untuk memelihara harimau ya. Cuma karena kejadian ini kita melakukan hal ekstra untuk penjagaan dan ketatnya merawat harimau di sini. Ekstra gitu. Karena ini hal yang cukup aneh bagi kita, karena sampai sekarang belum ketahuan harus dikirim lab dan segala rupa gitu ya hal yang jarang terjadi. Jadi kita lebih ketat lagi, lebih jaga lagi untuk harimau dan satwa satwa di sini mas kita.
Bagaimana tanggapan Anda terhadap kritik para warganet dan aktivis kesejahteraan hewan yang memandang praktik Anda memelihara satwa liar di rumah sebagai hal yang tidak etis?
Netizen mungkin ada yang baru ngikutin kasus ini dan belum tahu cerita sepenuhnya. Seperti yang tadi saya ceritakan - karena saya juga tadi juga lihat, baca-baca - ada yang mengira itu mati enam sekaligus hari ini atau serentak mati enam ekor dewasa atau anakan, mereka masih mengira begitu padahal itu akumulasi secara berkala setelah empat kali kelahiran.
Kalau pilihan - kenapa saya rawat harimau benggala? Pertama harimau benggala itu harimau India dan enggak bisa dilepaskan ke alam liar di Indonesia karena bakal invasif.
Kedua, saya ketemu Eshan dan Jinora (dua indukan yang dipelihara di penangkaran) posisinya bukan di alam liar, satu dari penangkaran satu di kebun binatang dan mereka itu dari negaranya sudah enggak bisa dilepasin ke alam liarnya. Negara itu menilai fisiknya, menilai instingnya, banyak perhitungan sehingga mereka enggak bisa dilepasin ke alam.
Kalau saya posisinya hanya merawatkan harimau-harimau tersebut. jadi walaupun saya enggak rawat di sini mereka pun pasti ada di penangkaran, pasti ada di zoo karena mereka enggak akan mungkin dilepasin. Kalau saya di sini hanya lanjut rawatin.
Tapi kalau misalkan orang-orang bilang, 'mending di kebun binatang atau lepasin ke alam'... Kalau lepasin ke alam nggak bisa, kalau di kebun binatang, masalah privasi itu lebih enak di rumah. Kalau di kebun binatang, setiap hari satwa ketemu orang ribuan dan itu kan masalah. Di tempat saya, di sini rumah pribadi... paling banyak puluhan.
Bagaimana tanggapan Anda terhadap kritik kebiasaan Anda menjadikan satwa liar sebagai bahan konten?
Konsepnya itu konten ngikutin kegiatan saya bukan saya ngikutin konten. Jadi maksudnya kegiatan harimau di sini, kegiatan penangkaran ini saya dokumentasikan di konten. Contohnya, misalkan nih harimau emang waktunya hari ini untuk makan daging, ya udah memang mau makan daging sambil saya videoin. Jadi mengikuti kegiatan penangkaran di sini bukan kita paksain untuk action harimaunya demi konten. Nggak kayak gitu.
Di rumah Anda kabarnya ada banyak hewan liar, dari mana Anda mendapatkannya?
Merak biru India itu nggak lindungi dan juga bukan terancam punah, itu sudah banyak yang budidaya di Jawa tengah. Kalau merak Jawa itu memang dilindungi, saya dapat dari penangkar di Malang. Terus kalau rusa totol India itu, yang banyak di Istana Bogor, itu nggak termasuk dilindungi dan juga tidak terancam punah dan burung unta juga bukan termasuk binatang terancam punah dia termasuk hewan ternak malah yang biasa dikonsumsi. Binturong di sini saya dapat dari penangkaran binturong di Semarang.
Kalau misalkan saya melihara satwa dilindungi Indonesia kayak binturong itu saya ada kewajiban memberikan 10% hasil penangkarannya ke alam. Jadi misalkan beranak 10, satu ekor kita kasih ke negara buat direhabilitasi dan dilepaskan ke habitatnya di Indonesia. Itu saya senang melakukan itu karena bisa membantu recovery populasi di alam yang mau punah-punah.
Dapetin binatangnya kita dari tempat tempat yang memang legal dan terdaftar gitu loh, sah.
