Di tengah ketegangan terkait suku Uighur, Erdogan tiba di Cina

Saat Ramadhan lalu, berbagai aksi anti Cina meletus di Turki, terkait kabar dilarangnya suku Uighur berpuasa

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Saat Ramadhan lalu, berbagai aksi anti Cina meletus di Turki, terkait kabar dilarangnya suku Uighur berpuasa

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tiba di Cina untuk kunjungan kenegaraan yang diarahkan untuk berfokus pada hubungan ekonomi, namun akan diwarnai pembahasan soal perlakuan terhadap suku Uighur.

Ia membawa serta sekitar 100 pemimpin bisnis dan investor. Sejauh ini hubungan dagang antara kedua negara mencapai sekitar 24 juta dolar per tahun.

Namun, seperti dilaporkan wartawan BBC John Sudworth, pembicaraan-pembicaraan Erdogan dengan para pemimpin Cina akan juga membahas meningkatnya ketegangan kedua negara terkait perlakuan Cina terhadap suku minoritas Uighur yang sebagian besar beragama Islam.

Beberapa waktu lalu, di Turki meruyak sejumlah demonstrasi di Istanbul dan Ankara muncul sejumlah demonstrasi anti Cina yang sebagian berujung kekerasan. Demonstrasi-demonstrasi itu dipicu laporan yang menyebutkan bahwa suku Uighur -minoritas Muslim yang memiliki kaitan budaya dan bahasa dengan Turki- dilarang menjalankan puasa di bulan Ramadhan lalu.

Saat itu, bahkan kementerian luar negeri Turki menyampaikan pernyataan resmi, antara lain menyebutkan, "rakyat kami sangat sedih terkait kabar bahwa kaum Uighur Turki di provinsi Xinjiang telah dilarang menjalankan puasa dan kewajiban-kewajiban agama lainnya."

Kementerian luar negeri Cina saat itu membantah, dan menyebut bahwa kabar itu tak berdasar sama sekali.

Agenda lain menyangkut aspek militer. Turki kemungkinan mengupayakan lagi pembelian sistem rudal jarak jauh Cina, terkait krisis perbatasan Turki dengan Suriah akibat menguatnya kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS yang terus berusaha menguasai kawasan Suriah di perbatasan, serta gempuran baru Turki terhadap pemberontak Turki Kurdi PKK, Turki.

Rencana pembelian sistem rudal Cina ini sudah muncul sejak lama, dan beberapa kali kesepakatannya hampir terjadi dan beberapa kali batal. Sementara negara-negara anggota NATO lain -Turki adalah negara anggota NATO- juga menyatakan kecemasannya.