Jenderal AS kunjungi Suriah secara diam-diam

Menurut Votel, kunjungan tersebut membuatnya yakin bahwa melatih kekuatan lokal untuk melawan ISIS adalah pendekatan tepat.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Menurut Votel, kunjungan tersebut membuatnya yakin bahwa melatih kekuatan lokal untuk melawan ISIS adalah pendekatan tepat.

Pemimpin militer AS untuk Timur Tengah diam-diam mengunjungi Suriah pada Sabtu (21/05), menurut pejabat berwenang.

Jenderal Joseph Votel, pemimpin Komando Pusat AS, menghabiskan 11 jam di Suriah utara.

Dia bertemu dengan penasihat militer AS dan pemimpin Kekuatan Demokratik Suriah (SDF) yang terdiri dari kekuatan pemberontak Kurdi dan Arab.

AS menginginkan kekuatan militer lokal untuk mengalahkan kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam atau ISIS yang menguasai wilayah-wilayah di negara tersebut.

Berbicara setelah kunjungan, Votel mengatakan bahwa melatih kekuatan lokal untuk melawan ISIS adalah pendekatan tepat.

"Saya meninggalkan tempat ini dengan kepercayaan diri yang meningkat akan kemampuan mereka dan kemampuan kami mendukung mereka. Saya rasa cara ini bekerja dan berhasil dengan baik," katanya.

  • <link type="page"><caption> Ledakan hebat di ladang gas ISIS seperti gempa bumi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160516_dunia_isis_gas.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> ISIS kuasai rumah sakit di kota Deir al-Zour</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160515_dunia_isis_rumahsakit.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kuburan massal ditemukan di kota bekas kekuasaan ISIS</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/04/160403_dunia_suriah_palmyra_kuburan_massal.shtml" platform="highweb"/></link>

SDF terdiri dari 25.000 tentara Kurdi dan sekitar 5.000 pejuang Arab.

AS menginginkan ada peningkatan pejuang Arab dalam satuan tersebut.

Komandan Arab yang berbicara pada wartawan dalam kunjungan mengatakan bahwa mereka membutuhkan bantuan lebih.

Wakil Komandan SDF Qarhaman Hasan mengatakan bahwa dia menginginkan kendaraan bersenjata, senjata mesin, pelontar roket dan mortar.

Menurutnya, SDF kini harus mengandalkan penyelundupan untuk mendapatkan senjata.

"Anda tak bisa mengelola kesatuan tentara dengan senjata selundupan," katanya.