Presiden Omar al-Bashir sudah pulang ke Sudan

President Omar al-Bashir,

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, President Omar al-Bashir disambut para pendukungnya saat tiba di Bandara Khartoum.

Presiden Sudan, Omar al-Bashir, sudah kembali pulang ke negaranya dari Afrika Selatan, melawan upaya untuk membawanya ke Mahkamah Kejahatan Internasional, ICC.

Dengan mengenakan pakaian tradisional warna putih, Bashir melambai kepada pendukungnya saat ke luar dari pesawat di Bandara Khartoum dan berteriak 'Allahu akbar'.

Hari Minggu (14/06), <link type="page"><caption> pengadilan Afrika Selatan mengeluarkan surat perintah guna menghentikannya</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150614_dunia_sudan_bashir" platform="highweb"/></link> meninggalkan negara itu sampai ada keputusan pengadilan untuk menyerahkan dia ke ICC atau tidak.

Pria yang antara lain didakwa dengan kejahatan perang ini berada di Afrika Selatan untuk menghadiri pertemuan puncak Persatuan Afrika, AU.

Seorang pejabat ICC mengatakan kegagalan dalam menangkap Presiden Bashir mengecewakan namun tetap yakin suatu saat dia akan diadili.

Presiden Omar al-Bashir

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, ICC antara lain mendakwa Presiden Omar al-Bashir dengan pembunuhan massal pada masa konflik Darfur.

"Kami masih tetap optimistis dan bertekad untuk melihat keadilan ditegakkan dalam kasus ini," kata wakil jaksa penuntut ICC, James Stewart, kepada BBC.

Menteri Luar Negeri Sudan, Ibrahim Ghandour, menepis upaya untuk menangkap Presiden Bashir sebagai tindakan 'dungu dan tidak bermakna'.

Pengadilan Tinggi Pretoria sebelumnya memerintahkan Bashir harus tetap berada di Afrika Selatan sampai Senin 15 Juni, menunggu keputusan pengadilan apakah dia diserahkan ke ICC.

Dia didakwa dengan kejahatan perang, kejahatan atas kemanusiaan, dan pembunuhan massal pada masa konflik di Darfur.

Amerika Serikat sudah mengungkapkan kekecewaannya atas Afrika Selatan dengan mengatakan sejumlah tindakan mestinya diambil atas Presiden Bashir.