PM Jepang 'sesalkan' penderitaan selama Perang Dunia II

Sumber gambar, AP
Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, menyatakan penyesalan terhadap "penderitaan dan pengorbanan banyak orang" yang diakibatkan oleh tindakan Jepang selama Perang Dunia Kedua.
Ini disampaikan Abe dalam pidato peringatan 70 tahun menyerahnya Jepang di PD II, yang banyak ditunggu-tunggu terutama oleh Korea Selatan dan Cina.
Abe juga menyatakan "penyesalan yang tulus" terhadap kaum perempuan yang kehormatannya direnggut selama perang.
Ia menyatakan bahwa Jepang harus memastikan bahwa konflik seperti itu tak akan terjadi lagi.
Pidato ini ditunggu oleh Cina dan Korea Selatan yang menderita di bawah pendudukan Jepang.
Mereka berharap Abe tidak melemahkan pidato PM Murayama di tahun 1955 yang menyatakan "permintaan maaf yang tulus" dan "penyesalan mendalam" untuk "pemerintahan kolonial dan agresi" Jepang selama Perang Dunia Kedua.
Penantian

Sumber gambar, AP
Pernyataan Murayama ini diulangi lagi 10 tahun kemudian oleh PM Junichiro Koizumi.
Cina secara khusus menanti apakah akan ada pertanyaan seputar pembantaian di Nanjing yang -menurut Cina- menewaskan 300.000 orang.
Sementara Korea Selatan menunggu permintaan maaf soal perempuan Korea yang jadi 'budak seks' selama PD II.
Sebelum pidato ini, Abe dilaporkan menginginkan Jepang yang "memandang ke depan" dan menegaskan berkembangnya perdamaian di Jepang dan peran sentral mereka di panggung dunia.
Di sisi lain, Abe juga di tengah tekanan untuk menghindari kemarahan Cina dan Korea Selatan -sekutu regional yang penting buat Jepang- sekaligus juga tekanan dari kaum nasionalis yang semakin tak nyaman dengan diulanginya pernyataan maaf untuk keputusan Jepang terlibat dalam PD II.
Pidato ini disampaikan beberapa pekan setelah majelis rendah Jepang menyetujui <link type="page"><caption> perubahan konsitusi yang mengizinkan Jepang mengirim tentaranya ke luar negeri</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/07/150715_dunia_jepang_militer.shtml" platform="highweb"/></link>.
Perubahan ini adalah untuk pertama kalinya terjadi sejak Perang Dunia Kedua.












