Musala di halte bus Transjakarta: Apa komentar pengamat dan pengguna?

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Musala atau fasilitas salat di halte bus TransJakarta di kawasan Karet dan Glodok ditanggapi beragam.
Sejumlah pengguna bus TransJakarta menyambut penyediaan musala itu, namun pengamat transportasi menilai sebenarnya fasilitas tersebut tidak terlalu dibutuhkan untuk sebuah halte.
Seorang penumpang tampak tengah mengambil air wudu lalu salat ashar di musala di Halte Transjakarta di kawasan Karet Sudirman, yang lenggang pada Kamis (07/12) siang.
Penumpang tersebut, Rafid Firmansyah, mengaku penyediaan musala di halte TransJakarta memudahnya untuk menuaikan ibadah salat.
"Saya rasa memang wajib semua koridor ada musala, supaya kita terbantu, dulu belum ada, cukup bantu dan lebih diperbanyak lagi, " jelas dia.
Penumpang lain, Firman Nasarudin, mengaku sebelumnya ada musala di halte sulit untuk menjalankan salat terlebih jika harus menunggu bis dalam waktu yang cukup lama.
"Ada bagusnya kan nunggu (bus) bisa lama juga, ini saya belum dapat setelah setengah jam mau ke Ciputat. Kalau ada musala kan enak ya, bisa salat di sini, sebelumnya susah ya," kata dia.
Namun, bagi Rifka yang merupakan warga Jakarta Timur, fasilitas yang harus disediakan di halte bus TransJakarta bukan hanya musala, namun juga toilet dan mesin penyedia air minum.
"Seperti ada toilet umum, dan kalau bisa ada yang jual minuman di sekitar halte. Kadang kan kelamaan habis mau minum, ini kadang kelamaan kayak saya ini," kata dia.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Musala mungil itu merupakan fasilitas yang telah digunakan sejak 27 November lalu itu, dibangun atas usulan dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dengan alasan memudahkan pengguna transportasi untuk menunaikan salat terutama di waktu magrib.
"Pak Gubernur mengusulkan agar penumpang TransJakarta memiliki ruang ibadah sembari menunggu datangnya TransJakarta di halte," kata Direktur Utama PT TransJakarta, Budi Kaliwono kepada wartawan di Balaikota, Kamis (30/12) lalu.
Selain Halte Karet dan Glodok, PT TransJakarta mempertimbangkan untuk melengkapi halte lainnya dengan musala.

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Apakah musala ini merupakan fasilitas yang dibutuhkan dalam sebuah halte bus?
Ahli Transportasi dari Institute for Transportation and Development Policy, Yoga Adiwinarto, menilai fasilitas seperti musala di halte TransJakarta sebenarnya tak terlalu dibutuhkan.
"Jangan lupa Transjakarta itu kan berjalan di main corridor apalagi di Sudirman-Thamrin itu kan banyak gedung, yang punya masjid dan musala, selama di main road itu kan pasti haltenya dekat masjid," jelas Yoga.
Dia juga menilai sebagian besar halte bus TransJakarta hanya memiliki luas yang terbatas untuk menampung penumpang ketika menunggu dan turun dari bus.
"Fasilitas (musala) itu kan butuh tempat wudu, menempatkan sepatu itu kan hampir seluruh tempatnya untuk penumpang, agar bisa naik bis dan nunggu bus jadi hampir dipastikan space yang mungkin terpakai itu tak sedikit," jelas Yoga.
"Seperti di koridor 9, paling satu meter tidak sampai, jangan sampai membiaskan fungsi utamanya untuk mengangkut penumpang dengan cepat, fokuskan saja ke arah saja, halte diperbesar, jalurnya di seteril," jelas Yoga.
Namun, pihak TransJakarta dapat menyediakan peta di setiap halte yang mencantumkan masjid atau musala terdekat bagi penumpang yang membutuhkannya. Apalagi penumpang TransJakarta tidak menempuh waktu perjalanan yang lama seperti kereta api.
"Semua beda moda transportasi itu beda karakteristik, kalau memungkinan silakan saja boleh, tapi jangan sampai menganggu fungsinya, jangan sampai ini menjadi sebuah template, halte jakarta ga ada musalanya itu berarti halte yang salah, jadi jangan sampai memusingkan hal-hal yang seperti itu," jelas Yoga.

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Untuk fasilitas lain seperti toilet, Yoga juga menilai juga tak perlu disediakan di halte.
"Kecuali untuk karyawan, tapi saya sih menilai sebaiknya tidak ada ya karena kalau ada itu kan butuh perawatan, sebaiknya tidak ada saja daripada jorok," kata dia.
Berbeda dengan stasiun atau terminal yang memiliki ruang yang lebih luas, fasilitas musala dan toilet memungkinan untuk dibangun.
"Kereta ini kan diarahkan untuk long distance, kan orang-orang komuter ini kan juga jauh, ke Bogor, Depok dan lain-lain untuk mereka ada waktu yang harus hilang mau magrib dan tidak terkejar lagi," kata dia.
Selain musala mini, di sejumlah halte bus Transjakarta terutama di kawasan Sudirman-Thamrin dipasang spanduk ataupun poster yang berisi ajakan #ayosholat ataupun #mampirmagriban.
Selain di halte Karet, spanduk atau poster juga diberi keterangan tempat salat terdekat yang dapat digunakan pengguna bus Transjakarta.