Persyaratan apa aja yang harus dipenuhi supaya bisa mendirikan tempat penangkaran sendiri?
Banyak banget. Kita ngajuin proposal itu, proposalnya itu sudah ada formatnya; apa saja yang dipenuhi, apa saja yang harus dilengkapi. Kayak kandang yang luas, izin tetangga, izin RT/RW camat sampai lurah, terus juga sumber airnya [sumur] artesis atau apa, PH airnya, terus juga kelengkapan kandang, tenaga kerja, terus juga untuk hewan kayak gimana terus rencana kita adopsi satwanya atau memperoleh satwa dari mana itu ditulis semua. Dan juga rencana pakan lima tahun ke depan kayak gimana. Jadi pemerintah benar-benar ketat dan disiplin mengenai izin penangkaran ini ... Dan juga kita harus tunjukin perkiraan biaya yang akan kita keluarkan untuk merawat satwanya.
Bagaimana pengawasan dari BKSDA setempat?
Untuk pengawasan, kita itu setiap hari melakukan namanya logbook atau buku harian. Setiap keeper itu kan punya tanggung jawab di spesies masing-masing. Misalkan keeper merawat harimau ini, jadi dia tulis jam 7:00 pagi harimau keluar, jam 08.00 dia lagi aktivitas di luar, jam 09.00 pagi hari berenang, jam 10.00 makan. Logbook ini kita laporkan ke BKSDA. Itu 11 kali kita laporin untuk semua satwa di sini, kita tulis kegiatannya ngapain saja.
Dan BKSDA juga ngecek secara berkala ke sini — Apakah kandang masih layak? Apakah satwanya sesuai enggak sama yang di laporin? Ada yang mati enggak? Ada yang lahir nggak?
Apa sebenarnya alasan Anda menjadikan rumah sebagai tempat penangkaran satwa liar?
Kebetulan karena saya memang suka banget sama satwa, memang hobi, dan saya itu ke depannya memang punya rencana bikin zoo [kebun binatang]. Jadi di sini tuh saya bisa dibilang RnD-nya, latihan dulu, sebelum skala besar. Karena kalau misalkan kita langsung bikin skala besar kan takutnya gagal atau kalau ada apa-apa lebih repot. Jadi kita belajar dulu, perlahan lahan untuk bikin zoo. Jadi sebenarnya di rumah ini sementara, tapi ke depan kita akan bikin zoo, lembaga konservasi gitu.
Sebagai orang yang memelihara banyak hewan, apakah Anda sadar dengan apa yang disebut hak asasi hewan?
Iya, tentunya. Makanya saya rawat di sini kan menurut saya di sini tempatnya lebih baik, nutrisi yang dikasih lebih baik, harimau juga lebih happy ... Orang-orang juga menilai lah dari tempat sebelumnya atau dari manapun di sini tempatnya bagus, bisa memenuhi standar, malah di atas standar.
Jadi memang saya karena pecinta binatang bukan kolektor, bukan yang ingin memelihara semua binatang, enggak. Cuma saya memang suka banget sama satwa jadi memang memerhatikan banget kesejahteraan satwanya. Mulai dari dari pakannya, nutrisinya, terus kebebasan dia untuk berekspresi, dan juga saya ada paramedisnya, ada orang yang ahlinya di sini.
Itu kan bentuk saya... karena saya cinta banget dan memerhatikan kesejahteraan satwanya.

Kronologi kematian bayi harimau
Kepada BBC News Indonesia, Alshad menceritakan kronologi kematian Cenora. Bayi harimau bengal itu mulai kelihatan tidak sehat pada hari Senin, tanggal 24 Juli. Ia terus muntah-muntah, kata Alshad, dan dokter di tempat penangkaran curiga ia terjangkit virus.
Cenora kemudian dibawa ke klinik hewan terdekat, tempat dia dites virus (hasilnya negatif) dan diberi perawatan. Namun kondisinya terus memburuk. Dokter melakukan CPR karena detak jantungnya beberapa kali melemah.
Akhirnya, kurang dari 10 jam sejak ia menunjukkan gejala, bayi Cenora mati di klinik.
Alshad berkata setelah kematian Cenora, mayatnya langsung diautopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya.
