Apa kaitan antara ledakan di Sidoarjo dengan serangan bunuh diri di Surabaya?

Sumber gambar, ANTARA/Umarul Faruq
Kepala keluarga perakit bom yang meledak di rumah susun Wonocolo, Sidoarjo adalah teman dekat dalang serangan bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, kata Kapolri Tito Karnavian.
Anton Febrianto (47) tewas bersama istrinya, Puspita Sari (47) dan anak pertamanya, LAR (17). Sementara tiga anak lainnya, LAR (15), FP (11), GHA (11) mengalami luka-luka dan dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara.
Anton ditemukan tewas dalam keadaan memegang saklar bom. Polisi menduga ia bersama istri dan anak-anaknya berencana meluncurkan aksi teror kedua setelah serangan di gereja di Surabaya namun bomnya keburu meledak karena kecelakaan.
Kapolri mengatakan Anton adalah teman Dita, pelaku bom bunuh diri di Gereja Pantekosta GPPS Arjuno pada Minggu (13/05) dan pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya.
"Mereka aktif berhubungan, dan pernah berkunjung ke Lapas Napi terorisme di Tulungagung (pada) tahun 2016," kata Tito dalam jumpa pers di Surabaya.
Ia menambahkan bahwa dari olah TKP di Sidoarjo, polisi menemukan sejumlah bom pipa. Bom-bom tersebut mirip dengan bom yang tidak meledak di sejumlah TKP di Surabaya.

Sumber gambar, ANTARA/M Risyal Hidayat
Kapolri Tito Karnavian mengatakan jenis bom yang digunakan dalam serangan di Surabaya adalah bom pipa dengan bahan peledak Triaseton Triperoksida (TATP).
Bahan peledak yang sering digunakan oleh ISIS di Irak dan Suriah ini memiliki daya ledak luar biasa sehingga dijuluki 'Mother of Satan' atau 'Ibu Setan'.
Namun senyawa tersebut kurang stabil, sehingga bisa meledak tanpa detonator. Inilah yang terjadi di Rusunawa Wonocolo di Sidoarjo.
"Setelah kita datangi TKP, ternyata itu adalah ledakan yang terjadi karena kecelakaan; kemungkinan besar oleh perilaku sendiri," kata Tito dalam jumpa pers di Surabaya.
Tito Karnavian mengatakan rentetan serangan bom di Surabaya merupakan balas dendam atas penangkapan kembali pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Aman Abdurrahman serta penangkapan pemimpin JAD cabang Jawa Timur Zaenal Anshari.
Aman divonis penjara dalam kasus pendanaan dan pengorganisasian latihan paramiliter ilegal di Aceh, dan awalnya dibebaskan pada Agustus 2017, lantas ditangkap kembali karena diduga keras terkait dengan perencanaan kasus bom Thamrin di Jakarta pada 2016.
Sedangkan Zaenal ditangkap sekitar enam bulan lalu karena diduga terlibat dalam penyelundupan senjata api dari Filipina selatan ke Indonesia.
"Itu membuat kelompok-kelompok jaringan JAD di Jawa Timur memanas dan ingin melakukan pembalasan," ungkap Tito dalam jumpa pers di Surabaya.
Di Jawa Timur, kelompok JAD yang paling bereaksi ialah kelompok di Surabaya, kata Tito.
Tito juga mengungkap bahwa polisi telah menangkap lima orang yang disebut sisa anggota kelompok JAD di Surabaya.
Satu diantaranya bernama Budi Satrio, yang merupakan tokoh nomor dua di JAD Surabaya, yang ditembak mati saat melakukan perlawanan.
Operasi polisi di Sidoarjo dan Surabaya
Lima ledakan bom Surabaya kini diyakini melibatkan tiga keluarga berbeda: satu keluarga dalam setiap serangan.
Kapolda Jawa Timur Irjen Machud Arifin mengatakan, pelaku serangan bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya, juga berasal dari satu keluarga.
"Mereka lima orang, semuanya lima orang. Kepala keluarganya berinisial TM. Dengan satu anak kecil, yang dalam kejadian itu terlempar dan selamat," kata Machfud Arifin, dalam jumpa pers bersama Kapolri, di media center Polda Jatim, Senin (14/5).
"Jadi mereka ini suami isteri dengan anak-anaknya -dua tewas dan satu anak kecil itu selamat," Kapolri Tito Karnavian menambahkan.

Sumber gambar, ANTARA/Didik Suhartono
Juru bicara Polda Jawa Timur Kombes Frans Barung Mangera memastikan bahwa ledakan di Mapolrestabes Surabaya berasal dari sepeda motor.
Video CCTV menunjukkan ledakan terjadi ketika satu mobil Avanza dan dua motor mendekati pintu masuk Mapolrestabes di Krembangan.
"Mobil Avanza itu merupakan tamu yang akan meminta pelayanan kepada Poltabes Surabaya," kata Frans dalam jumpa pers terbaru.
Sepanjang hari Senin (14/5), sejak serangan terhadap Markas Polrestabes Surabaya polisi telah 'melakukan penangkapan terhadap 13 orang di Sidoarjo dan Surabaya," kata Jubir Polda Jabar Frans Barung.
"Jadi, sembilan orang ditangkap dalam keadaan hidup di Surabaya, dan empat orang ditangkap dalam keadaan mati di Sidorajo."
Polisi menggunakan istilah "ditangkap dalam keadaan mati," terhadap terduga teroris yang tewas tertembak karena "melawan dan membahayakan petugas", kata Frans.

Sumber gambar, ANTARA/Didik Suhartono
Salah satu terduga teroris ditangkap di Graha Pena, gedung yang cukup terkenal di Surabaya.
Sementara tiga orang lain ditangkap di kawasan Jembatan Merah Surabaya.
"Mereka sudah merencanakan penyerangan terhadap beberapa sasaran, yang kemudian digagalkan," kata Frans dalam jumpa pers. Namun ia tidak mengungkap tempat yang menjadi sasaran itu.
'Tak terkait agama'
Sementara itu, Konferensi Wali Gereja Indonesia memilih untuk tidak membuat pernyataan sendiri terkait serangan bom di tiga gereja di Surabaya, hari Minggu kemarin.
Hal itu dimaksudkan supaya jelas bahwa peristiwa di Surabaya tidak menyangkut komunitas agama tertentu.
"Yang diserang bukan hanya lembaga gereja, lembaga agama, tapi juga lembaga negara, khususnya kantor kepolisian. Sehingga jelas ini bukan masalah agama, tetapi masalah yang menyangkut Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Monsinyur Ignatius Suharyo dari Keuskupan Agung Jakarta dalam jumpa pers.
Ignatius juga menyerukan kepada masyarakat, khususnya para tokoh dan pemimpin, supaya tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingan apapun.










