Jerman protes hukuman mati untuk anggota Ikhwanul Muslimin

Merkel dan Sisi

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Kanselir Merkel dalam keterangan pers mengatakan pemerintah Jerman tidak setuju soal hukuman mati yang dijatuhkan pemerintah Mesir.

Pemimpin Jerman, Angela Merkel, mempertanyakan kebijakan Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, yang menjatuhkan hukuman mati kepada para anggota gerakan Ikhwanul Muslimin.

Pernyataan ini ia sampaikan saat menerima kunjungan Presiden Sisi di Jerman, hari Rabu (03/06).

Kanselir Merkel menyebut Mesir sebagai negara penting di kawasan dalam upaya memerangi terorisme, namun juga menegaskan tentang ketidaksetujuan pemerintah Jerman atas penetapan hukum mati secara meluas.

"Ada beberapa perbedaan pendapat di antara kami ... yang mencakup penetapan hukuman mati kepada orang-orang, bahkan ketika mereka didakwa melakukan atau terlibat terorisme," kata Kanselir Merkel.

Menanggapi pernyataan Angela Merkel, Presiden Sisi mengatakan bahwa demokrasi mengajarkan penghormatan atas pendapat-pendapat yang berbeda.

"Anda punya pendapat, yang tentu kami hormati, dan kami juga punya pendapat sendiri, yang perlu Anda hormati," kata Presiden Sisi.

Ia menambahkan beberapa vonis mati bisa diperingan jika terdakwa bersedia hadir di pengadilan.

Kunjungan ini dinilai kontroversial antara lain karena President Norbert Lammert mengatakan bulan lalu bahwa dirinya tidak akan menemui Sisi ketika melawat ke Jerman.

Lammert menyebut vonis mati yang dijatuhkan pemerintah pimpinan Sisi "sangat tidak wajar".

Banyak tokoh dan anggota Ikhwanul Muslimin dijatuhi hukuman mati, <link type="page"><caption> termasuk mantan Mohammed Morsi</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/05/150517_dunia_morsi_reax.shtml" platform="highweb"/></link>, presiden yang digulingkan Sisi pada Juli 2014.