Covid-19: Alat PCR rusak karena 'dipaksa bekerja' membuat hasil tes molor dan uji sampel turun 50%, bukti 'tata kelola pemerintah lemah'

Petugas kesehatan mengambil sampel cairan hidung untuk mendeteksi Covid-19 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di Surabaya, Jawa Timur.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Petugas kesehatan mengambil sampel cairan hidung untuk mendeteksi Covid-19 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di Surabaya, Jawa Timur.

Di tengah peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia, alat tes metode Poliymeras Chain Reaction (PCR) yang berperan penting dalam ekstraksi sampel mengalami kerusakan di daerah.

Kerusakan alat tes PCR yang terbaru terjadi di Laboratorium Universitas Andalas, Sumatera Barat. Kerusakan alat PCR satu-satunya di Sumatera Barat itu menyebabkan pengujian sampel "lumpuh" hampir 50%, dari lima ribu menjadi tiga ribu sampel per hari.

Waktu tunggu hasil tes PCR juga molor, dari satu sampai dua hari menjadi tiga hingga empat hari.

Kejadian yang sama juga pernah terjadi di daerah lain seperti di Banten, Kepulauan Riau, Maluku hingga Papua. Dalam beberapa kasus, kerusakan alat menyebabkan pengujian sampel terhenti sementara.

Baca juga:

Pada awal pandemi, Indonesia hanya memiliki satu alat PCR di Jakarta yang menguji seluruh spesimen kasus se-Indonesia. Satu tahun kemudian, kini Indonesia telah memiliki 925 laboratorium jejaring pemeriksaan.

Namun jumlah pengujian masih jauh dari target 400 ribu spesimen, yaitu sekitar 200-300 ribu per hari.

Hingga Kamis (05/08), total jumlah spesimen yang diperiksa sepanjang pandemi melanda Indonesia yaitu sekitar 27,3 juta spesimen, sedangkan untuk total jumlah orang yang diperiksa yaitu sekitar 18,5 juta.

Waktu tunggu hasil PCR: "Dari 1-2 hari jadi 3-4 hari'

Peralatan uji COVID-19 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/MOHAMAD HAMZAH

Keterangan gambar, Peralatan uji COVID-19 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).

Beberapa masyarakat di Padang, Sumatera Barat, mengeluhkan lamanya waktu menunggu hasil tes PCR, akhir Juli lalu.

"Hasil tes PCR yang pertama itu keluar dalam dua hari. Tapi yang terakhir, saya menunggu cukup lama, tiga hari," kata Arif kepada wartawan Halbert Chaniago yang melaporkan pada BBC News Indonesia di Padang, Sumatera Barat, (04/08).

Arif sangat menantikan hasil PCR tersebut karena dalam tes sebelumnya ia dinyatakan positif.

Akibatnya, Arif menunggu dalam ketidakpastian dan aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.

Keluhan yang sama juga diungkapkan Diah Rahmadini (47 tahun), warga Padang.

"Saya menunggu hasil PCR sampai empat hari," katanya.

Kerusakan alat 'dipaksa bekerja', uji sampel PCR turun 50%

Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas menjadi andalan pengujian sampel PCR di Sumatera Barat.

Sumber gambar, Halbert Chaniago

Keterangan gambar, Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas menjadi andalan pengujian sampel PCR di Sumatera Barat.

Lamanya waktu tunggu disebabkan oleh rusaknya alat uji sampel PCR satu-satunya di Sumatera Barat, yaitu di Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Kepala laboratorium itu, Andani Eka Putra, mengatakan kerusakan alat PCR menganggu jumlah pengecekan dari biasanya lima sampai enam ribu sampel menjadi sekitar dua hingga tiga ribu sampel per hari.

"Alat ekstraksi mengalami kerusakan karena dipaksa bekerja dan jadi rusak yang menyebabkan testing berkurang 50% dibanding biasanya," kata Andani.

Laboratorium yang menjadi percontohan di Indonesia itu mulai melakukan uji sampel PCR sejak 23 Maret 2020 lalu, dan berperan penting membantu menguji sampel kiriman dari provinsi tetangga.

"Coba saja kita tutup laboratorium itu, akan tahu dampaknya seperti apa," katanya.

Andani mengatakan alat tersebut telah diperbaiki atas bantuan sukarela dari masyarakat beberapa hari lalu, bukan bantuan dari pemerintah.

Di balik kejadian itu, Andani mengeluhkan kurangnya perhatian dari pemerintah daerah maupun provinsi atas peran penting laboratorium.

Pada Selasa (03/08), saat wartawan Halbert Chaniago mendatangi laboratorium tersebut, terdapat lima kotak serta secarik kertas bertuliskan:

"Mengingat belum adanya pendanaan dari Pemprov Sumbar, maka kami mohon donasi untuk setiap pengambilan swab yang dilakukan di FK Unand, untuk biaya consumables. Donasi tidak memaksa dan tidak ada ketentuan jumlah. Terima kasih".

