Bakal calon presiden Filipina minta maaf terkait perkosaan

Sumber gambar, EPA
Bakal calon presiden Filipina, Rodrigo Duterte, meminta maaf terkait komentar tentang perkosaan dan pembunuhan misionaris Australia.
Rekaman video memperlihatkan Duterte meremehkan serangan terhadap Jacqueline Hamill saat terjadi pemberontakan penjara di Davao City pada tahun 1989.
Komentarnya menimbulkan kemarahan di Filipina.
- <link type="page"><caption> Data pemilih Filipina dibocorkan peretas</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/04/160411_dunia_filipina_pemilu" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Kekerasan bayangi pemilu Filipina</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2010/05/100510_philippinelectionupdate" platform="highweb"/></link>
Saat itu dia menjadi walikota tempat itu, dan Duterte mengatakan dia begitu cantik "wali kota harusnya yang pertama".
Pada mulanya dia mengatakan komentarnya hanyalah "obrolan laki-laki".
Tetapi dalam permintaan maafnya dia menegaskan, "Tidak ada keinginan untuk tidak menghormati wanita dan pihak-pihak yang menjadi korban kejahatan mengerikan ini."
"Kadang-kadang mulut saya tidak begitu baik," katanya lewat pernyataannya.
Duterte terkenal akan pidatonya yang kurang sopan, membesar-besarkan daya tarik seksualnya dan pernyataan yang panas, termasuk mengusulkan eksekusi massal orang-orang yang diduga melakukan kejahatan.
Dia menjadi terkenal sebagai politikus karena pendekatan yang keras dalam menangani kejahatan di Davao City, yang dipimpinnya selama 22 tahun.









