Australia akan tutup pusat penahanan pencari suaka Pulau Manus

manus

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Manus Regional Processing Centre saat ini dihuni 854 pria dan akan ditutup bertahap.

Australia sepakat menutup pusat penahanan pencari suaka kontroversial di Pulau Manus Papua Nugini.

Perdana Menteri Papua Nugini Peter O'Neill mengatakan dirinya telah bertemu Menteri Imigrasi Australia Peter Dutton di Port Moresby pada hari Rabu (17/08).

"Baik PNG maupun Australia sepakat pusat (Pulau Manus) akan ditutup," demikian isi pernyataan itu.

Mahkamah Agung Papua Nugini pada April lalu menemukan pendirian pusat pencari suaka dan pengungsi melanggar undang-undang dasar.

  • <link type="page"><caption> Bocoran dokumen ungkap siksaan di pusat tahanan pencari suaka Nauru</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/08/160810_dunia_suaka_nauru_bocoran" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Perahu pencari suaka masuki wilayah Australia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160504_dunia_pencari_suaka_pulau_kokos" platform="highweb"/></link>

O'Neill mengatakan pusat detensi di Pulau Manus yang saat ini dihuni 854 pria, tidak akan ditutup dengan cepat.

"Sejumlah kemungkinan ditawarkan dan diterapkan," kata O'Neill.

"Adalah penting proses ini tidak dilakukan tergesa-gesa tetapi diterapkan dengan hati-hati.

"Hal ini perlu memperhatikan kepentingan penduduk Papua Nugini dan kesejahteraan pencari suaka dan pengungsi," tambahnya.

Seperti diberitakan Reuters, Australia mengatakan dibutuhkan kebijakan untuk menghentikan para pencari suaka yang mempertaruhkan nyawa menempuh perjalanan yang berbahaya dengan perahu dari Indonesia ke Australian.

Ratusan orang pencari suaka meninggal dalam perjalanan ke Australia sebelum kebijakan untuk menahan mereka diterapkan.

Kesepakatan itu disambut oleh para kuasa hukum pengungsi.