Migrasi tradisional NTT ke 'rumah kedua' Malaysia, sejarah 'tangis dan tawa' selama puluhan tahun

Migrasi tradisional NTT ke 'rumah kedua' Malaysia, sejarah 'tangis dan tawa' selama puluhan tahun
    • Penulis, Raja Eben Lumbanrau
    • Peranan, Wartawan BBC News Indonesia

Bagi sebagian masyarakat Nusa Tenggara Timur, Malaysia bukan hanya sekadar tempat mencari uang, namun juga telah menjadi rumah kedua mereka. Berkat budaya migrasi tradisional yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Hingga kini, migrasi kultural itu bahkan menjadi pelengkap pembicaraan bagi masyarakat di Pulau Flores bagian timur, NTT, saat makan bersama keluarga.

Digerakkan oleh kolonialisme Inggris, tawaran kewarganegaraan British-Malay, gerakan Ganyang Malaysia, kebangkitan ekonomi Malaysia, perjanjian Medan, "tragedi Nunukan" hingga beragam peristiwa terkini, migrasi tradisional memberikan "tangis dan tawa" bagi masyarakat NTT.

Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo mengatakan, di satu sisi, migrasi tradisional masyarakat Flores yang mayoritas ke wilayah Sabah, Malaysia, telah meningkatkan perekonomian mereka serta melahirkan generasi intelektual dan rohaniawan.

Namun di sisi lain, tanpa adanya rekognisi, migrasi tradisional menyuburkan praktik tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang menyebabkan eksploitasi, kekerasan, hingga kematian.

Pemulangan jenazah pekerja migran di kargo Bandara El Tari Kupang.

Sumber gambar, Laurentina

Keterangan gambar, Pemulangan jenazah pekerja migran di kargo Bandara El Tari Kupang.

Berdasarkan data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) NTT, terdapat lebih dari 700 PMI asal NTT pulang dalam peti mati, karena beberapa sebab, sepanjang sembilan tahun terakhir.

Atau, rata-rata, ada satu sampai dua peti jenazah tiba di NTT setiap pekan.

Para korban mayoritas berasal dari Malaysia dengan lebih dari 90% adalah pekerja nonprosedural atau gelap, yang banyak di antara mereka adalah korban TPPO.

Pilu keluarga menyambut jenazah

Suster Laurentina dan Pendeta Emmy mendoakan kedua jenazah di kargo Bandara El Tari, Kupang.
Keterangan gambar, Suster Laurentina dan Pendeta Emmy mendoakan kedua jenazah di kargo Bandara El Tari, Kupang.

Kargo Bandara El Tari, Kupang, NTT dipadati puluhan orang pada pertengahan Februari 2022 lalu. Mereka menunggu kedatangan dua jenazah calon pekerja migran Indonesia (PMI) nonprosedural Yasinta Uba Wuyo dan Sesilia Siba Wara.

Yasinta dan Sesilia meninggal saat kapal kayu ilegal yang ditumpanginya dari Tanjung Balai Karimun tenggelam di perairan Pengerang, Johor, Malaysia pada 20 Januari 2022 lalu.

Evakuasi jenazah PMI gelap yang tewas akibat kapal mereka tenggelam di perairan Malaysia.

Sumber gambar, KJRI Johor Bahru

Keterangan gambar, Evakuasi jenazah PMI gelap yang tewas akibat kapal mereka tenggelam di perairan Malaysia.

Selain mereka, insiden itu juga menyebabkan tiga orang lainnya tewas, 19 selamat, dan satu orang hilang.

BBC Indonesia mengikuti proses pengantaran kedua jenazah itu ke kampung halaman mereka di Pulau Adonara, NTT, yang dilakukan oleh Laurentina Suharsih, dikenal sebagai 'suster dan pendeta kargo' di Bandara El Tari, Kupang.

Menempuh perjalanan sekitar 12 jam dengan kapal laut dan delapan jam dengan mobil, kami tiba di Pulau Adonara.

Gunung berapi Ili Boleng di Pulau Adonara

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Foto Gunung berapi Ili Boleng di Pulau Adonara di masa lalu.

Isak suara tangis menggemakan Desa Nelelamawangi dan Desa Lamabayung yang biasanya tenang di kaki Gunung Ile Boleng, berdiri tegak 1.659 meter di atas permukaan laut.

Anak laki-laki Sesilia bernama Nikolous Salam Bua, 29 tahun, mengatakan ibunya adalah tulang punggung keluarga.

