AS dan Turki akan bentuk 'zona bebas ISIS' di Suriah

Amerika Serikat dan Turki akan bekerjasama dalam sebuah rencana militer untuk menumpas kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS dari beberapa bagian Suriah utara, ungkap seorang pejabat AS.
Menurut mereka, 'zona bebas ISIS' dimaksudkan untuk menjamin stabilitas keamanan di sepanjang perbatasan Suriah-Turki.
Pembicaraan ini menandai perubahan besar dalam pendekatan Turki terhadap ISIS dalam beberapa hari terakhir.
Turki, yang selama ini enggan untuk terlibat dalam urusan Suriah, telah melancarkan serangan terhadap ISIS dan mengizinkan pesawat jet Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer mereka.
Serangan militer Turki itu telah menimbulkan ketegangan dengan milisi Kurdi yang memerangi ISIS di Suriah utara.
Senin lalu, Unit Perlindungan Masyarakat Kurdi (YPG) mengatakan bahwa tank-tank Turki telah menggempur pejuang mereka dekat kota kunci Kobane.
Menurut Turki, mereka tengah menyelidiki klaim tersebut.
Kawasan bebas ISIS
Pada saat yang sama, Turki mengakui mereka telah melancarkan serangan pada kelompok militan Kurdi Turki yang berjuang membentuk negara sendiri, PKK, di Irak utara.
Sejak tahun 1984 Turki sudah bertempur dengan pemberontak PKK di wilayah mereka sendiri dalam konflik yang sudah menewaskan 40 ribu orang.
Turki juga menyatakan mereka tak punya rencana untuk mengirimkan tentara angkatan darat ke Suriah.
"Ini adalah upaya untuk mengalahkan, menghancurkan, melemahkan ISIS di Suriah utara. Dalam istilah lain, menciptakan kawasan yang bebas ISIS," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Mark Toner pada BBC.
Rincian lebih jauh tentang upaya AS dan Turki untuk menciptakan kawasan penyangga di utara Suriah didapat dari pejabat anonim yang diwawancara oleh media AS.
Dalam persetujuan yang masih sedang dituntaskan, milisi akan dihalau dari kawasan sepanjang 109 km di barat Sungai Eufrat, menurut Washington Post.
Perjanjian semacam ini akan, secara signifikan, meningkatkan jangkauan AS dalam memimpin serangan udara melawan ISIS di utara Suriah, lanjut laporan koran tersebut.
Di sisi lain, rencana ini juga dapat meningkatkan ketegangan antara pejuang Kurdi, seperti YPG, yang menguasai sebagian besar utara Suriah dan dilawan oleh serangan militer Turki.
Protes Kurdi
Pada Senin (27/7), YPG mengatakan pasukannya telah diserang oleh Turki pada Minggu malam di desa Zormikhar yang dikuasai Kurdi, barat Kobane.
Menurut mereka, salah satu kendaraan mereka juga "mendapat serangan berat dari militer Turki di timur Kobane".

Sumber gambar, EPA
Jika klaim ini benar, maka akan memperumit masalah dengan koalisi melawan ISIS karena kekuatan Barat bekerjasama dengan Kurdi Suriah melawan kelompok jihad, kata Mark Lowen dari BBC di Istanbul.
Pejabat Turki mengatakan bahwa operasi militer terbarunya bertujuan untuk "menetralisir serangan terhadap keamanan regional Turki" dan menyasar ISIS di Suriah dan PKK di Irak.
Kekuatan Kurdi di dalam Suriah, menurutnya, "berada di luar jangkauan serangan militer sekarang ini".
Sementara itu NATO tengah mempersiapkan pertemuan darurat pada Selasa untuk membahas situasi ini.
Lebih dari 1000 orang sudah ditahan dalam operasi melawan kelompok militan tersebut sejak pekan lalu, kata Perdana Menteri Ahmet Davutoglu. Dia tak mengatakan berapa orang yang dituduh sebagai pejuang PKK dan berapa yang merupakan pasukan ISIS.












