Jurang kekayaan negara anggota OECD makin lebar

Sumber gambar, AFP
Jurang kemakmuran antara penduduk kaya dan miskin di negara-negara maju anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat rekor baru.
Di hampir seluruh dari 34 negara anggota OECD, jurang pendapatan mencapai tingkat tertinggi selama tiga dekade, dengan 10% penduduk terkaya berpenghasilan 9,6 kali lipat pendapatan dari 10% penduduk termiskin.
Pada dekade 1980-an, angka ini adalah 7 banding 1.
Kini, jurang kemakmuran makin tinggi tinggi dengan 1% penduduk terkaya menguasai 18%, sedangkan 40% hanya menguasai 3% saja dari keseluruhan kekayaan rumah tangga pada tahun 2012.
Kesenjangan gender juga terjadi, di mana upah untuk perempuan 15% lebih rendah ketimbang laki-laki.
Titik kritis
"Kita mencapai titik kritis. Kesenjangan ekonomi di negara-negara OECD telah mencapai tingkat tertinggi sejak pencatatan ini dilakukan," kata Sekretaris Jendral OECD Angel Gurria.

Kajian yang dilakukan OECD ini juga menemukan peningkatan kesenjangan di 19 negara menghentikan laju pertumbuhan di tingkat 4,7% antara tahun 1990-2010.
Meningkatnya pekerjaan paruh waktu dan kontrak kerja jangka pendek dan wirausaha dipandang sebagai faktor pendorong peningkatan kesenjangan ini.
Sekitar separuh dari pekerjaan yang muncul di negara-negara OECD antara 1995-2013 termasuk dalam kategori pekerjaan ini.
Laporan ini juga menemukan peningkatan kesenjangan dalam bentuk kejatuhan pencapaian pendidikan dan ketrampilan di antara anggota keluarga berpendapatan rendah.
Hal ini berakibat pada hilangnya potensi dan rendahnya mobilitas sosial.
Pilihan yang dianggap efektif untuk mengatasi ini adalah redistribusi lewat pajak dan transfer kekayaan, di mana OECD juga mencatat mekanisme untuk ini telah melemah di banyak negara.
Laporan ini mencatat kesenjangan di negara-negara anggota OECD tertinggi ada di Chile, Meksiko, Turki, Amerika Serikat dan Isreal; sementara yang terendah di Denmark, Slovenia, Slovakia dan Norwegia.