"Kata terakhir mama, 'jaga adik-adik semua, mama pergi tak lama, cuma satu tahun'. Ternyata dia pergi untuk selamanya," ujar Nikolous.

'Sekitar 35% merantau ke Malaysia'

Keluarga dan tetangga menghadiri kedatangan jenazah di Pulau Adonara.
Keterangan gambar, Keluarga dan tetangga menghadiri kedatangan jenazah di Pulau Adonara.

Yasinta dan Sesilia adalah beberapa di antara sebagian besar warga Kecamatan Ile Boleng yang merantau ke Malaysia.

Kepala Dusun 3 Desa Nelelamawangi, Sius Laga menceritakan, hampir seluruh warganya pernah merantau ke luar negeri, mayoritas di Malaysia timur.

"Yang tinggal di sini ada 375 orang dan hampir semuanya pernah ke Malaysia. Sementara yang sekarang di Malaysia paling kurang 200 orang, sekitar 35% merantau ke Malaysia," kata pria berusia 58 tahun ini, Februari tahun lalu.

Kepala Dusun 3 Desa Nelelamawangi, Sius Laga (kiri - baju hitam)
Keterangan gambar, Kepala Dusun 3 Desa Nelelamawangi, Sius Laga (kiri - baju hitam)

Migrasi tradisional warga desanya telah terjadi sejak tahun 1950-an dan Sius Laga adalah satu di antara mereka yang pernah merantau ke Sabah, wilayah Malaysia timur.

Tamat dari sekolah dasar, Suis menginjakan kaki pertama kali di Malaysia tahun 1974 - berpindah-pindah kerja dari peternakan ayam, supir, hingga penjaga lapangan golf.

"Yang ajak pertama kali saya punya paman. Kita punya keluarga jadi ajak ke sana, makanya kita senang ke sana. Lalu, satu hari gaji di sana bisa sekitar Rp400 ribu kalau dihitung sekarang," kenangnya.

Desa di Pulau Adonara

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Foto sebuah desa di Pulau Adonara di masa lalu.

Setelah merantau lebih dari 30 tahun dan menikah di Malaysia, Sius dan keluarganya memutuskan kembali ke Adonara.

Bekerja di Malaysia membuatnya mampu membangun rumah. Bahkan, katanya, Sius pun menyekolahkan adik-adik hingga menjadi pengacara, guru, dan rohaniawan.

Malaysia, kata Sius, "memberikan warna dan sejarah bagi kami. Di sana ada tangis dan tawa kami. Satu sisi berat kerja di sana, di sisi lain penghasilannya membuat anak-anak kami mampu bersekolah dan meningkatkan kehidupan kami di kampung ini."

Siprianus Lekibeda, keluarga dari almarhum Sesilia yang juga pernah merantau ke Sabah.
Keterangan gambar, Siprianus Lekibeda, keluarga dari almarhum Sesilia yang juga pernah merantau ke Sabah.

Kemudian ada Siprianus Lekibeda, keluarga dari almarhum Sesilia yang juga pernah merantau ke Sabah.

"Saya punya mama saudara cerita, sebelum tahun 1945 sudah di Malaysia dan sekarang menjadi penduduk resmi di sana," kata Siprianus.

Siprianus bercerita, dia dan sebagian besar warga kampungnya merantau menggunakan jalur migrasi tradisional, atau tidak resmi.

Pria 50 tahun ini menambahkan, dia dan warga desanya memutuskan untuk merantau karena diajak oleh keluarga di Malaysia dan sulitnya mencari pekerjaan di kampung - bukan karena bujuk rayu, atau mafia perdagangan manusia.

Anak laki-laki dengan perahu nelayan di pantai di Pulau Adonara

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Anak laki-laki dengan perahu nelayan di pantai di Pulau Adonara

Manfaat dari migrasi tradisional dirasakan oleh Ronald, anak dari orang tua yang merantau ke Malaysia.

Ronald mengatakan, orang tuanya mampu menyekolahkan dirinya hingga meraih gelar sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang baik di Kupang.

Ronald mengatakan, "ke Malaysia itu semacam regenerasi. Jadi misal abang ke sana, lalu pulang kampung, dan saat pergi, abang bawa satu orang ke sana," katanya.

Satu desa merantau ke Malaysia dengan kapal layar

Suster Laurentina (kiri) dan Matius Tupen Hadung (kanan) di pelabuhan Larantuka, NTT.
Keterangan gambar, Suster Laurentina (kiri) dan Matius Tupen Hadung (kanan) di pelabuhan Larantuka, NTT.