Kotak pengalangan donasi di Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Sumatera Barat.

Sumber gambar, Halbert Chaniago

Keterangan gambar, Kotak pengalangan donasi di Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Sumatera Barat.

"Kami tidak mendapatkan bantuan dari pemprov sejak tahun 2021 lalu dan usulan anggaran yang kami berikan tidak dimasukkan dalam anggaran tahun 2021 ini," kata Andani.

Pengalangan dana juga dilakukan relawan Kawal Covid-19 Sumatera Barat - dana terkumpul lebih dari Rp70 juta.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah membantah jika pemprov disebut tidak peduli akan peran penting laboratorium tersebut.

"Selama ini kami memberikan bantuan ke sana. Selama ini tidak ada kami tidak peduli, selama ini kami berikan bantuan. Nanti [permohonan anggaran] akan dibahas dan nanti akan dilihat berapa yang disetujui dan diproses oleh Inspektorat," kata Mahyeldi.

Berapa kapasitas laboratorium PCR?

Dokter patologi klinik menunjukkan cara kerja alat Polymerase Chain Reaction (PCR) di Ruang Ektraksi DNA dan RNA Laboratorium Mikrobiologi RSUD Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (20/06).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/UMARUL FARUQ

Keterangan gambar, Dokter patologi klinik menunjukkan cara kerja alat Polymerase Chain Reaction (PCR) di Ruang Ektraksi DNA dan RNA Laboratorium Mikrobiologi RSUD Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (20/06).

Kerusakan alat tes PCR sebelumnya juga pernah terjadi di beberapa daerah.

Awal tahun ini, alat PCR di Laboratorium Kesehatan Daerah Tangerang Selatan rusak sehingga tidak menerima sampel atau spesimen terkait Covid-19 untuk sementara.

Akibatnya, seluruh sampel dialihkan ke laboratorium di luar daerah.

Lalu, pertengahan tahun ini, empat alat PCR di Kepulauan Riau rusak karena dipakai terus menerus. Akibatnya, sampel usap warga menumpuk dan waktu pengujian molor hingga lebih dari sepekan.

Tahun lalu, dua alat PCR Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Maluku, dan PCR RSUD Mimiki, Papua, juga mengalami kerusakan.

Berdasarkan data laporan pemerintah, terdapat total 925 laboratorium jejaring pemeriksa yang tersebar di Indonesia, terdiri dari 705 lab RT-PCR (everse-transcriptase polymerase chain reaction), 116 lab TCM (tes cepat molekuler), dan 104 lab RT-PCR dan TCM.

Dari jumlah tersebut, berdasarkan laporan per Kamis, (05/08), terdapat 640 lab yang berfungsi dengan melaporkan hasil tesnya dengan total 248.556 spesimen yang diperiksa (yang diperiksa dengan RT-PCR yaitu 128.550 spesimen).

Jumlah tersebut masih jauh dari target pemerintah melakukan tes mencapai 400 ribu spesimen per hari.

Apa peran penting alat itu?

Petugas medis merawat pasien COVID-19 di ruang ICU RSUD Slamet Martodirjo, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (21/06).

Sumber gambar, SAIFUL BAHRI/ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Petugas medis merawat pasien COVID-19 di ruang ICU RSUD Slamet Martodirjo, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (21/06).

Epidemiolog dari Universitas Andalas, Defriman Djafri mengatakan, laboratorium pengujian sampel PCR merupakan sarana pendukung yang penting dalam mempercepat penanganan Covid-19.

"Laboratorium itu merupakan sarana pendukung untuk kita melakukan testing dan jika ada masalah, maka akan memperlambat penanganannya juga," kata Djafri.

Djafri menambahkan, kerusakan alat ekstraksi PCR akan meningkatkan laju penularan karena mereka yang kemungkinan terinfeksi akan menyebarkan virus akibat telat mengetahui hasil.

Petugas kesehatan mengambil sampel untuk tes usap antigen kepada staf Kantor DPRD Kabupaten Bogor di Kabupaten Bogor, Kamis (01/07).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA

Keterangan gambar, Petugas kesehatan mengambil sampel untuk tes usap antigen kepada staf Kantor DPRD Kabupaten Bogor di Kabupaten Bogor, Kamis (01/07).

Senada dengan itu, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra mengatakan, kerusakan alat PCR merupakan masalah serius yang harus segera disikapi.

"Hasil pemeriksaan PCR adalah hal paling krusial dalam upaya testing, dan bebannya kini semakin besar karena sejak akhir Juli hingga sekarang terjadi penambahan kasus yang drastis di luar Jawa dan Bali," katanya.

Untuk itu Hermawan meminta pemerintah pusat dan daerah segera melakukan perbaikan dan perawatan alat-alat tersebut di daerah, serta meningkatkan kapasitas alat tes dengan "luar biasa" di daerah.

