Gadis Inggris yang tewas di Suriah 'rencanakan' pulang ke London

Kadiza Sultana

Sumber gambar, Metropolitan Police

Keterangan gambar, Kadiza Sultana bersama dua rekannya meninggalkan London pada awal 2015 untuk bergabung dengan ISIS di Suriah.

Kadiza Sultana, gadis London yang bergabung dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) di Suriah, berencana meninggalkan negara tersebut ketika "tewas akibat serangan udara".

Kadiza diyakini tewas ketika rumah tempat ia menetap di Raqqa hancur lebur terkena serangan udara, yang besar kemungkinan dilancarkan oleh militer Rusia pada Mei lalu.

Penelusuran yang dilakukan televisi Inggris ITV News mengungkapkan bahwa setelah tiba di Raqqa, Kadiza "kecewa dengan kenyataan yang ia hadapi" dan "ingin kembali ke Inggris".

  • <link type="page"><caption> Gadis London yang gabung ISIS 'tewas' di Raqqa</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/08/160812_dunia_gadis_inggris_isis.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Ibu dan empat anaknya dikhawatirkan sudah bergabung dengan ISIS</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150829_dunia_ibu_anak_isis.shtml" platform="highweb"/></link>

Dalam pembicaraan telepon, yang rekamannya didapat oleh ITV News, Kadiza mengungkapkan rasa khawatirnya.

"Saya tak merasa enak ... saya sangat takut," kata Kadiza melalui saluran telepon kepada keluarganya di London.

"Kalau ada apa-apa, maka habislah (saya)," katanya.

Sejak meninggalkan London pada Februari 2015 bersama dua rekannya untuk ke Suriah melalui Turki, keluarganya berupaya untuk membawanya pulang, dengan cara apa pun.

Rencana meninggalkan Suriah ini antara lain diatur dengan meninggalkan Raqqa, menyeberangi perbatasan Turki, dan menemui perwakilan keluarga di sana.

Namun pihak keluarga juga sadar kesulitan yang dihadapi Kadiza untuk kembali ke Inggris.

"Pihak keluarga pasti akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kembali anak mereka dari zona perang," kata Tasnime Akunjee, pengacara keluarga Kadiza kepada ITV News.

"Namun selalu ada risiko terburuk ketika seseorang berada di zona perang dan sayangnya sebelum kami membawanya pulang, kemungkinan terburuk itu terjadi," kata Akunjee.