Di Pelabuhan Larantuka, ujung timur Pulau Flores, NTT, kami bertemu dengan Matius Tupen Hadung, 71 tahun.

Matius mengatakan, lebih dari setengah waktu hidupnya dihabiskan di Malaysia.

Baca juga:

Masih jelas dalam ingatannya, pada tahun 1970-an, Matius mengunakan perahu layar yang mengandalkan angin berangkat dari Pulau Adonara menuju Tarakan, Kalimantan Utara.

Mengaku menghabiskan waktu 30 hari 30 malam, Matius pergi bersama hampir seluruh warga desanya yang berjumlah lebih dari 100 orang dalam satu perahu layar.

Kapal penangkap ikan di Selat antara Larantuka dengan Pulau Adonara.

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Kapal penangkap ikan di Selat antara Larantuka dengan Pulau Adonara.

Sesampai di Tarakan, Matius bekerja sebagai tukang bangunan selama enam bulan, lalu kemudian pergi ke Sabah, Malaysia.

"Di sana [Sabah], saya kerja di kandang ayam, baterai aki motor, dan supir. Hasilnya, saya buat rumah, bak air, dan anak-anak sekolah," katanya.

Matius bersama istrinya kini tinggal di Adonara, sementara anak mereka ada yang menjadi rohaniawan, sarjana, hingga bekerja di luar negeri.

Tradisi turun temurun dan pelengkap makan

Pria dengan anak mereka di Loka dekat Kiwangona di Pulau Adonara

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Pria dengan anak mereka di Loka dekat Kiwangona di Pulau Adonara

Camat Ile Boleng, Umar Raya Daen mengatakan, migrasi tradisional masyarakat di Flores Timur, khususnya warga Ile Boleng telah menjadi tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.

"Dari catatan kami, sudah mulai dari tahun 1940-an, sebelum Indonesia merdeka, masyarakat di sini merantau ke Malaysia," kata Umar.

Umar mencatat, sekitar 50% warganya merantau ke Malaysia. Secara umum, usai lulus sekolah dasar, mereka memutuskan mencari kerja di sana.

Menurut data BPS Kabupaten Flores Timur tahun 2019, jumlah penduduk di Kecamatan Ile Boleng dari 21 desa yaitu sebanyak 15.377 orang, terdiri dari 8.443 perempuan dan 6.934 laki-laki, dengan total 2.182 rumah tangga miskin (data tahun 2011).

Kepala unit pelaksanaan teknis BP2MI wilayah NTT Siwa
Keterangan gambar, Kepala unit pelaksanaan teknis BP2MI wilayah NTT Siwa

Kepala unit pelaksanaan teknis BP2MI wilayah NTT Siwa mengatakan, migrasi tradisional adalah satu dari beragam karakteristik cara para pekerja migran pergi bekerja di Malaysia.

"Bahkan ada penelitian yang menyebut bermigrasi sejak 1939," kata Siwa.

Dia menambahkan, bagi masyarakat Flores timur, Malaysia telah menjadi topik pembicaraan sehari-hari.

"Seperti pelengkap makan bersama keluarga, sambil makan, sambil cerita Malaysia. Sehingga banyak yang termotivasi. Mereka tidak mau hanya sebagai pendengar, tapi juga menjadi sumber cerita, akhirnya pergi juga ke sana," ujar Siwa.

Peta kepulauan dari Bali hingga NTT.

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Peta kepulauan dari Bali hingga NTT.

Sementara di daratan Timor dan Pulau Sumba, NTT, mayoritas masyarakat merantau ke Malaysia bagian barat dan dipengaruhi oleh tipu daya para mafia perdagangan orang (TPPO), walaupun juga ada yang karena keinginan sendiri, lanjut Siwa.

Siwa mengatakan, jumlah masyarakat NTT yang bermigrasi ke Malaysia barat baru meningkat dalam dua dekade terakhir.

Untuk itu, Siwa mengatakan, tidak semua PMI NTT nonprosedural di Malaysia merupakan korban perdagangan manusia, melain juga dipengaruhi oleh migrasi tradisional.

Kolonialisme Inggris dan Ganyang Malaysia

Pemrosesan karet di perkebunan di Malaysia

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Pemrosesan karet di perkebunan Malaysia

Setelah Perang Dunia II berakhir, negara-negara kolonial, seperti Inggris, kehabisan uang. Mereka pun disebut melirik negara-negara jajahan sebagai sumber pemasukan.

