Dokter Korsel abaikan karantina MERS

Sumber gambar, AP
Seorang dokter Korea Selatan mengabaikan perintah untuk menjauhi publik setelah terjangkit virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dari salah satu pasiennya.
Sejumlah pejabat pemerintah Korsel mengatakan dokter itu menunjukkan gejala-gejala MERS pada Minggu (31/05) dan diperingatkan untuk menghindari kontak fisik dengan orang lain.
Akan tetapi, dokter itu tetap bekerja dan menghadiri rapat yang melibatkan lebih dari 1.500 orang.
Koresponden BBC di Korea Selatan, Steve Evans, mengatakan kini muncul kekhawatiran bahwa dokter itu telah menyebarkan penyakit itu secara massal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun BBC, pejabat-pejabat di Seoul menghadapi dilemma. Pada satu sisi mereka tidak ingin terlalu banyak melansir informasi karena bisa menyebabkan kepanikan.

Sumber gambar, AP
Sedangkan, di sisi lain, sedikitnya arus informasi bisa memicu penyebaran rumor dan ketakutan tanpa alasan. Wali Kota Seoul Park Won-Soon secara terang-terangan mengkritik pemerintah pusat karena tidak memberikan informasi lebih.
Dalam suasana ketidakpastian, masyarakat bereaksi dengan membeli masker wajah.
Kemudian <link type="page"><caption> lebih dari 700 sekolah-sekolah di Korea Selatan telah ditutup</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/06/150603_dunia_mers_korsel" platform="highweb"/></link> sejak merebaknya wabah MERS.
Sampai saat ini jumlah pasien di Korsel yang terjangkit virus MERS mencapai 41 orang. Adapun korban meninggal dunia secara keseluruhan mencapai empat orang.
Korban keempat adalah seorang pria berusia 76 tahun yang meninggal pada Kamis (04/06) setelah dinyatakan positif mengidap virus MERS bulan lalu.
MERS dapat menyebabkan demam, gangguan pernapasan, pneumonia dan gagal ginjal. Virus MERS memiliki tingkat kematian hingga 27%, menurut Organisasi Kesehatan Dunia.










