Amonium nitrat di Indonesia: Limbah bau 'terpesing' yang menyengat, manfaat untuk manusia, dan mengapa bisa menjadi bahan peledak

PANFO adalah campuran tepat antara prilled Amonium Nitrat berpori-pori dengan Fuel Oil (FO). PANFO cocok dipakai untuk sebagian besar aplikasi peledakan kering.

Sumber gambar, Pindad

Keterangan gambar, PANFO adalah campuran tepat antara prilled Amonium Nitrat berpori-pori dengan Fuel Oil (FO). PANFO cocok dipakai untuk sebagian besar aplikasi peledakan kering.

Ledakan amonium nitrat di sebuah pelabuhan di kota Beirut, Lebanon, Selasa (04/08), yang memakan ratusan korban jiwa, melukai ribuan orang dan mendorong Perdana Menteri Hassan Diab mengundurkan diri, bisa menjadi pelajaran penting agar kejadian serupa tidak terjadi di Indonesia.

Indonesia adalah salah satu negara yang menggunakan amonium nitrat secara besar dalam kepentingan komersil baik untuk pupuk dan juga bahan peledak.

Terdapat sekitar 866 gudang di Indonesia yang menyimpan amonium nitrat dan beberapa di antaranya memproduksi lebih dari ratusan ribu ton amonium nitrat per tahun.

Lalu pelajaran apa yang bisa diambil oleh Indonesia dari kejadian di Beirut? Seberapa bahaya dan bagaimana amonium nitrat mudah meledak? Juga bagaimana pengawasan amonium nitrat di Indonesia?

Berikut penjelasannya.

Keluhan warga: 'Bau pesing menyengat sepanjang waktu'

ledakan lebanon dan amonium nitrat di Indonesia

Sumber gambar, Zakarias Demon Daton

Keterangan gambar, Tampak cerobong asap di Kawasan Industrial Estate (KIE) dari kejauhan di tepi wilayah yang berbatasan dengan Kelurahan Guntung, Bontang, Kaltim, Minggu (29/03).

Bau pesing menyengat merupakan aroma yang biasa dihirup warga Kelurahan Lok Tuan, Bontang, Kalimantan Timur.

Bau pesing berlangsung beberapa jam, lalu menghilang, lalu datang lagi. Tidak ada satu hari pun tanpa bau.

Seorang warga yang dari lahir tinggal di Lok Tuan, Ismail, bahkan menyebut telah menghirup bau tersebut dari kecil.

"Pasrah saja, mau bagaimana lagi, cuma mengeluh saja," kata Ismail kepada wartawan Zakarias Demon Daton yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Ismail tinggal bersama orangtuanya di kelurahan yang berdekatan dengan kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE).

Di kawasan itu ada dua perusahaan yang memproduksi amonium nitrat yakni PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) yang beroperasi sejak 2012 dan merupakan produsen amonium nitrat berbentuk butiran berpori (prilled) terbesar di Indonesia dengan kapasitas 300.000 ton per tahun.

Perusahaan lain, PT Black Bear Resources Indonesia (BBRI), memiliki kapasitas produksi 82.000 ton per tahun.

Saat ini sedang berlangsung pembangunan pabrik amonium nitrat baru yang dilakukan oleh PT Kaltim Amonium Nitrat (KAN), yaitu perusahaan patungan kerja sama PT Dahana dengan PT Pupuk Kalimantan Timur.

Pabrik ini direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2022 dengan kapasitas produksi 75.000 ton per tahun.

Daerah 'terpesing' di Indonesia, dikelilingi pabrik amonium nitrat

Jalan poros di Kelurahan di Loktuan, Bontang, Kaltim. Kawasan ini pemukiman padat yang berbatasan langsung dengan Kawasan Industrial Estate (KIE), Minggu (29/03).

Sumber gambar, Zakarias Demon Daton

Keterangan gambar, Jalan poros di Kelurahan di Loktuan, Bontang, Kaltim. Kawasan pemukiman padat ini berbatasan langsung dengan Kawasan Industrial Estate (KIE), Minggu (29/03).