Berdasarkan kajian dari Migrant Care tahun 2013, Inggris mengeksploitasi wilayah Sabah, Malaysia dengan mendirikan perkebunan. Namun, sayangnya, jumlah tenaga kerja di sana saat itu terbatas.

"Lalu dimanfaatkan jaringan tradisional laut (jalur perdagangan kepulauan Asia Tenggara) untuk memobilisasi tenaga kerja dari Indonesia ke sana, salah satunya adalah dari Flores," kata Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo.

Mungkin Anda tertarik:

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Syamsul Hadi menuliskan dalam sebuah jurnal, dari sisi politik, pendatang Indonesia cenderung dapat diterima oleh kalangan aristokrat dan kerajaan di Malaysia.

Alasannya karena mereka menjadi "penyanggah demografis" atas meningkatnya jumlah tenaga kerja ras China dan India di Malaysia saat itu.

Tahun 1950-an, terjadi migrasi masif orang Flores ke Sabah - dari perorangan hingga bersama seluruh keluarga.

Dalam sejarah penjajahan di Indonesia, mobilisasi tenaga kerja untuk kepentingan ekonomi juga dilakukan Belanda dengan mengirim orang Jawa ke Sumatra hingga Suriname untuk bekerja di perkebunan dan infrastruktur.

Migrasi masyarakat NTT ke Malaysia dilakukan dengan dua cara, yaitu berangkat sendiri dengan kapal layar secara bersama-sama dan dengan menggunakan kapal dagang milik orang Bugis.

"Rutenya Larantuka atau Mamuere ke Makasar, Pare-pare, Tarakan, Nunukan hingga Tawau, Malaysia," kata Wahyu.

Bahkan, tambah Wahyu, untuk meningkatkan daya tarik, pemerintah Sabah menawarkan kewarganegaraan British-Malay bagi migran yang bekerja minimal lima tahun.

Kartun berita menggambarkan janji Sukarno untuk menghancurkan Malaysia sebelum ayam berkokok pada hari pertama Januari 1965

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kartun berita menggambarkan janji Sukarno untuk menghancurkan Malaysia sebelum ayam berkokok pada hari pertama Januari 1965

Namun, manisnya tanah perantauan berubah pada tahun 1960-an, ketika Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia yang dikenal sebagai gerakan "Ganyang Malaysia".

Gerakan perlawanan itu, kata Wahyu, pun menghambat migrasi tradisional orang Flores.

"Gejolak nasionalisme bangkit di kalangan orang Flores yang telah mendapatkan paspor British-Malay. Ribuan orang membakar dan membuang paspor, mengikuti seruan Presiden Sukarno mengganyang Malaysia," ujar Wahyu.

Di sisi lain, banyak buruh migran Flores ditangkap di Malaysia karena dianggap mata-mata tentara Indonesia.

Presiden Sukarno (kanan) dari Indonesia bersama Mayjen Soeharto (kiri) 11 Maret 1966 di Idonesia.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Presiden Sukarno (kanan) dari Indonesia bersama Mayjen Soeharto (kiri) 11 Maret 1966 di Idonesia.

Penyerahan kekuasaan Sukarno ke Soeharto setelah Gerakan 30 September (G30S) meredakan konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Migrasi tradisional pun kembali mekar.

Tahun 1970-an, kebangkitan ekonomi Malaysia melalui New Economic Policy - seperti pembangunan infrastruktur, perkebunan sawit, kelapa dan karet - melipatgandakan arus migrasi hingga jutaan orang tanpa dokumen ke Malaysia.

"Pemerintah Malaysia membuka lebar-lebar pintu masuk untuk buruh pendatang dengan memperlonggar syarat masuk orang asing karena butuh tenaga kerja," kata Wahyu.

Medan Agreement, 'kriminalisasi' migrasi tradisional

Seorang nelayan mengikat jaring ikan bersama anaknya di Pulau Flores.

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Seorang nelayan mengikat jaring ikan bersama anaknya di Pulau Flores.

Hingga tahun 1980-an, pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Malaysia untuk perkebunan dan proyek konstruksi dilakukan tanpa campur tangan negara dan menggunakan jalur migrasi tradisional - tanpa memerlukan surat resmi.

Namun pola itu berubah pada tahun 1984 dengan ditandatanganinya perjanjian bilateral Indonesia dan Malaysia di Medan, dikenal dengan Medan Agreement.

Wahyu mengatakan, perjanjian itu memulai babak baru praktik "cuan" secara sistemik oleh negara melalui pungutan biaya dokumen, visa kerja, hingga pajak.

