Pertemuan Obama dan Netanyahu di Washington

Presiden Barack Obama dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pertemuan pertama Presiden Obama dan PM Benjamin Netanyahu sejak kesepakatan nuklir Iran tercapai.

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan 'tidak akan menyerah' dalam upaya mencapai perdamaian di Timur Tengah.

Pertemuan keduanya merupakan yang pertama sejak memburuknya hubungan Washington dan Tel Aviv terkait <link type="page"><caption> kesepakatan internasional tentang program nuklir Iran.</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/04/150403_warga_iran_nuklir" platform="highweb"/></link>

Dalam kunjungannya ke Washington, Netanyahu juga mengupayakan peningkatan bantuan militer Amerika Serikat untuk keamanan Israel.

Sebelum pertemuan, Presiden Obama mengatakan ingin mencari tahu pemikiran dari mitranya tentang cara untuk meredakan ketegangan antara Palestina dan Israel.

Tepi Barat

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Kekerasan di lapangan antara Israel dan Palestina terus berlangsung.

Dia juga mengungkapkan keinginan agar kedua belah pihak kembali ke dalam 'jalur menuju perdamaian'.

Kekerasan antara kedua pihak terus berlangsung, antara lain dengan <link type="page"><caption> serangkaian insiden penikaman. </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151015_dunia_israel_palestina_penusukan" platform="highweb"/></link>

Dalam insiden terbaru Minggu (09/11), enam warga Israel menderita cedera akibat serangan pisau warga Palestina dan sehari kemudian seorang pria Palestina yang mengarahkan pisau ke arah pasukan pengawal ditembak mati.

Sementara Netanyahu menyatakan tetap memiliki komitmen atas solusi dua negara.

"Saya tetap berkomitmen atas pandangan perdamaian dua negara untuk dua rakyat, satu negara demilitarisasi Palestina yang mengakui negara Yahudi," tuturnya.

Hubungan kedua negara sempat memburuk karena Israel menentang keras kesepakatan sejumlah negara-negara, termasuk Amerika Serikat, dengan Iran yang bersedia membatasi pengembangan program nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.