"Semua organnya bagus, nggak ada yang rusak kecuali paru-paru. Paru-paru dia jelek, jadi alveolus atau apa gitu ya, yang untuk mengikat oksigen itu sudah pada rusak."
Tim kemudian mengambil semua organ dari Cenora dan mengirimkannya ke Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) Universitas IPB untuk diperiksa lebih lanjut. Alshad mengatakan, saat ini pihaknya masih menunggu hasil dari laboratorium.
"Nanti kita akan keluarkan statement-nya karena kita butuh diagnosis dari dokter," ujarnya.
Baca juga:
Cenora adalah anak dari indukan bernama Eshan dan Jinora. Eshan didapatkan Alshad dari Kebun Binatang Bandung sedangkan Jinora dia beli dari sebuah penangkaran perorangan di Tangerang.
Jinora, si harimau betina, sempat disita BKSDA Jabar pada 2017 karena surat-suratnya tidak lengkap, kemudian dititipkan ke Kebun Binatang Bandung sebelum dikembalikan kepada Alshad pada 2020.
Dua indukan tersebut pernah melahirkan beberapa anak, tapi sekarang, setelah kematian Cenora, hanya sisa satu bayi harimau bernama Teona.
Penjelasan Alshad tentang kematian enam anak harimau
Menjawab pertanyaan seorang warganet di Instagram, Alshad mengatakan sebelum Cenora sudah ada tujuh ekor anak harimau yang mati di bawah pengawasannya. Kepada BBC News Indonesia, dia mengoreksi bahwa jumlah sebenarnya adalah enam, bukan tujuh.
Alshad menjelaskan bahwa bayi-bayi harimau itu tidak mati secara serempak.
Dua bayi pertama yang lahir pada tanggal 2 Juli 2021 mati ketika lahir, kata Alshad. Mereka lahir setelah usia kehamilan Jinora hanya 82 hari, padahal usia kehamilan yang normal untuk harimau adalah 100-120 hari. "Jadi prematur, itu kita enggak bisa ngapa-ngapain karena masih alaminya begitu dengan induknya, itu tidak ada campur tangan manusia."
Kelahiran kedua terjadi pada tanggal 8 Februari 2022. Jinora melahirkan dua anak setelah usia kehamilan 94 hari. Satu bayi lahir dalam keadaan tak bernyawa, satu lagi hanya bertahan selama 24 jam. Ia mati setelah diabaikan oleh induknya.
Pada kelahiran ketiga, 3 November 2022, Jinora melahirkan satu anak setelah usia kehamilan 99 hari. Dan setelah ditinggalkan dua hari bersama induknya, bayi itu lemas karena tidak kunjung diberi ASI. Ia kemudian dipisahkan untuk dirawat namun mati lima hari kemudian karena kekurangan ASI dan infeksi dari luka di badannya akibat si induk masih belajar untuk mengangkat anaknya.
Cenora dan Teona lahir pada tanggal 18 Mei 2023. Bayi-bayi itu langsung dirawat oleh tim setengah jam setelah lahir, kata Alshad, dengan bimbingan dari paramedis, pawang, dan seorang pakar dari Afrika yang dia sebut dengan julukan The Expert.
Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati Instagram pesan
Alshad mengatakan anakan harimau yang baru lahir memang sangat rentan dan "susah bertahan hidup".
"Reproduksi harimau itu [reproduksi] binatang yang sangat susah sangat sulit. Beda kalau misalkan kematian kita melihara induk, udah besar, nanti itu biasanya beda cerita karena itu bisa jadi kelalaian atau kalau enggak hal-hal lain, karena kalau indukan itu lebih stabil, posisinya lebih kuat," ujarnya.
Alshad menjelaskan, bentuk pertanggungjawabannya sebagai pemelihara adalah mencari tahu apa yang menyebabkan kematian tersebut. Kalau bayi-bayi di kelahiran pertama sampai kelahiran ketiga, ujarnya, mati karena sebab "alamiah"; penyebab kematian terbaru ini belum diketahui.
"Kita lagi mencari tahu sekarang ini dari lab apa masalahnya? Apakah kelainan genetik, apakah bakteri atau virus? Kita masih mencari tahu hasilnya ntar juga akan dikasih tau ke masyarakat ke orang-orang luas hasilnya," kata Alshad.