"Tempat kami bisa jadi daerah terbau pesing se-Indonesia. Bau nya pesing banget, seperti air kencing orang dewasa yang tidak disiram. Kami tidak kuat," kata Mira, warga Lok Tuan lain.

Mira yang telah tinggal di situ lebih dari delapan tahun berkata, terdapat beberapa tetangganya yang mengeluhkan sesak napas, dada sakit, khususnya anak-anak.

"Bahkan saking baunya, seorang pejabat instansi, bukan warga Lok Tuan, datang ke perusahaan untuk protes, menyampaikan karena baunya asli pesing banget, sampai larut malam. Dia bilang, saya bukan warga saja mau pingsan sesak napas, tidak kuat dengan baunya," kata Mira.

Mira, Ismail dan warga lainnya tidak mempermasalahkan keberadaan pabrik-pabrik produsen amonium nitrat, namun mereka meminta agar perusahaan memberikan perhatian ke masyarakat yang terdampak akibat limbah bau yang diciptakan.

"Perusahaan datang dong, periksa warga-warga sekitar. Jangan sampai amonium nitrat ini memberikan dampak buruk ke kesehatan warga, apalagi ke paru-paru, karena di Lok Tuan banyak anak kecil," katanya yang berasal dari Sulawesi.

Apa itu amonium nitrat?

ledakan lebanon dan amonium nitrat di Indonesia

Sumber gambar, Pindad

Keterangan gambar, AN 1000 adalah salah satu jenis amonium nitrat yang mempunyai bentuk prill berpori.

Ceritat tadi adalah gambaran singkat kehidupan warga yang dikelilingi pabrik-pabrik amonium nitrat.

Lalu muncul pertanyaan, apa itu amonium nitrat? mengapa menciptakan bau? Apakah ini berbahaya bagi manusia, dan apa manfaatnya?

Pakar kimia dari Institut Teknologi Bandung, Profesor Djulia Onggo, menjelaskan amonium nitrat adalah zat padat seperti garam yang larut dalam air.

Di satu sisi senyawa ini mengandung unsur nitrogen yang sangat penting bagi tumbuhan. Untuk itu sering kali amonium nitrat diolah menjadi pupuk.

Di sisi lain, amonium nitrat ini digunakan juga sebagai bahan peledak karena senyawa ini mengandung kation amonium (NH4)+ dan anion nitrat (NO3)- yang akan bergabung membentuk senyawa ionik.

"Jadi di dalam senyawa itu kation bisa bereaksi dengan anion sebagai suatu reaksi redoks atau reduksi dan oksidasi. Biasanya reaksi redoks itu menghasilkan energi yang besar dan dapat disertai dengan ledakan. Umumnya digunakan untuk kepentingan pertambangan seperti membuka lahan, untuk jalan, terowongan," katanya.

Bagaimana senyawa ini dibuat? Bahan bakunya adalah amonia yang berbau khas serupa dengan unsur dalam air kencing yang diproduksi oleh manusia.

"Lalu direaksikan dengan asam nitrat menjadi kristal seperti garam dan amonium nitrat tidak berbau," katanya.

Amonium nitrat bisa meledak?

Lalu apakah senyawa ini bisa meledak dengan sendirinya? Tidak bisa, kalau tidak ada yang memicu karena amonium nitrat adalah senyawa yang tidak mudah terbakar.

"Pemicunya bisa banyak hal, seperti suhu yang harus tinggi, bisa juga tekanan tinggi, kejatuhan benda atau benturan, dan pemicu lainnya yang menciptakan panas," kata guru besar ITB tersebut.

Perlu diperhatikan, senyawa ini tidak bisa ditimbun dalam jumlah besar dan waktu yang lama.

"Karena dia bisa bereaksi dalam senyawanya sendiri yang mana amonium adalah reduktor dan nitrat sebagai oksidator yang melakukan reaksi redoks," katanya.

Djulia juga menegaskan bahwa senyawa ini tidak memiliki unsur radioaktif sehingga relatif aman jika bersentuhan. "Jadi tidak perlu takut menggunakan senyawa ini untuk pupuk, jika digunakan dengan tepat," katanya.

Apa yang terjadi di Beirut bukan salah amonium nitratnya, melainkan salah orang-orang yang mengurus, kata Djulia.

