Mantan penasihat Putin meninggal karena 'pukulan di kepala'

Mikhail Lesin

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Lesin adalah bekas menteri media Rusia dan pernah mengepalai kelompok Gazprom-Media Holding yang berpengaruh.

Mantan bawahan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang ditemukan tewas tahun lalu di AS, meninggal karena pukulan ke kepala, menurut pihak berwenang.

Mikhail Lesin juga mengalami luka akibat pukulan benda tumpul di leher, bagian tubuh atas, lengan dan kaki, kata kepala pemeriksa medis Washington DC.

Jasad pria berusia 57 tahun itu ditemukan di hotel Dupont Circle pada November lalu.

Lesin adalah bekas menteri media Rusia dan pernah mengepalai kelompok Gazprom-Media Holding yang berpengaruh.

  • <link type="page"><caption> Putin 'mungkin setujui' pembunuhan eks mata-mata Rusia di London</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/01/160121_dunia_litvinenko" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kremlin tuntut bukti bahwa 'Putin korup'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/01/160126_dunia_putin_korup" platform="highweb"/></link>

Setelah kematiannya, anggota keluarga Lesin -seperti dikutip oleh media Rusia- menyatakan dia meninggal karena serangan jantung.

Untuk waktu lama, Lesin dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di media Rusia dan dalam koridor kekuasaan.

Masih dalam penyelidikan

Juru bicara polisi mengatakan kasus kematian Mikhail Lesin tetap diselidiki.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Juru bicara polisi mengatakan kasus kematian Mikhail Lesin tetap diselidiki.

Dia bekerja sebagai penasihat kepresidenan antara 2004 sampai 2009 saat membantu pembuatan saluran berita Russia Today (kini dikenal dengan nama RT).

Lesin mundur dari Gazprom-Media pada 2014. Saat mengenang Lesin, Presiden Putin menyebut dia memberi 'sumbangan besar' pada media Rusia.

Kepala pemeriksa medis tak memberikan komentar lebih jauh soal otopsi.

Sementara itu, menurut Washington Post, juru bicara polisi Dustin Sternbeck mengatakan kasus tersebut tetap dalam penyelidikan.

Dia menolak mengatakan apakah hasil otopsi berarti ada kejahatan yang dilakukan.

Juru bicara kementerian luar negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan Moskow kini mengharapkan 'klarifikasi dari Washington' dan data resmi yang relevan akan kemajuan proses penyelidikan.