"Kami mendorong sejak dulu bahwa setiap daerah, 514 kabupaten/kota wajib ada lab PCR yang 24 jam. Jadi kemampuannya tidak lagi mengandalkan level provinsi seperti di Sumbar yang jika rusak akan menganggu semuanya," kata Hermawan.

Tata kelola yang keliru

Seorang perempuan usia lanjut mengenakan masker dan pelindung wajah.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Seorang perempuan usia lanjut mengenakan masker dan pelindung wajah.

Tim advokasi dari LaporCovid-19, Agus Sarwono menilai kerusakan alat PCR yang menyebabkan molornya hasil uji menunjukkan lemahnya tata kelola pemerintah dalam melakukan perencanaan dan perawatan alat penunjang penanganan Covid-19.

"Seharusnya kejadian seperti di Unand itu bisa diantisipasi oleh Kemenkes dan pemerintah daerah dengan membuat perencanaan yang baik, apalagi ini alat satu-satunya dan vital.

"Jika ada kerusakan harusnya tahu bagaimana alternatifnya, jangan masyarakat yang jadi korban," kata Agus.

Pemerintah juga, kata Agus, harus menyediakan alokasi anggaran yang terbuka ke publik untuk peningkatan sarana prasarana penunjang penanganan Covid, seperti pemeliharaan hingga pengadaan alat PCR.

"Ini dilematis karena ketika ada kerusakan, kasihan FK Unand, sampai sempat ada muncul broadcast minta donasi. Ini kekeliruan yang fatal dalam tata kelola perencanaan, harusnya sudah ada alokasi anggaran untuk itu," ujarnya.

'Jika ada kerusakan, manfaatkan alokasi dana daerah'

Petugas medis berkomunikasi di ruang isolasi COVID-19 RSUD Slamet Martodirjo, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (21/06).

Sumber gambar, SAIFUL BAHRI/ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Petugas medis berkomunikasi di ruang isolasi COVID-19 RSUD Slamet Martodirjo, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (21/06).

Saat dikonfirmasi mengenai kerusakan alat PCR di Sumbar dan daerah lainnya, koordinator tim pakar dan juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah daerah adalah pihak pertama yang harus segera mengambil tindakan.

"Jika terjadi kesulitan mohon agar pemda setempat segera memanfaatkan alokasi dana daerah untuk menyelesaikan permasalahan ini karena testing adalah navigasi utama untuk menentukan strategi pengendalian," kata Wiku dalam pesan singkat.

"Jika kesulitan dalam pemenuhannya, mohon kepada pemda terkait melaporkan kesulitannya kepada pemerintah pusat," ujarnya.

Senada, juru bicara vaksinasi Covid-19 Kemkes Siti Nadia Tarmizi menyebut, pemeliharaan laboratorium di daerah, seperti di Unand, tidak di bawah Kementerian Kesehatan.

"Kita tidak melakukan perawatan baik yang di bawah Kemenkes atau di luar Kemenkes. Itu menjadi tanggung jawab dari masing-masing institusi," kata Nadia.

Nadia menambahkan, peran Kemenkes terhadap lab-lab di daerah adalah dengan menyediakan kebutuhan reagen untuk pengujian dan membayarkan insentif bagi petugas kesehatan.

Pemeriksaan spesimen harian meningkat 94,71%

Petugas kesehatan menyimpan sampel tes usap Antigen dan Polymerase Chain Reaction (PCR) di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (28/07).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/ADWIT B PRAMONO

Keterangan gambar, Petugas kesehatan menyimpan sampel tes usap Antigen dan Polymerase Chain Reaction (PCR) di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (28/07).

Dalam konferensi pers, "Perkembangan Penanganan Covid-19 di Indonesia per 5 Agustus 2021", Wiku Adisasmito mengatakan jumlah rata-rata pemeriksaan spesimen dan orang mengalami peningkatan tajam pada Juli lalu.

"Pemeriksaan spesimen harian bulan Juli mengalami peningkatan 94,71% dari Juni 2021 dan jumlah rata-rata orang diperiksa harian pada Juli meningkat dua kali lipat dibanding Juni 2021," kata Wiku.

Rata-rata pemeriksaan spesimen di antara 200-300 ribu per hari.

Baca juga:

Sedangkan, rata-rata pemeriksaan orang berada di kisaran 100-200 ribu per hari.

Namun jumlah tersebut masih belum mencapai target pemerintah sebesar 400 ribu spesimen per hari.

Wiku menambahkan, pengetesan merupakan prioritas pemerintah karena berfungsi untuk menekan angka transmisi Covid-19, mencegah keparahan penyakit dan mengurangi angka kematian, serta melindungi ketahanan sistem kesehatan.

line

Anda mungkin tertarik menonton video ini:

Keterangan video, Bagaimana cara mendeteksi virus corona baru?