PMI dari Malaysia tiba di Indonesia.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, PMI dari Malaysia tiba di Indonesia.

Perjanjian ini juga menumbuhkan bisnis baru, yaitu munculnya perusahaan pengerah tenaga kerja (PPTKIS) yang memonopoli dan menghasilkan dikotomi migrasi legal dan ilegal (pendatang haram atau tanpa izin).

"Migrasi yang dianggap legal dan resmi di mata kedua negara adalah migrasi yang melalui perusahaan, sementara migrasi swadaya atau kultural yang sejak lama berlangsung dikriminalisasi sebagai migrasi ilegal," katanya.

Wahyu menjelaskan, dampaknya, jejaring migrasi swadaya kemudian dibajak oleh sindikat perdagangan manusia.

Polisi menangkap dua tersangka mafia perdagangan pekerja migran dari NTT

Sumber gambar, Tribunnews.com

Keterangan gambar, Polisi menangkap dua tersangka mafia perdagangan pekerja migran dari NTT

Birokratisasi dan praktik pengambilan keuntungan dalam penempatan buruh migran Indonesia ke Malaysia mendorong makin tingginya laju penempatan buruh migran ke Malaysia secara tak resmi, tambah Wahyu.

"Istilah prosedural, nonprosedural, legal dan ilegal itu menurut siapa? Kalau menurut PPTKIS (perusahan penempatan) itu ilegal. Tapi menurut rute kultural mereka itu wajar.

"Banyak yang merasa orang Flores ke Nunukan lalu ke Sabah dengan jalur keluarga seperti saya ke Bogor saja, tidak perlu apa-apa. Malaysia menjadi rumah kedua mereka" ujarnya.

Pengusiran hingga tragedi Nunukan

Dua orang tenaga kerja ilegal dari Indonesia ditangkap aparat hukum Malaysia.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Dua orang tenaga kerja ilegal dari Indonesia ditangkap aparat hukum Malaysia.

Wahyu mengatakan, Perjanjian Medan menyebabkan jutaan pekerja migran kultural di Malaysia mendapatkan cap "ilegal" dan dampaknya, mereka mengalami kriminalisasi di perantauan.

Pemerintah Malaysia pun mulai melakukan operasi penangkapan dan pemulangan pekerja migran yang dilakukan secara temporer (Operasi Nyah I dan II) di penghujung abad ke-20.

Sikap keras terhadap buruh migran tak berdokumen menjadi permanen setelah pengesahan amandemen Akta Imigresen Malaysia tahun 2002, yang memberikan sanksi denda, cambuk, penjara hingga deportasi.

Pekerja migran Indonesia nonprosedural ditangkap aparat hukum Malaysia.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Pekerja migran Indonesia nonprosedural ditangkap aparat hukum Malaysia.

Aturan itu menyebabkan ratusan ribu buruh migran terusir dari Malaysia dan terlantar di Nunukan, dikenang sebagai "Tragedi Nunukan".

Akibatnya terjadi kematian massal lebih dari seratus orang.

Hingga kini, masih sering terdengar tindakan kekerasan dan eksploitasi yang bahkan menyebabkan kematian dialami oleh PMI di Malaysia.

Seorang perempuan menangis di depan peti jenazah keluarganya PMI dari Malaysia, di kargo Bandara El Tari, Kupang, NTT.

Sumber gambar, Tim Pelayanan Kargo

Keterangan gambar, Seorang perempuan menangis di depan peti jenazah keluarganya PMI dari Malaysia, di kargo Bandara El Tari, Kupang, NTT.

Berdasarkan data BP2MI NTT, terdapat lebih dari 700 PMI asal NTT pulang dalam peti mati, karena beberapa sebab, sepanjang sembilan tahun terakhir (2014 hingga 2022).

Fakta itu menempatkan NTT berada di peringkat lima provinsi terbesar yang mencatat jumlah PMI dari sejumlah sektor yang meninggal dunia karena berbagai alasan.

Secara nasional, berdasarkan data BP2MI Pusat, rata-rata lebih dari sembilan PMI yang pulang dalam peti jenazah setiap pekannya dari 2014 hingga 2022, dengan total 4.347 jiwa.

Jumlah itu belum termasuk para PMI yang dimakamkan di negara penempatan.

Mengapa memilih Malaysia?

