Australia batalkan pengecekan visa karena protes

Sumber gambar, epa
Pengumuman Badan Perbatasan Australia (ABF) bahwa mereka akan memeriksa visa di jalan-jalan di kota Melbourne mendapat protes keras.
ABF mengatakan petugas mereka akan memeriksa keabsahan visa sebagai bagian dari pemberantasan kejahatan yang melibatkan beberapa lembaga.
Namun rencana ini menimbulkan reaksi keras di sosial media, terutama kekhawatiran akan adanya pelecehan dan tindakan rasisme.
Kepolisian negara bagian Victoria kemudian mengumumkan pembatalan operasi yang disebut 'Operation Fortitude' itu.
Rencana untuk mengadakan konferensi pers soal ini juga dibatalkan menyusul kerumunan orang di pusat kota Melbourne yang mengecam keras rencana operasi itu.
Pernyataan dari ABF menyebut, "tim gabungan dari bermacam-macam lembaga" akan beroperasi di Melbourne pada Jumat dan Sabtu malam.
Batal

Sumber gambar, epa
"Petugas akan ditempatkan di berbagai lokasi di pusat kawasan bisnis, bicara dengan orang-orang yang mereka temui," kata komandan regional Don Smith.
"Anda perlu sadar terhadap kondisi visa Anda; jika Anda memalsukan visa, Anda harus tahu bahwa hanya soal waktu sebelum Anda tertangkap."
Rencana itu itu tersebar di sosial media seperti api di padang rumput, dan segera ada seruan untuk melakukan protes di luar stasiun kereta Flinders Street.
ABF lantas mengeluarkan "pernyataan penjelasan" mengenai rencana itu, "Kami tak akan 'menghentikan orang secara acak' di Melbourne untuk 'mengecek keabsahan dokumen orang-orang seperti dilaporkan di media."
Polisi kemudian membatalkan rencana operasi gabungan itu.
Pemerintah federal Australia menghabiskan uang Aus$10 juta (sekitar Rp100 miliar) untuk merancang ulang ABF dengan pencitraan yang lebih tangguh, media lokal melaporkan.
Diantaranya termasuk seragam bergaya militer, logo di bandara dan pembangunan pusat penahanan.