"Saya pernah berkunjung ke sebuah pabrik di Karawang melihat proses pembuatanya, dari pipa ke pipa. Prosesnya aman sekali bahkan kami tidak boleh ambil sampel untuk penelitian, harus memiliki surat-surat. Artinya kalau di pabrik sih aman," katanya.

Namun yang perlu diwaspadai adalah amonium nitrat yang disita oleh aparat keamanan dan disimpan tanpa memperhatikan tingkat keamanan dan penanganan yang sesuai.

"Jangan asal sita bahan-bahan kimia apapun tanpa ditangani dengan tepat, seperti menyita amonium nitrat lalu didiamkan. Itu akan menjadi bom waktu yang berbahaya. Jadi kalau disita harus tahu apakah dihancurkan atau segera dipergunakan untuk bidang lain," katanya.

Senada dengan itu, dosen kimia Dari Universitas Mulawarman, Rahmat Gunawan menilai amonium nitrat tidak akan meledak jika dijauhkan dari faktor pemicu seperti api, panas matahari, dan lainnya.

"Tapi kalau dibiarkan dalam kondisi kering kemudian disulut dengan api maka terjadi pemutusan ikatan antara hidrogen dan nitrogen. Dalam situasi maka terjadi pelepasan energi yang besar sehingga terjadi ledakan," katanya.

Bagaimana keamanan pabrik amonium nitrat di Indonesia?

Tampak dari kejauhan Kawasan Industrial Estate (KIE) dari Pelabuhan Loktuan, Bontang, Kaltim, Minggu (29/03).

Sumber gambar, Zakarias Demon Daton

Keterangan gambar, Tampak dari kejauhan Kawasan Industrial Estate (KIE) dari Pelabuhan Loktuan, Bontang, Kaltim, Minggu (29/03).

Kota Bontang sebagai salah satu tempat produksi amonium nitrat terbesar di Indonesia mengklaim melakukan pengawasan yang ketat terhadap pabrik-pabrik.

Pejabat daerah juga mengklaim selalu mengakomodir keluhan masyarakat terhadap keberadaan dan dampak yang ditimbulkan oleh pabrik-pabrik yang memproduksi amonium nitrat tersebut.

"Jadi tidak ada kekhawatiran sedikitpun dari kami. Kami selalu gelar dengar pendapat begitu ada keluhan masyarakat, terkait bahan keluhan peledak dan lainnya," kata Ketua DPRD Bontang Andi Faizal Sofyan Hasdam.

Sejauh ini keluhan yang ditampung DPRD diklaim bukan tentang ketakutan akan keselamatan dan potensi ledakan, melainkan lebih pada isu pelibatan tenaga kerja lokal, debu-debu saat pengangkutan dan bau yang menyengat.

"Semuanya kami dengar untuk bahan evaluasi dan antisipasi kemungkinan terburuk, dan melakukan perbaikan dan pemeriksaan," katanya.

Aparat polisi dan TNI pun turut mengawasi keluar masuk bahan peledak di kota Bontang, menurut ketua DPRD tersebut.

"Sejauh ini setiap kali ada apa-apa kami selalu awasi. Koordinasi kami dengan perusahaan baik saja, perusahaan ketat menerapkan standar pengawasan," katanya.

Senada, Dosen kimia Rahmat Gunawan menilai standar pengamanan pabrik amonium nitrat di Bontang sangat ketat.

"Di Bontang itu, selama tidak ada sabotase, saya rasa tidak mungkin [meledak]. Kemudian, manajemen gudang pun pakai ISO (standar perlakuan). Misalnya standar perlakuan gudang penyimpanan, manajemen, dan lainnya," katanya.

Dirut PT KAN: Kami gunakan standar internasional

Sementara itu, pihak perusahaan juga mengklaim akan menerapkan pengawasan yang ketat dalam pengelolaan amonium nitrat.

Bimo Noesantoropoetro, Direktur Utama PT Kaltim Amonium Nitrat (KAN)- perusahaan patungan kerja sama PT Dahana (Persero) dengan PT Pupuk Kalimantan Timur- mengatakan akan menerapkan standar internasional mulai dari pengelolaan, penyimpanan hingga pengiriman amonium nitrat.

