Pemerintah Venezuela sita dan ambil alih pabrik perusahaan AS

Menteri Tenaga Kerja Venezuela, Oswaldo Vera, mengatakan penutupan pabrik itu ilegal dan dibuka kembali “melalui tangan para pekerja”.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Menteri Tenaga Kerja Venezuela, Oswaldo Vera, mengatakan penutupan pabrik itu ilegal dan dibuka kembali “melalui tangan para pekerja”.

Pemerintah Venezuela menyatakan telah menyita dan mengambil alih sebuah pabrik milik perusahaan Amerika Serikat, Kimberly-Clark.

Perusahaan penghasil produk tisu dan popok itu menghentikan operasional di Venezuela lantaran tidak lagi bisa memperoleh bahan baku. Konsekuensinya, pabrik pun ditutup.

  • <link type="page"><caption> Ratusan perempuan Venezuela terobos perbatasan karena lapar </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/07/160706_dunia_venezuela_makan" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kekurangan pasokan gula, Coca-Cola hentikan produksi di Venezuela </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160524_majalah_cocacola_venezuela" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Pertama kali dalam 20 tahun, harga BBM di Venezuela naik</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160218_dunia_venezuela_bensin" platform="highweb"/></link>

Akan tetapi, Menteri Tenaga Kerja Venezuela, Oswaldo Vera, mengatakan penutupan pabrik itu ilegal dan dibuka kembali “melalui tangan para pekerja”.

Vera mengklaim ada hampir 1.000 pekerja memintanya untuk memulai kembali produksi.

“Kimberly-Clark akan melanjutkan produksi, kini melalui tangan para pekerja. Kami baru saja menyalakan mesin pertama,” kata Vera.

Menanggapi langkah tersebut, perusahaan Kimberly-Clark mengeluarkan pernyataan.

“Jika pemerintah Venezuela mengambil kendali fasilitas dan operasional Kimberly-Clark, mereka akan bertanggung jawab atas kesejahteraan para pekerja dan keberlangsungan aset fisik, peralatan, dan mesin-mesin.”

Demontrasi memprotes kekurangan bahan pokok menjadi pemandangan sehari-sehari di Venezuela selama beberapa bulan terakhir.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Demontrasi memprotes kekurangan bahan pokok menjadi pemandangan sehari-sehari di Venezuela selama beberapa bulan terakhir.

Sepanjang akhir pekan lalu, sejumlah perusahaan multinasional telah menutup atau mengurangi kinerja mereka di Venezuela dengan alasan kendali mata uang yang ketat, kekurangan bahan baku, dan inflasi yang menjulang.

Perusahaan yang mengurangi operasionalnya antara lain, General Mills dan Procter & Gamble.

Demontrasi memprotes kekurangan bahan pokok menjadi pemandangan sehari-sehari di Venezuela selama beberapa bulan terakhir.

Presiden Nicolas Maduro sebelumnya mengancam para pemilik pabrik akan dipenjara jika menghentikan produksi.

Namun, kubu oposisi menyalahkan Maduro atas ketidakbecusannya menangani ekonomi Venezuela dan berupaya menggelar referendum untuk melengserkannya.