Otoritas Malaysia menangkap ratusan pekerja migran ilegal di pinggiran Kuala Lumpur, Juni 2021.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Otoritas Malaysia menangkap ratusan pekerja migran ilegal di pinggiran Kuala Lumpur, Juni 2021.

Walaupun kini aturan lintas negara semakin ketat dengan saksi penjara, tenaga kerja NTT seperti dari Flores masih terus berdatangan ke Malaysia dengan cara kultural, kata Camat Ile Boleng, Umar Raya Daen.

Umar mengatakan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan Malaysia, khususnya Sabah menjadi "surga" tujuan masyarakat NTT.

Pertama, faktor sejarah migrasi tradisional yang menyebabkan Malaysia, seperti wilayah Sabah seperti "kampung halaman kedua orang Flores" karena banyak sanak saudara yang menetap di Sabah.

"Adanya keluarga di sana menawarkan pekerjaan dan memberikan perlindungan bagi mereka serta jalur migrasi tradisional yang tidak membutuhkan surat-surat," kata Umar.

Prajurit lapis baja di Pulau Adonara, mungkin di Kiwangona

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Prajurit lapis baja di Pulau Adonara, mungkin di Kiwangona

Kedua, adalah kesamaan bahasa sehingga mempermudah komunikasi dengan majikan dan masyarakat, tambah Umar.

Kemudian adalah ketersediaan lapangan pekerjaan dan pengaruh gaji yang lebih besar dari di Indonesia.

Aktivis HAM menggelar demonstrasi di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Aktivis HAM menggelar demonstrasi di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta.

Faktor selanjutnya, menurut Wahyu dari Migrant Care, adalah kesamaan iman yang memberikan keamanan dan kenyamanan. Di Sabah, penduduk asli adalah Dayak Kadazan yang beragama Katolik.

"Jejaring Katolik, banyak rohaniawan dari Flores yang berkarya di sana bahkan sampai puncak Gunung Kinabalu. Faktor penting adalah Katolikisme yang menjadi daya tarik," kata Wahyu.

Wahyu menambahkan, bagi warga Dayak Kadazan Sabah, kehadiran orang Flores juga membesarkan populasi penganut Katolik dan membuat gereja semakin berpengaruh.

Rekognisi atas migrasi tradisional

Empat pekerja migran perempuan Indonesia dipulangkan KBRI, 5 Januari lalu. Mereka masuk ke Malaysia dengan dokumen palsu pada September 2021.

Sumber gambar, VINOTHAA SELVATORAY

Keterangan gambar, Empat pekerja migran perempuan Indonesia dipulangkan KBRI, 5 Januari lalu. Mereka masuk ke Malaysia dengan dokumen palsu pada September 2021.

Hingga kini, migrasi tradisional masih terus berlangsung dan berada di bawah bayang-bayang kriminalisasi, hingga jeratan mafia perdagangan manusia.

Untuk itu, ujar Wahyu, penting bagi pemerintah untuk melakukan rekognisi atau pengakuan atas migrasi tradisional.

Dengan mengakui migrasi tradisional, tambah Wahyu, maka pemerintah akan memberi koridor hukum dan pengaturan sehingga terjadi proses pencatatan dan pemantauan para migran di Malaysia, serta juga pengaturan pergerakan jejaring kultural guna mencegah eksploitasi.

"Tanpa rekognisi kita tidak tahu kinerja dari jejaring yang digunakan. Selama ini karena pengabaian, bukan hanya Flores, tapi Madura, Bugis memunculkan proses yang sangat eksploitatif, kasarnya sering dikatakan Madura makan Madura, Bugis makan Bugis, Flores makan Flores," katanya.

Rumah Panggung Pulau Adonara.

Sumber gambar, KITLV

Keterangan gambar, Rumah Panggung Pulau Adonara.

Wahyu melihat, migrasi tradisional bak dua mata sisi uang.

Di satu sisi, ia memberikan dampak positif bagi masyarakat Flores yang terkungkung kemiskinan di kampung halamannya.

Malaysia, kata Wahyu, menawarkan peluang peningkatan perekonomian masyarakat dan menyumbang pembangunan di Flores. Tidak lupa, migrasi tradisional juga melahirkan generasi intelektual dan rohaniawan dari Flores.

"Para orang tua migran itu yang membiayai pendidikan orang Flores sehingga menghasilkan intelektual, rohaniawan," katanya.

Di sisi lain, jika tidak dilakukan rekognisi, migrasi tradisional akan dikuasai dan dibajak oleh para sindikat mafia yang menciptakan praktik tindak pidana perdagangan manusia.