"Amonium nitrat potensi meledak dan terbakar sendiri sebenarnya rendah. Tapi kami tetap menjaga dan memisahkan dari benda atau kegiatan lain, misalnya tempat mainantance, seperti pengelasan dan lainnya jauh dari tempat penyimpanan," katanya.

"Selain terisolir dan ada jarak, ada juga jarak electrical lampu segala macam, sirkulasi udara, jumlah tumpukan juga diatur, dan jarak antar penyimpanan di dalam gudang," katanya.

Amonium nitrat yang diproduksi nanti akan diambil sepenuhnya oleh PT Dahana, perusahaan BUMN, untuk kepentingan bahan peledak komersial seperti batu bara, tambang dan lainnya.

"Jadi kami produksi 75.000 ton per tahun, lalu diambil sepenuhnya oleh Dahana sehingga dari sisi penyimpanan tidak akan lama di gudang, walaupun produksi continue. Nanti tergantung Dahana sendiri apakah dikirim ke dalam atau luar Kaltim," kata Bimo.

Mengenai ledakan Beirut, Bimo menilai penyebabnya adalah kesalahan pengelolaan yang menumpuk material tanpa aturan, dalam waktu lama, dan ada pekerjaan panas seperti pengelasan di sekitarnya yang akhirnya memicu kebakaran dan ledakan.

"Sekali lagi kami masih dalam design dan pembangunan, kami akan jadikan kejadian di Beirut sebagai pelajaran untuk memperbaiki prosedur dan penerapannya ke depan," kata Bimo yang total investasi pembangunan pabriknya mencapai Rp1,14 triliun dan direncanakan akan mulai berproduksi pada 2022 mendatang.

Bagaimana polisi awasi gudang amonium nitrat?

Selain di Kalimantan Timur, pabrik amonium nitrat juga terletak di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yaitu PT Multi Nitrotama Kimia (MNK), dan beberapa tempat lainnya.

Secara total, Indonesia memiliki 866 gudang penyimpanan amonium nitrat, kata Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen Keamanan Polri Brigjen Pol Umar Effendi, dan semuanya diklaim berada dalam pengawasan ketat polisi.

"Di gudang itu ada pengamanan dari unsur kepala gudang, sekuriti, lalu kepolisian mengontrol secara rutin. Setelah kejadian di Beirut diperbaruilagi [kontrol] supaya lebih dioptimalkan, mungkin ada yang belum dicek, dan lainnya. Kalau untuk pengawasan sudah berlangsung dan berjalan semua," kata Umar.

Gudang itu terdiri dari gudang milik lima produsen bahan peledak yang memproduksi amonium nitrat, 36 gudang bahan peledak milik importir, dan 825 gudang bahan peledak milik pengguna akhir untuk pertambangan, migas dan non-tambang.

Umar menambahkan, terdapat aturan khusus dan ketat untuk gudang amonium nitrat, seperti harus ada ventilasi, pengukur suhu, anti petir, dan tembok yang kebal panas.

"Lalu di-opname setiap enam bulan atau saat dibutuhkan, dihitung keluar berapa, stok berapa, digunakan berapa, jangan sampai ada yang hilang, tersimpan terlalu lama dan lainnya," kata Umar.

Terkait dengan penyitaan-penyitaan amonium nitrat yang dilakukan oleh kepolisian, bea cukai dan aparat hukum lain, seperti penyelendupan 63 ton amonium nitrat di Bali, penyelundupan 444 ton di Kepulauan Riau, dan lainnya, Umar mengatakan barang bukti itu akan segera dimusnahkan, atau dihibahkan ke pengguna lain secepat mungkin sesuai putusan pengadilan.

"Jadi tidak menumpuk dan membahayakan, dan tidak sembarangan disimpan, tapi di tempat-tempat tertentu yang memenuhi syarat," ujar Umar.

Umar melanjutkan penggunaan amonium nitrat untuk kebutuhan industri di Indonesia sangat besar, dan selama ini tidak ada masalah mulai dari produksi, distribusi hingga penggunaan.

Hingga saat ini, belum ada informasi terkait dengan ledakan yang muncul di tempat-tempat penyimpanan dan pabrik amonium nitrat di Indonesia.