Belgia tetapkan terdakwa keempat terkait serangan Paris

Brussels

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Terdakwa keempat yang tidak diungkapkan namanya ditangkap dalam penggerebekan hari Minggu.

Kejaksaan Belgia menyatakan bahwa tersangka keempat yang terkait dengan serangan mematikan di Paris, Jumat (13/11) pekan lalu, sudah didakwa.

Pria yang tidak diungkapkan namanya itu merupakan salah seorang dari 16 yang ditangkap dalam <link type="page"><caption> penggerebekan Minggu 22 November</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/11/151122_dunia_belgia_buru_banyak_tersangka" platform="highweb"/></link> sedang ke-15 lainnya sudah dibebaskan.

Sementara itu Perdana Menteri Belgia, Charles Michel, menegaskan tetap mempertahankan keadaan siaga tertinggi di ibukota Brussels dengan memperingatkan adanya 'ancaman dalam waktu dekat'.

Namun <link type="page"><caption> sekolah dan kereta bawah tanah -yang ditutup sejak akhir pekan-</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/11/151122_dunia_brussels_paris" platform="highweb"/></link> rencananya akan mulai dibuka kembali Rabu 25 November.

Sebuah pernyataan dari kejaksaan mengatakan tersangka keempat didakwa dengan 'berpartisipasi dalam kegiatan satu kelompok teroris dan dengan satu serangan teroris'.

Brussels

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Suasana di beberapa tempat di Brussels kosong karena keadaan siaga tertinggi.

Sedangkan dari lima orang yang ditangkap Senin (23/11) pagi, dua sudah dibebaskan namun 'penyelidikan lebih lanjut' dilakukan atas yang lainnya.

Mohammed Amri, 27 tahun, dan Hamza Attou, 20 tahun, sudah didakwa dengan membantu tersangka utama serangan Paris, Salah Abdeslam, yang masih buron.

Sedangkan terdakwa yang ketiga juga belum diungkapkan namanya.

<link type="page"><caption> Serangkaian serangan di Paris</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/serangan_paris" platform="highweb"/></link> -yaitu di beberapa restoran, aula musik, dan stadion sepak bola nasional- menewaskan sedikitnya 130 orang. Kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS mengaku berada di belakang serangan itu.