Kades di Jambi dan Kalteng bicara di KTT iklim di Bonn, apa yang diangkat?

Sumber gambar, Nabiha Shahab
Dua kepala desa (kades), masing-masing dari Jambi dan Kalimantan Tengah, berbicara di konferensi tingkat tinggi perubahan iklim di Bonn, Jerman, mengangkat dampak kebakaran lahan gambut.
Di paviliun Indonesia di KTT ini, keduanya juga membagi pengalaman bagaimana mengatasi kebakaran lahan gambut dan upaya-upaya pencegahan agar kebakaran serupa tak terjadi di masa mendatang.
"Kebakaran (lahan gambut) pada 2015 sangat mengganggu, dampaknya sangat buruk, terutama bagi perekonomian masyarakat dan juga mengganggu kesehatan dan pendidikan anak-anak," kata Tamin, kepala Desa Sungai Bungur, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi saat dihubungi BBC Indonesia.
"Akibat kebakaran, kegiatan pendidikan juga terpaksa harus dihentikan," kata Tamin.
Desa Sungai Bungur terletak di lahan gambut dan sering mengalami kebakaran sampai 2015. Berbagai upaya diambil sehingga kebakaran areal gambut tak terjadi lagi.
Di antaranya dengan menerapkan peraturan warga dilarang membuka lahan dengan cara membakar.
Langkah lain adalah mempertahankan tanaman lokal untuk menjaga ekosistem gambut, antara lain pisang, kedelai, padi, jagung, cabai, nanas dan beberapa tanaman lain.
Tamin menuturkan untuk mempertahankan areal adat maka warga tak boleh melakukan kegiatan mengambil kayu atau menguasai lahan walaupun untuk menanam palawija di wilayah hutan adat tersebut.
Disebutkan pula bahwa kendala restorasi adalah aktivitas perusahaan sawit dan perusahaan kayu hutan tanaman industri yang menggunakan lahan dalam skala besar.

Sumber gambar, Nabiha Shahab
Sementara itu, Yanto El Adam, kepada Desa Gogong, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, mengatakan bahwa kebakaran lahan sering terjadi pada 1997 hingga 2007.
Di Desa Gohong, sekitar 60% dari keseluruhan wilayah desa adalah lahan gambut.
Saat kebakaran terjadi pada 2015, tak kurang dari 300 hektare lahan terbakar.
Dampak kebakaran sangat terasa bagi masyarakat dan pada 2016 warga berinisiatif mengambil langkah-langkah untuk mencegah kebakaran.
Selain menerapkan aturan buka lahan tanpa bakar, warga membuat sekat-sekat kanal dan sumur bor, yang difasilitasi oleh Badan Restorasi Gambut dan Dinas Pertanian.
"Intinya upaya merestorasi gambut memang harus melibatkan semua pihak," kata Yanto.

Sumber gambar, Getty Images
Areal gambut yang pernah terbakar oleh warga desa ditanami pohon dan Yanto berharap dalam beberapa tahun ke depan lahan ini akan kembali hijau sepenuhnya.
Tamin dan Yanto termasuk di antara sekitar 18.000 pejabat pemerintah dari hampir 200 negara dan perwakilan organisasi yang hadir di KTT perubahan iklim 2017, yang berlangsung di Bonn, 6 hingga 17 November 2017.
Selama dua pekan para anggota delegasi berharap bisa menelurkan rincian dari kesepakatan yang dicapai dalam KTT di Paris pada 2015.
Ini adalah pertemuan penting pertama sejak Presiden Donald Trump mengumumkan rencana Amerika Serikat mundur dari kesepakatan Paris Juni lalu.
Banyak pihak yang kecewa dengan rencana pemerintah AS 'mempromosikan bahan bakar fosil sebagai solusi perubahan iklim', jelas wartawan lingkungan BBC, Matt McGrath, yang meliput KTT ini di Bonn.









