Israel desak Palestina untuk berunding

Sumber gambar, EPA
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak pemimpin Palestina Mahmoud Abbas untuk mengadakan perundingan demi menenangkan gelombang kekerasan yang terjadi belakangan ini.
Netanyahu mengatakan dia "sangat terbuka" untuk pertemuan yang "mungkin bermanfaat."
Dia juga membela pengerahan pasukan keamanan besar-besaran di Yerusalem menyusul rentetan serangan penikaman oleh warga Palestina.
Serangan yang terjadi hampir setiap hari itu telah mengakibatkan tujuh warga Israel tewas dan lusinan terluka selama dua minggu terakhir.
Sejumlah penyerang termasuk dalam 30 warga Palestina yang tewas dalam kekerasan baru-baru ini.
Abbas tak bersedia
Ketegangan antara Israel dan Palestina dipicu oleh bentrokan di Yerusalem, di Tepi Barat, dan di seberang perbatasan Gaza, serta oleh rangkaian penikaman warga.
"Sekarang kita bisa berbicara, kita bisa bertemu - saya tidak punya masalah dengan itu - dan kami akan segera menghentikan gelombang hasutan dan serangan terhadap Israel," kata Netanyahu dalam konferensi pers pada hari Kamis (15/10)

Sumber gambar, ISRAEL GOVT PRESS OFFICE
Namun, ia melanjutkan, "Saya bersedia untuk bertemu dengannya (Presiden Abbas) tetapi ia tidak bersedia bertemu dengan saya."
Pemimpin Israel itu mengatakan ia juga bersedia untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan Raja Abdullah dari Yordania untuk melakukan pembicaraan demi meredakan ketegangan.
Palestina sebelumnya telah mengatakan mereka tidak akan kembali mengadakan perundingan kecuali jika Israel menghentikan pembangunan permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Israel telah membangun lebih dari 100 permukiman di Tepi Barat dan Jerusalem Timur sejak menduduki wilayah itu pada perang Timur Tengah tahun 1967. Pemukiman itu dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional, meskipun Israel menyangkalnya.
Netanyahu juga mengecam Abbas yang dituduhnya telah menghasut kekerasan dan berbohong tentang Israel yang berusaha mengubah status quo di sebuah kompleks suci di Yerusalem Timur, yang dikenal orang Yahudi sebagai Temple Mount dan oleh kalangan Muslim sebagai Haram al-Sharif.
Info tak akurat
Mahmoud Abbas pada Rabu (14/10) menuduh Israel <link type="page"><caption> menggunakan kekuatan yang berlebihan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151014_dunia_israel_jerusalem" platform="highweb"/></link> terhadap warga Palestina.
Dia mengatakan Israel melakukan "eksekusi anak-anak kami dengan darah dingin", menyoroti kasus seorang anak Palestina berumur 13 tahun,<link type="page"><caption> Ahmed Manasra, yang tertabrak mobil </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151015_dunia_israel_palestina_penusukan" platform="highweb"/></link>setelah dia dan seorang remaja berumur 15 tahun menikam dua orang Israel pada hari Senin (12/10)
Netanyahu menolak tuduhan itu, menyebutnya " kebohongan besar " di konferensi pers pada hari Kamis, beberapa jam setelah pemerintah Israel merilis video dan foto yang menunjukkan anak itu masih hidup di sebuah rumah sakit Israel.

Sumber gambar, AFP
Pejabat Palestina Saeb Erekat kemudian mengatakan bahwa Abbas telah menerima informasi yang tidak akurat tentang kondisi anak itu, seperti dilansir kantor berita AFP.
Polisi Israel pada hari Rabu mulai mendirikan pos-pos pemeriksaan di bagian Yerusalem Timur yang dihuni mayoritas Arab, termasuk salah satu kawasan tempat bermukimnya tiga orang Palestina yang melakukan serangan terhadap Israel minggu ini.
Hak mukim dicabut
Kabinet Israel sebelumnya telah memberi wewenang kepada polisi untuk menutup atau memberlakukan jam malam di beberapa bagian kota, dalam upaya untuk menghentikan "orang-orang yang berusaha membunuh... dan semua orang yang membantu mereka".
Kabinet juga mengumumkan bahwa rumah <link type="page"><caption> penyerang Palestina akan segera dihancurkan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151013_dunia_israel_jerusalem" platform="highweb"/></link> dan bahwa hak keluarga mereka untuk tinggal di Yerusalem akan dicabut.

Sumber gambar, Reuters
Abbas mengatakan pada hari Rabu bahwa langkah keamanan Israel bisa "memicu konflik agama yang akan menghancurkan semuanya".
Human Rights Watch juga telah mengutuk langkah-langkah Israel itu, dengan mengatakan mereka melanggar hak kebebasan bergerak semua warga Palestina.
Tapi Netanyahu membela tindakan Israel, mengatakan bahwa pemerintah menggunakan kekuatan yang sah. Setiap negara akan melakukan hal yang sama untuk menangani "orang yang memegang pisau, pisau daging, kapak, dan berusaha untuk membunuh orang di jalan-jalan," katanya.