Siapa Alshad Ahmad?
Alshad Ahmad adalah seorang influencer yang membuat konten tentang satwa liar. Dia menyimpan banyak hewan peliharaan di rumahnya seperti rusa totol, serigala abu-abu, rakun, burung unta, binturong jawa, hingga harimau benggala.
Alshad yang juga banyak dikenal karena sepupu dari selebritas Raffi Ahmad ini kerap menunjukkan interaksinya bersama hewan-hewan piaraannya kepada lebih dari enam juta pelanggan di kanal YouTube-nya.
Harimau benggala yang dipelihara Alshad berasal dari Kebun Binatang Bandung yang dikelola Yayasan Margasatwa Tamansari. Pada 2017, Alshad memenangkan sayembara yang diadakan kebun binatang untuk mencari orang tua asuh bagi seorang anak harimau benggala yang baru lahir bernama Eshan.
Alshad meneken kontrak untuk merawat Eshan selama satu tahun sebagai "ayah asuh". Meskipun tetap dipelihara di kebun binatang, Alshad wajib menyediakan makanan, susu, vitamin, dan kebutuhan lainnya.
Ia mengaku mengeluarkan biaya mencapai Rp30 juta lebih untuk kebutuhan Eshan, seperti susu kaleng isi 300 gram seharga Rp400.000 untuk beberapa hari. "Saya tidak memberikan uang kepada pengelola kebun bintang, tapi menyiapkan dalam bentuk makanan," ujarnya seperti dikutip oleh Jawa Pos.

Sumber gambar, Alshad Ahmad/Instagram
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Ammy Nurwati pernah menjelaskan bahwa kepemilikan Alshad atas harimau benggala adalah legal secara hukum.
Ammy mengungkapkan bahwa Alshad sudah mengajukan permohonan izin untuk memelihara Harimau tersebut lewat badan hukum miliknya, PT. Taman Satwa Eksotik yang didaftarkan sebagai penangkaran satwa pada Oktober 2018.
Alshad memohon izin melalui BKSDA Jawa Barat untuk pemeliharaan sekaligus sebagai indukan penangkaran Harimau benggala yang diperoleh dari Kebun Binatang Bandung.
"Staf BKSDA sudah memeriksa kelayakan sarana dan prasarana pemohon, dan kami nilai sudah sesuai," ujar Ammy seperti dikutip Tempo.co.
Ammy juga menambahkan, bahwa Harimau tersebut sudah dilakukan tes DNA di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk memastikan jenis harimau yang diminta Alshad. Ia pun mengatakan bahwa Harimau tersebut bukan jenis Harimau sumatra yang termasuk satwa dilindungi.
Namun, penangkaran harimau benggala milik Arshad juga mendapat perhatian dari organisasi-organisasi perlindungan satwa liar.
Pada 2020, Garda Animalia menyoroti fakta bahwa salah satu indukan harimau yang diadopsi Alshad, Jinora, merupakan harimau hasil penyitaan BBKSDA pada 2017.
Garda Animalia menyayangkan setelah itu pihak BBKSDA malah memberikan izin pemeliharaan dan penangkaran harimau benggala kepada Alshad. Mereka berpendapat, seharusnya BBKSDA memberikan sanksi kepada Alshad karena telah melanggar peraturan pemeliharaan satwa.
Liana Dee, petugas media dan advokasi Garda Animalia, mengatakan proses perizinan untuk mendirikan tempat penangkaran perlu diperketat lagi untuk memastikan lima hak asasi hewan menurut undang-undang — bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas mengekspresikan tingkah laku alami mereka, bebas dari rasa stres dan takut, dan bebas dari sakit maupun dilukai.
Menurut Liana, aktivitas membuat konten dengan dalih "edukasi" yang biasa dilakukan Alshad membuat proses mengurus izin pemeliharaan satwa liar terkesan mudah, seakan-akan siapapun boleh melakukannya.
"Jadi kalau saran kami itu untuk proses perizinan harus dipersulit karena banyak hal yang harus dipastikan. Apalagi nggak semua orang yang mengajukan perizinan itu bisa memastikan kesejahteraan satwa liar itu terjamin," kata Liana.












