Jenazah Marcos akan dipindahkan ke makam pahlawan

Sumber gambar, AP
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, sudah memberi persetujuan agar jenazah pendahulunya, Ferdinand Marcos, dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan di Ibu Kota Manila.
Jenazah mantan presiden yang digulingkan oleh revolusi rakyat tahun 1986 tesebut saat ini diawetkan dan bisa dilihat masyarakat umum di kampung halamannya, Batac.
Keputusan untuk memindahkan jasad Marcos ke TMP memicu kontroversi karena masa pemerintahan Marcos dikenal sarat dengan korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia.
- <link type="page"><caption> Filipina bunuh puluhan terduga pengedar narkoba</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/07/160711_dunia_filipina_narkoba" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Parlemen: Duterte resmi presiden terpilih Filipina </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160530_dunia_filipina_duterte" platform="highweb"/></link>
Presiden Duterte mengatakan pemindahan jenazah Marcos akan berlangsung bulan depan.

Sumber gambar, AP
Dia mengatakan unjuk rasa untuk menentang keputusannya diizinkan selama tidak menganggu pengguna jalan raya.
Juru bicara militer Filipina, Kolonel Benjamin Hao, mengatakan keluarga Marcos sudah mengunjungi pemakaman di kawasan Taguig, Manila, untuk memilih lokasi kuburannya dan melakukan persiapan awal.
- <link type="page"><caption> Rodrigo Duterte menyatakan menang pilpres Filipina </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160509_dunia_pemilu_filipina" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Presiden terpilih Filipina ingin terapkan lagi hukum gantung</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160515_dunia_filipina_duterte" platform="highweb"/></link>
Para pengkritik Marcos berpendapat tidak tepat untuk memberi tempat terhormat kepada mantan presiden yang dituduh bertanggung jawab atas pembunuhan ribuan orang, penyiksaaan, dan sejumlah penculikan yang sebagian masih belum terungkap.
Marcos dan istrinya, Imelda, memerintah Filipina selama 20 tahun lebih sebelum sekitar satu juta warga Filipina turun ke jalanan untuk menggulingkannya dalam aksi yang belakangan dikenal sebagai Revolusi Kekuatan Rakyat tahun 1986.
Dia meninggal dunia di tempat pengasingannya di Honolulu, Hawaii, pada 28 September 1989 karena gangguan ginjal, jantung, dan paru-paru.









