Kisah remaja yang mendirikan toko online samaran untuk membantu korban kekerasan rumah tangga, menang penghargaan dari Uni Eropa

Sumber gambar, Krystyna Paszko
- Penulis, Adam Easton
- Peranan, BBC News, Warsaw
Seorang remaja di Polandia mendirikan sebuah toko online samaran yang berfungsi membantu para korban kekerasan dalam rumah tangga yang terperangkap di tengah masa "lockdown" virus corona.
Idenya itu memenangkan penghargaan Uni Eropa senilai €10,000, atau sekitar Rp172 juta.
"Pertama, saya mendengar tentang peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga selama pandemi. Kemudian saya mendengar tentang inisiatif di Prancis, di mana orang pergi ke apotek dan meminta masker khusus agar apoteker tahu bahwa mereka adalah korban KDRT," Krystyna Paszko menjelaskan.
"Saya pikir itu ide yang brilian, jadi saya mendapatkan ide untuk menjual kosmetik."
Pada bulan April, Krystyna, yang saat itu berusia 17 tahun, memutuskan untuk meluncurkan toko online "Camomiles and Pansies" sebagai samaran menjual kosmetik tersebut. Idenya adalah bahwa korban dapat secara tertutup menyampaikan permintaan bantuan mereka dari pelaku kekerasan di rumah dengan seolah-olah sedang berbelanja online.
Ketika seorang korban menulis meminta untuk membeli krim, seorang psikolog merespons berperan sebagai seorang penjual dan menanyakan berapa lama "masalah kulit" telah berlangsung, atau bagaimana kulit yang terpengaruh bereaksi terhadap alkohol. Jika seseorang memesan dan meninggalkan alamat, sebenarnya itu adalah kode yang meminta pihak berwenang untuk mengunjungi rumah yang bersangkutan.

Sumber gambar, Facebook screenshot
Setelah Krystyna secara terbuka menulis tentang rencananya di halaman Facebook-nya sendiri, dia dibanjiri pertanyaan.
"Saya pikir itu hanya untuk teman-teman saya, dan teman dari teman. Saya pikir saya akan membantu mungkin satu atau dua orang, tapi postingan itu secara luas dibagikan di Facebook dan itu menjadi sangat populer," katanya.
Dengan banyaknya perhatian dari publik, Krystyna menghubungi Pusat Hak Perempuan, sebuah LSM di Polandia, meminta bantuan. Lembaga itu menanggapagi dengan menyediakan psikolog dan pengacara untuk bekerja dengan situs web tersebut.
Sejak diluncurkan, lebih dari 350 orang yang telah menghubungi situs itu. Sebagian besar adalah korban perempuan yang masih berusia di bawah 40 tahun, dan sekitar 10% adalah laki-laki.
"Semakin banyak perempuan lebih suka menulis di Facebook daripada menghubungi melalui sambungan telpon, lebih umum bagi perempuan muda untuk menggunakan platform pesan Facebook. Kebanyakan laki-laki yang menulis kepada kita adalah remaja," katanya.

Sumber gambar, Krystyna Paszko
Krystyna mengatakan bahwa ketertarikannya pada hak asasi manusia adalah berkat perannya dalam pramuka - dia memimpin grup pramuka di Warsawa dan membuat halaman Facebook kelompok itu.
"Selama bertahun-tahun saya tertarik pada hak asasi manusia dan hak perempuan, dan karena itu saya membaca tentang meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga dan ingin melakukan ini. Sebelumnya, saya membuat halaman pramuka saya. Pramuka mengajari saya betapa pentingnya membantu orang lain dan untuk terus memerhatikan dunia di sekitar saya, "katanya.
Inisiatif tersebut adalah salah satu dari 23 proyek yang menerima Penghargaan Solidaritas Sipil Uni Eropa, sebuah kontes yang menawarkan €10.000 sebagai hadiah untuk organisasi masyarakat sipil yang menangani konsekuensi Covid-19.
Presiden Pusat Hak Perempuan, Urszula Nowakowska, mengatakan dia "sangat terkesan" dengan proyek Krystyna. Dia mengatakan data resmi polisi tidak menunjukkan peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga tahun lalu, tetapi panggilan ke hotline organisasinya selama beberapa bulan pertama penguncian meningkat sekitar 50% dibandingkan dengan 2019.
Pada bulan Juli, Menteri Kehakiman Polandia Zbigniew Ziobro dikritik baik di dalam maupun di luar negeri ketika dia mengatakan Polandia harus mulai bersiap untuk menarik diri dari Konvensi Dewan Eropa tentang pencegahan dan pemberantasan kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga, karena sifat "ideologis"-nya mengancam model keluarga tradisional.
Perdana Menteri Mateusz Morawiecki kemudian meminta Mahkamah Konstitusi Polandia untuk memutuskan masalah tersebut.
Pada November, kementerian kehakiman mendorong amandemen hukum yang memungkinkan polisi mengusir pelaku pelecehan dari rumah.
Namun, masih tidak ada cara untuk menghentikan mereka mendekati korban di luar rumah, di tempat kerja atau selama penjemputan di sekolah, kata Nowakowska.
Polandia memperkenalkan sebuah sistem intervensi multi-lembaga yang menjanjikan yang disebut "Prosedur Kartu Biru" pada tahun 2010, tetapi banyak yang kecewa dengannya, tambahnya.
"Apa yang saya amati dalam 15 tahun terakhir adalah bahwa orang-orang lebih bersemangat untuk memperlakukan kasus kekerasan dalam rumah tangga sebagai konflik keluarga, daripada kejahatan. Saya rasa sistem ini banyak berkontribusi pada itu karena tidak efektif, sangat birokratis," katanya kepada BBC.
Dia mengatakan ada sekitar 70.000 kasus kekerasan dalam rumah tangga setiap tahun di Polandia, di mana hanya antara 13-14.000 yang diperlakukan sebagai kejahatan.
Ketika Krystyna mengetahui bahwa dia telah memenangkan Penghargaan Solidaritas Sipil Uni Eropa, dia senang bahwa masalah pelecehan menjadi disorot. "Itu membuat publik jadi menghadapi masalah ini dan membuat orang untuk memikirkannya," katanya.
Dia juga senang untuk timnya, yang telah bekerja keras untuk melakukan inisiatif - dan untuk saat ini mereka berencana untuk tetap menjalankan situs itu.











